Karena Manusia Yang Punya Alasan Untuk Hidup Akan Dapat Menanggung Setiap Cara Hidup

Dalam hal meraih impian, sejujurnya aku juga takut. Sama seperti orang-orang kebanyakan. Rasa takut ini mulai mengusik sejak 8 tahun b...


Dalam hal meraih impian, sejujurnya aku juga takut. Sama seperti orang-orang kebanyakan. Rasa takut ini mulai mengusik sejak 8 tahun belakangan. Ia acap hadir ketika aku ingin mencoba sesuatu, ia datang menyerang ketika aku ingin meraih ambisiku. Rasa takut membisikkan kengerian yang dapat membuatku mundur dan berhenti melangkah. Seperti misalnya: perjuanganku akan sia-sia, usahaku hanya buang-buang waktu, kekalahan selalu memayungi sosokku, aku akan disoraki kegagalan jika tak berhasil mengejar ambisiku, aku akan dikecewakan oleh panitia pelaksana acara/lomba karena korupsi, kolusi dan nepotisme adalah nama depan Indonesia, dan lain sebagainya. Lalu buat apa diteruskan? Gumamku di sela jarum jam yang berdentang.

Pada akhirnya segala bisikan kengerian tersebut membuatku gamang. Apakah perjuangan ini harus diteruskan atau dihentikan sebelum aku mencoba? Sayangnya, aku bukan Dinna yang dulu. Dinna yang menyukai tantangan, Dinna yang tak pernah mencemaskan apapun, Dinna yang selalu menikmati perjalanan sembari berseru-seru gembira, Dinna yang gemar mencoba hal-hal baru, Dinna yang keras kepala dan berhati baja, Dinna yang senantiasa merindukan proses dan menyinyiri setiap hasil: kalah maupun berhasil.

Mulanya aku memikirkan peluang yang datang dan berusaha meneguhkan hati, menguatkan semangat untuk meraihnya. Namun beberapa hari kemudian aku mulai merenungkan keputusan-keputusan yang akan kubuat. Hingga aku pun berubah pikiran. Aku tak lagi tertarik pada kesempatan yang datang di depan mata. Tak lagi menaruh minat pada sesuatu yang tadinya sangat aku inginkan. Aku duduk sambil menatap langit-langit malam tak berbintang. Mencermati diri sendiri lalu bergumam lirih ‘ah, sudahlah, toh besok masih ada kesempatan…’.

Namun masa depan adalah milik ketidakpastian. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi nanti. Tak seorangpun tahu tentang hari esok, berapa batas usia, atau apakah matahari masih akan bersinar. Lantas apa peduliku? Hari esok pasti ada. Begitupun dengan kesempatan berikutnya.Ujarku dengan pongah.

And im quit. Aku menyerah terhadap rasa takut dan menghentikan seluruh upaya yang telah kurancang sejak lama. Kupikir aku siap menghadapi dunia, ternyata aku tak cukup berani untuk keluar dari balik bulu-bulu kelinci. Aku terlalu nyaman dengan keadaan padahal aku tak pernah tahu berapa lama suatu keadaan akan senantiasa memelukku. Aku terbiasa dengan rutinitas hidup, tapi abai pada hukum kehidupan itu sendiri bahwa semua hal berubah, tak ada yang abadi.

Andai saja penganut mazhab epicurean ada di sekitarku, maka aku bisa bergabung dengan mereka, bersama-sama mematuhi filsafat pembebasan Epicurus yang salah satunya berbunyi ‘ketakutan itu mudah ditanggulangi’. Dengan begitu mungkin aku bisa leluasa mengambil keputusan, tak harus menimbang untung rugi, tak perlu merasa cemas memikirkan apa yang akan terjadi, dan nikmati saja segala yang menyenangkan karena moto seorang epicurean adalah ‘hidup untuk hari ini’.

Tapi aku tak hidup di era Helenisme, melainkan di zaman yang penuh persaingan, sebuah zaman yang mana semua penghuninya merasa diburu waktu, dikejar deadline. Aku harus bergerak agar hidup terus berjalan dan seimbang. Karena itu, jika aku menggenggam rasa takut erat-erat, maka kehidupan akan menghempasku ke dalam sekat paling gelap. Sementara di dalam sekat yang paling gelap itu, aku hanya bisa mematung memandangi orang-orang yang mengejar impian mereka, cita-cita mereka. Aku menangis meratapi kesempatan yang sengaja kuenyahkan. Aku tersedu sedan hingga bahuku terguncang diam-diam. Keesokannya aku mulai menyesali keputusanku karena tak berani melangkah. Aku merutuki kenaifanku sendiri dan meracau tentang betapa pengecutnya diri ini. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa kesempatan kemarin tak kuambil? Mengapa peluang itu aku buang begitu saja? Mengapa aku harus menyoal untung rugi, gagal atau sukses? Dan beribu mengapa memborbardir benakku.

