Ini kali pertama ayah terbaring cukup lama. 18 hari. ‘Sesuatu yang aneh’ telah menghambat pergerakannya. Tak hanya itu, penyakit yang diid...
Ini kali pertama ayah terbaring cukup lama. 18 hari. ‘Sesuatu yang aneh’ telah menghambat pergerakannya. Tak hanya itu, penyakit yang diidap oleh banyak lelaki usia lanjut tersebut juga mampu merenggut keceriaan dan tawanya. Ketegaran yang biasanya melekat di wajah ayah sirna sudah. Berganti kabut yang menggelayut entah sampai bila.
Peristiwa itu terjadi pada momen Idul fitri, persis hari ketiga. Ayah mengeluh kalau ia susah buang air kecil. Kukatakan padanya, barangkali dikarenakan ia banyak merokok atau terlalu lelah. Ayah mengangguk-angguk. Sempat kutangkap gelagatnya yang menyiratkan protes. Aku tahu ia tak setuju. Ingin membantah namun ia tak cukup kuat menyusun kata macam apa yang harus dilontarkan untuk ‘melawanku’. Ya, kami memang acap berdebat sebab aku dan ayah telah sepakat untuk tidak sepakat, dalam berbagai hal.
Peristiwa itu terjadi pada momen Idul fitri, persis hari ketiga. Ayah mengeluh kalau ia susah buang air kecil. Kukatakan padanya, barangkali dikarenakan ia banyak merokok atau terlalu lelah. Ayah mengangguk-angguk. Sempat kutangkap gelagatnya yang menyiratkan protes. Aku tahu ia tak setuju. Ingin membantah namun ia tak cukup kuat menyusun kata macam apa yang harus dilontarkan untuk ‘melawanku’. Ya, kami memang acap berdebat sebab aku dan ayah telah sepakat untuk tidak sepakat, dalam berbagai hal.
Setelah pernyataanku membungkamnya seribu bahasa, ayah berlalu meninggalkanku sendirian.
Di luar sana matahari berangsur lenyap, membiarkan langit gelap dihujani bintang-bintang. Sementara ayah masih saja berbaring di ranjang, Aku tak tahu entah sudah berapa lama ayah menahan rasa sakitnya. Sementara aku enggan bertanya bukan karena tidak peduli, tapi berkomunikasi dengan ayah di tengah ‘masalah’ yang menderanya, hanya akan menambah kisruh. Diam adalah pilihan, sembari memikirkan solusi terbaik untuk mengatasi segala yang dihadapi.
Aku bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku termangu sembari memeluk lutut. Tak sadar mataku gerimis. Aku menangkupkan kedua tangan ke mulut, menahan tangis meratapi perosalan yang tak mampu kupecahkan. Tangisku tak boleh terdengar siapapun terutama ayah. Aku memang takut dengan segala kemungkinan yang datang, tapi aku lebih takut lagi jika melihat ayah terpuruk dalam kesedihan
Dari balik pintu kulihat ayah terbaring tak berdaya di ranjang. Tangan kiri memegang perut, tangan kanan ia letakkan di atas kepala. ‘Seperti inikah lelaki hebat itu?’ gumamku dalam hati.
Selang dan Tabung Kecil itu Bernama Kateter
Fajar menjelang, namun rasa sakit yang dirasakan ayah semakin hebat. Ba’da subuh kuputuskan memanggil mantri agar memeriksa keadaannya.
Pukul 7.30 pagi mantri sampai di rumah dan mulai memeriksa ayah. Setelah diperiksa, mantri memberikan resep, beberapa obat yang harus kubeli di apotik. “karena tidak ada keluhan batu atau kencing berpasir, dugaanku bapak terkena pembesaran prostat” ujarnya sambil melipat steteskop. Kemudian ia mulai mengeluarkan benda-benda asing dari dalam tas hitamnya, yang sebagian tak pernah kulihat sebelumnya. Botol berisi cairan lubrikan, selang, dan kantung yang terbuat dari plastik tebal. “kita pasang saja kateter, biar sedikit aman”, ujarnya.
Oke, namanya kateter. Sebuah nama yang tak asing, namun baru kali pertama kulihat. Mantri tersebut memasang kateter dengan lihai dan cekatan. Aku yakin ia sudah akrab dengan pasien berkateter.
“Sudah selesai” katanya sambil melepas sarung tangan. “Kita buka empat hari lagi, kalau belum ada perubahan, sebaiknya operasi”. Ia menyebut kata ‘operasi’ begitu santai seolah-olah bedah membedah perut manusia merupakan perkara remeh seperti membelah durian.
Ayah yang mendengar kata operasi, panik seketika. Wajahnya pucat pasi, giginya gemeretak menahan benci, dan ia mulai menggaruk-garuk kepala.
Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan karena sejauh ini keadaan ayah cukup baik. Sangat baik. Ia masih bisa berjalan, masih menyaksikan berita politik, dapat berbicara lugas dan tegas. Hanya saja ayah tak dapat beribadah seperti sebelumnya sebab ia terpaksa membawa kateter (kantung urin dengan selang kecil yang dimasukkan melalui uretra ke kandung kemih) bersamanya. Ia harus beristirahat panjang dari segala aktivitas.
Setidaknya ayah masih lebih baik ketimbang lelaki di kampungku yang bertahun-tahun menahan sakit karena kanker tiroid. Ayah masih lebih baik daripada perempuan tua sebatang kara yang ditinggal anak-anaknya setelah ia tak lagi mampu berjalan karena diserang asam urat.
Tetapi lelaki yang sudah melayari negara-negara asean selama 32 tahun ini merasa bahwa ia tak layak rebah oleh pembesaran prostat, sebuah kata ‘aneh’ yang baru saja didengarnya.
Ayah tak suka dikalahkan karena ia biasa memenangkan. Ayah tak suka takluk karena ia tangguh di medan juang. Ia gahar di darat, berjaya di lautan.
Lalu ketika pembesaran prostat memerangkapnya dalam ketakberdayaan, ayah marah. Ia kecewa. Ia terluka. Harga dirinya runtuh. Ia jatuh. Ia malu. Aroma putus asa menguar ke segala penjuru. Merambat ke sela-sela sendi, menyelinap di benang nadi. Ia terpasung oleh keadaan. Ingin marah, tapi tak tahu pada siapa kemarahan harus ia lampiaskan. Ingin berontak, tapi tak mengerti siapa dan makhluk macam apa yang sedang ia hadapi.
Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika aku berhasil memaksanya medical check up ke Rumah Sakit Umum Tengku Mansyur, Tanjungbalai. Ia tunjukkan sikap antipati, kesal, muak, murka, enggan, benci sebenci bencinya. Air mukanya menyedihkan, rambut acak-acakan, langkahnya gemetar, raut wajahnya menahan geram dan ia terlihat sangat emosional.
Kucoba mengajaknya berdebat soal politik, tema obrolan yang sangat ia gemari agar ia memiliki kasus penting untuk dibicarakan. Kujauhkan ia dari kabar negatif agar hati dan pikirannya tenang, kubangun benteng penjaga agat ia tetap berjarak dari kengerian, kecemasan dan segala prasangka. Kuajak ia ngobrol ringan tentang kejadian lucu meski aku memiliki selera humor yang payah. Tapi ayah bergeming.
Empat puluh menit kemudian medical checkup ayah sudah selesai. Hasilnya, dokter spesialis bedah memvonis ayah positif terkena pembesaran prostat.
Setelah aku menyelesaikan administrasi dan membayar biaya pengobatan, buru-buru ayah mengajakku pulang. Katanya ia bosan di rumah sakit walau hanya 3 jam saja. Kata ‘bosan’ yang keluar dari ayah bermakna: benci, marah, enggan. Fix! Kebencian ayah pada Rumah Sakit telah mengurat mengakar.
Sesampainya di rumah ayah segera mandi dan berganti baju. Ia makan sedikit saja, lalu meminum obat yang dianjurkan mantri, sesendok madu, dan sebutir kapsul herbal berisi ekstrak zaitun.
Ayah masih diam. Tapi aku tahu diamnya adalah efek dari perjalanan ke rumah sakit. Tapi aku cukup lega karena telah mengetahui perihal kondisi ayah.
Cepat sembuh ayah. Tetaplah tangguh, sabar, syukur dan ikhlas. Percayalah bahwa Ayah baik-baik saja, karena aku sangat optimis ayah baik-baik saja dan akan segera sembuh. Ayah harus segera pulih, tapi sementara ayah perlu sedikit bersabar menghadapi ujian yang diberikan Allah.
One thing you should to know, You are my hero, as always.
Di luar sana matahari berangsur lenyap, membiarkan langit gelap dihujani bintang-bintang. Sementara ayah masih saja berbaring di ranjang, Aku tak tahu entah sudah berapa lama ayah menahan rasa sakitnya. Sementara aku enggan bertanya bukan karena tidak peduli, tapi berkomunikasi dengan ayah di tengah ‘masalah’ yang menderanya, hanya akan menambah kisruh. Diam adalah pilihan, sembari memikirkan solusi terbaik untuk mengatasi segala yang dihadapi.
Aku bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku termangu sembari memeluk lutut. Tak sadar mataku gerimis. Aku menangkupkan kedua tangan ke mulut, menahan tangis meratapi perosalan yang tak mampu kupecahkan. Tangisku tak boleh terdengar siapapun terutama ayah. Aku memang takut dengan segala kemungkinan yang datang, tapi aku lebih takut lagi jika melihat ayah terpuruk dalam kesedihan
Dari balik pintu kulihat ayah terbaring tak berdaya di ranjang. Tangan kiri memegang perut, tangan kanan ia letakkan di atas kepala. ‘Seperti inikah lelaki hebat itu?’ gumamku dalam hati.
Selang dan Tabung Kecil itu Bernama Kateter
Fajar menjelang, namun rasa sakit yang dirasakan ayah semakin hebat. Ba’da subuh kuputuskan memanggil mantri agar memeriksa keadaannya.
Pukul 7.30 pagi mantri sampai di rumah dan mulai memeriksa ayah. Setelah diperiksa, mantri memberikan resep, beberapa obat yang harus kubeli di apotik. “karena tidak ada keluhan batu atau kencing berpasir, dugaanku bapak terkena pembesaran prostat” ujarnya sambil melipat steteskop. Kemudian ia mulai mengeluarkan benda-benda asing dari dalam tas hitamnya, yang sebagian tak pernah kulihat sebelumnya. Botol berisi cairan lubrikan, selang, dan kantung yang terbuat dari plastik tebal. “kita pasang saja kateter, biar sedikit aman”, ujarnya.
Oke, namanya kateter. Sebuah nama yang tak asing, namun baru kali pertama kulihat. Mantri tersebut memasang kateter dengan lihai dan cekatan. Aku yakin ia sudah akrab dengan pasien berkateter.
“Sudah selesai” katanya sambil melepas sarung tangan. “Kita buka empat hari lagi, kalau belum ada perubahan, sebaiknya operasi”. Ia menyebut kata ‘operasi’ begitu santai seolah-olah bedah membedah perut manusia merupakan perkara remeh seperti membelah durian.
Ayah yang mendengar kata operasi, panik seketika. Wajahnya pucat pasi, giginya gemeretak menahan benci, dan ia mulai menggaruk-garuk kepala.
Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan karena sejauh ini keadaan ayah cukup baik. Sangat baik. Ia masih bisa berjalan, masih menyaksikan berita politik, dapat berbicara lugas dan tegas. Hanya saja ayah tak dapat beribadah seperti sebelumnya sebab ia terpaksa membawa kateter (kantung urin dengan selang kecil yang dimasukkan melalui uretra ke kandung kemih) bersamanya. Ia harus beristirahat panjang dari segala aktivitas.
Setidaknya ayah masih lebih baik ketimbang lelaki di kampungku yang bertahun-tahun menahan sakit karena kanker tiroid. Ayah masih lebih baik daripada perempuan tua sebatang kara yang ditinggal anak-anaknya setelah ia tak lagi mampu berjalan karena diserang asam urat.
Tetapi lelaki yang sudah melayari negara-negara asean selama 32 tahun ini merasa bahwa ia tak layak rebah oleh pembesaran prostat, sebuah kata ‘aneh’ yang baru saja didengarnya.
Ayah tak suka dikalahkan karena ia biasa memenangkan. Ayah tak suka takluk karena ia tangguh di medan juang. Ia gahar di darat, berjaya di lautan.
Lalu ketika pembesaran prostat memerangkapnya dalam ketakberdayaan, ayah marah. Ia kecewa. Ia terluka. Harga dirinya runtuh. Ia jatuh. Ia malu. Aroma putus asa menguar ke segala penjuru. Merambat ke sela-sela sendi, menyelinap di benang nadi. Ia terpasung oleh keadaan. Ingin marah, tapi tak tahu pada siapa kemarahan harus ia lampiaskan. Ingin berontak, tapi tak mengerti siapa dan makhluk macam apa yang sedang ia hadapi.
Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika aku berhasil memaksanya medical check up ke Rumah Sakit Umum Tengku Mansyur, Tanjungbalai. Ia tunjukkan sikap antipati, kesal, muak, murka, enggan, benci sebenci bencinya. Air mukanya menyedihkan, rambut acak-acakan, langkahnya gemetar, raut wajahnya menahan geram dan ia terlihat sangat emosional.
![]() |
| Rumah Sakit Umum Tengku Mansyur, Tanjungbalai |
Kucoba mengajaknya berdebat soal politik, tema obrolan yang sangat ia gemari agar ia memiliki kasus penting untuk dibicarakan. Kujauhkan ia dari kabar negatif agar hati dan pikirannya tenang, kubangun benteng penjaga agat ia tetap berjarak dari kengerian, kecemasan dan segala prasangka. Kuajak ia ngobrol ringan tentang kejadian lucu meski aku memiliki selera humor yang payah. Tapi ayah bergeming.
Empat puluh menit kemudian medical checkup ayah sudah selesai. Hasilnya, dokter spesialis bedah memvonis ayah positif terkena pembesaran prostat.
Setelah aku menyelesaikan administrasi dan membayar biaya pengobatan, buru-buru ayah mengajakku pulang. Katanya ia bosan di rumah sakit walau hanya 3 jam saja. Kata ‘bosan’ yang keluar dari ayah bermakna: benci, marah, enggan. Fix! Kebencian ayah pada Rumah Sakit telah mengurat mengakar.
Sesampainya di rumah ayah segera mandi dan berganti baju. Ia makan sedikit saja, lalu meminum obat yang dianjurkan mantri, sesendok madu, dan sebutir kapsul herbal berisi ekstrak zaitun.
Ayah masih diam. Tapi aku tahu diamnya adalah efek dari perjalanan ke rumah sakit. Tapi aku cukup lega karena telah mengetahui perihal kondisi ayah.
Cepat sembuh ayah. Tetaplah tangguh, sabar, syukur dan ikhlas. Percayalah bahwa Ayah baik-baik saja, karena aku sangat optimis ayah baik-baik saja dan akan segera sembuh. Ayah harus segera pulih, tapi sementara ayah perlu sedikit bersabar menghadapi ujian yang diberikan Allah.
One thing you should to know, You are my hero, as always.


COMMENTS