Pengalaman adalah guru sekaligus pelajaran terbaik. Aku tak ingin menyesal dan meratapi kebodohanku. Aku tak ingin kembali ke titik itu, titik dimana aku patuh pada rasa takut dan memilih duduk di tepi ranjang sambil berselimut kecemasan sepanjang sisa usia. Barangkali di depan sana akan banyak rintangan menghadang, tapi aku harus teguh dan pantang meradang. Ketika aku berusaha meraih impian dan mengejar cita-citaku, alam bisa saja merentangkan kakinya untuk menjegalku agar jatuh tersungkur. Ketika aku berani mengambil kesempatan, alam bisa saja berspekulasi dengan menurunkan badai dan hujan hingga membuatku kebasahan. But whatever will be, will be. Letih ini sudah mencapai klimaksnya. Luka ini telah menyentuh batasnya. Aku mulai terbiasa. Aku akan membiarkan diriku kebal dengan segala kepahitan semacam itu dan membiarkan perasaanku larut bersamanya. C’est la vie. Aku memiliki harapan. Masih…

Memang,betapa meletihkannya perjalanan hidup ini. Terutama bagi mereka yang tak bisa bertahan dalam ‘permainan’ takdir, tak sanggup menghadapi garis nasib yang telah ditulis bahkan sebelum kaki menjejak bumi. Mereka mundur bahkan sebelum perjuangan dimulai, mereka layu sebelum berkembang.

Namun hukum alam mengatur semua umat manusia. Setiap proses alam seperti penyakit, kematian, kegagalan, kesuksesan, mengikuti hukum alam yang tak pernah lekang, dan tak ada yang bisa mengelak. Oleh sebab itu, seperti pesan yang selalu dipegang mazhab stoik, manusia harus belajar untuk menerima takdirnya karena tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Maka, mengeluh terhadap takdir yang sudah ditetapkan sang pemilik alam, merupakan sebuah kesia-siaan.

Karena itu aku berusaha menepis rasa takut untuk bergegas merancang cara. Bangkit, mengatur strategi, dan mulai menghitung langkah. Meski di kemudian hari aku terjatuh, gagal, terluka atau kecewa, aku tak peduli. Karena manusia yang punya alasan untuk hidup akan dapat menanggung setiap cara hidup, seberapapun kepedihan, sebesar apapun sakit, sesering apapun derita yang dialami dengan tidak melepas harapan.



Tag: hope, ambisi, filsafat, stoic, epicurus, harapan, hukum alam, hidup, 

COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: Karena Manusia Yang Punya Alasan Untuk Hidup Akan Dapat Menanggung Setiap Cara Hidup
Karena Manusia Yang Punya Alasan Untuk Hidup Akan Dapat Menanggung Setiap Cara Hidup
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNZvEBBjA19y2iJnnRv98GcyBav1zS-mYTgy0I1vn2lLi2ign_MuD8Hji9myFf02iI8korVqhirHE9pVOtA9mCe8Ch8sVXig8YsIlsqksLbHeahKKgEvEQW8xZQ_rwGl9yy4I2kH-hwVk/s640/Karena+Manusia+Yang+Punya+Alasan+Untuk+Hidup+Akan+Dapat+Menanggung+Setiap+Cara+Hidup.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNZvEBBjA19y2iJnnRv98GcyBav1zS-mYTgy0I1vn2lLi2ign_MuD8Hji9myFf02iI8korVqhirHE9pVOtA9mCe8Ch8sVXig8YsIlsqksLbHeahKKgEvEQW8xZQ_rwGl9yy4I2kH-hwVk/s72-c/Karena+Manusia+Yang+Punya+Alasan+Untuk+Hidup+Akan+Dapat+Menanggung+Setiap+Cara+Hidup.jpg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/09/karena-manusia-yang-punya-alasan-untuk.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/09/karena-manusia-yang-punya-alasan-untuk.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy