Andai Saya Gubernur DKI Jakarta

Gara-gara kata ‘pribumi’ yang terselip dalam pidato panjangnya di Balai Kota Jakarta, Anies Baswedan segera dihujani cacian, makian dan h...


Gara-gara kata ‘pribumi’ yang terselip dalam pidato panjangnya di Balai Kota Jakarta, Anies Baswedan segera dihujani cacian, makian dan hinaan oleh masyarakat, khususnya warga netizen. Tak kurang dari satu jam, berbagai meme dan bahasa-bahasa ‘ajaib’ tentang Anies dan ‘pribumi’ pun beredar di sosial media. Selain itu, Anies juga menjadi santapan empuk media yang langsung menjadikannya headline saat itu juga. Tak bisa dihindarkan, karena Anies pula nama Sandi Uno ikut terseret. Anies populer, bahkan sebelum genderang popularitas itu dibunyikan.

Dalam tulisan kali ini saya tak akan membahas maksud dan tujuan Anies menulis kata ‘pribumi’ dalam pidatonya, meski secara pribadi saya memiliki asumsi kenapa mantan menteri pendidikan era Jokowi ini memilih kata ‘pribumi’. Saya juga akan menghindarkan pembahasan definisi pribumi dan segala tafsir yang mengikutinya. Namun selayaknya warga yang hidup pada zone politicon, sempat merasakan gegap gempita partai politik dan hingar bingar kontestasi pemilihan umum, serta saat ini berkecimpung dalam dunia politik pula, membuat saya tertantang menulis pidato kemenangan seperti yang dilakukan para pembesar pada umumnya.

Jadi andai saya terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, hal-hal apa saja kiranya akan saya sampaikan pada seluruh pendukung, sahabat, relawan, simpatisan dan seluruh warga DKI Jakarta? Saya yakin momen sepenting itu tak hanya diramaikan oleh mereka-mereka yang berpihak, melainkan juga dihadiri penyusup, intelijen, serta awak media. Ketiga makhluk yang saya sebutkan ini tentu membuat saya ekstra hati-hati jauh-jauh hari, bahkan sesaat setelah Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga yang memiliki lisensi mengurusi tetek bengek pemilukada, mengumumkan hasil akhir penghitungan suara. Kendati ke-ekstra hati-hatian tersebut terusik oleh sekelumit perkara yang kelak akan menghinggapi jalannya roda pemerintahan di bawah kekuasaan saya.

Hal demikian bukannya tidak beralasan sebab sependek pengalaman hidup ini, saya mulai memahami bagaimana kejahilan merayap di balik berita kemenangan. Pertama penyusup. Mereka akan bergerilya mencari-cari borok baik yang tampak maupun tersembunyi. Tujuannya sederhana, sebagai ‘senjata’ yang suatu waktu akan ditembakkan ke udara. Agar suasana terasa berisik dan panik, agar gaduh dan mengaduh. Jika tidak menemukan keduanya, mereka akan terus menerus menggaruki tubuh mulus supaya meninggalkan koreng atau kudis, seperti ulah para oknum polisi lalu lintas yang sibuk menanyai: kenapa pentil kereta tidak bertutup, kenapa lampu motor saudara berwarna putih padahal lazimnya ia berwarna kuning, kenapa helm yang dikenakan sangat mahal dan lux tidak sesuai standar SNI, atau lebih ekstrem lagi: kenapa wajah ‘rakyat jelata’ seperti anda terlihat begitu bahagia sementara saya yang berseragam coklat ini harus melalui hidup underpressure, berdiri di bawah terik dan hujan dengan wajah yang diseram-seramkan supaya semua orang ketakutan? Yang terakhir, saya hanya bercanda karena itu usah diambil hati.

Kedua, Badan Inteligen. Institusi yang memiliki power tak terbatas, dikarunia sarana dan pra sarana yang lengkap, canggih dan mutakhir, diberi akses bebas ke lokasi yang ingin diselidiki atau orang yang ingin diamat-amati. Meski ia tunduk di bawah komando panglima tertinggi, tapi dapat dibayangkan seberapa luasnya jangkauan kekuasaan sebuah badan intelijen. Dengan kuantitas dan kapasitas seperti itu, tak sulit melacak informasi, rahasia dan keberadaan seorang individu. Tujuannya? Hanya BIN dan Tuhan yang paham cara kerja mereka dan untuk apa mereka melakukannya.

Ketiga, media massa. Secara teori media massa merupakan salah satu dari 4 pilar dalam sistem demokrasi. Ia berperan penting menjaga keutuhan dan kelangsungan sebuah negara bangsa. Dengan demikian ia harus berimbang, pantang memihak. Ia tak boleh tunduk pada pasar pun tak boleh takluk pada tirani. Namun karena awak media massa sebangsa manusia juga, maka ia butuh asupan makanan dan vitamin agar jantung tetap berdetak dan nafas tetap berdesah. Artinya teori berbanding terbalik dengan praktek di lapangan sehingga kita bisa mendapati berita yang mengada-ada atau diada-adakan. Kegiatan yang diamati oknum pers dengan seksama dan dilaporkan ke khalayak luas secara terus menerus ini, acapkali dibingkai berbagai analisis dari yang biasa hingga yang seram. Tujuannya bukan lagi sebagai corong informatif yang menyuarakan kebenaran dan keadilan melainkan memburu oplah atau klik bait.

Sebelum berorasi, tentu saya punya banyak waktu menulis atau mengarang teks yang akan saya sampaikan nantinya. Sebab itu saya tak ingin bertindak gegabah yang hanya dapat memerosotkan harga diri dan kewibawaan. Sementara itu saya juga menyadari tidak semua kerumunan masa tersebut berasal dari kalangan terdidik, kaum intelektual, masyarakat biasa namun sangat vokal dan kritis karena banyak membaca, atau tiga makhluk ‘unggul’ seperti yang sudah saya terangkan di atas. Kerumunan di depan saya bisa berjenis apa saja. Apa saja, termasuk para dedemit yang menyeringai, dan hantu-hantu yang menunggu sembari cekikikan di sudut ruangan.

Kemudian atas nama kewaspadaan, kalimat macam apa yang akan saya lontarkan dihadapan seluruh umat yang rela (maupun terpaksa karena alasan pekerjaan) berjejalan menyambut saya di Balai Kota Jakarta?

---

Saya akan mengawalinya dengan senyuman. Ya, saya akan tersenyum dan melambai-lambaikan tangan ke arah kamera, juga pada masa tentu saja. Kemudian mengangguk-angguk kecil yang menunjukkan ekspresi kemenangan yang tak terbantahkan. Lalu memekikkan kata ‘Merdekaaa…!’ sebanyak tiga kali. Saya tahu, pekik tersebut tak lagi memiliki ruh yang membuat pendengarnya merinding, bergetar, hanyut, atau mengalami trance. Pekik tersebut telah kehilangan makna, tak seperti ketika ia diteriakkan para Founding Fathers maupun para pendahulu kita yang berjuang demi Indonesia. Pekik tersebut hanya ‘slogan kosong’ yang dijeritkan supaya kelihatan nasionalis, agar tampak lebih mencintai negara yang sering terserang demam ini. Padahal di beberapa kesempatan diam-diam pelesiran ke negeri jauh demi berburu barang-barang bermerk, terlibat dalam penebangan hutan baik legal maupun ilegal, gemar menghisap candu dan segala yang berhubungan dengannya, sibuk berasyik masyuk dari hotel ke hotel, secara pelan-pelan namun berkesinambungan memperkuda rakyat, memerintah semata-mata demi kepentingan pribadi bukan kepentingan publik, serta melakukan tindakan lancung lainnya seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Selanjutnya saya akan meneteskan air mata. Itu penting. Karena hati rakyat dapat disentuh dengan hal-hal hangat, haru, sederhana dan penuh sukacita. Tapi urusan air mata ini tak boleh sering-sering karena dalam politik kelembutan hati dipandang sebagai kelemahan. Lalu…

“Banyak momen indah dan berharga dalam hidup yang bisa saya gambarkan, yang bisa saya ceritakan, tapi tak pernah semegah beberapa bulan belakangan hingga saat ini. Momen ketika saudara-saudara telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Saudara bahu-membahu mendukung saya dalam segala hal dan kesempatan. Saudara ikut terjun dan berpartisipasi dalam setiap kampanye yang saya lakukan. Saudara ikut melalui apa yang saya lalui. Saudara berjuang dengan kerelaan dan kesadaran sendiri membawa nama saya, mengenalkan saya pada siapapun yang saudara temui. Saudara berupaya menangkis getiap gunjingan dan komentar miring yang dituduhkan pada saya, sehingga iklim politik yang tadinya membuat saya gundah dan hampir kehilangan harapan, berkat doa dan dukungan saudara, mampu membuat saya mengangkat kepala. Dan lebih penting lagi ketika saudara-saudara sekalian memutuskan untuk mencoblos saya di bilik suara. Itu berarti saudara telah memercayakan harapan-harapan dan cita-cita untuk saya emban dan saya wujudkan.
 
Hari ini saya telah dilantik sebagai pejabat sah untuk memimpin Jakarta. Namun bukan berarti kemenangan ini menjadikan saya manusia tanpa cela. Saya adalah sosok manusia yang tak sempurna, yang tempatnya salah dan lupa. Pada perjalanan berikutnya mungkin saya absen ketika dibutuhkan, barangkali saya lupa pada janji dan tekad yang telah kita pancangkan. Maka dalam kesempatan kali ini, saya ingin saudara-saudara sekalian ikut mengawal pemerintahan. Perjuangan ini baru awal, karena itu mari bersama mewujudkan pemerintahan yang bersih, istiqomah, dan komit untuk menyejahterakan rakyat. Mari bersama-sama merealisasikan visi misi, dan membuktikan janji-janji.
Akhir-akhir ini kita semua telah banyak menyaksikan orang-orang menebarkan konflik dan hoax yang menyuburkan kebencian. Saya tak ingin kembali ke titik itu, dimana orang-orang saling hina, saling bully, saling serang hanya perkara calon dan dukungan. Sekali lagi, saya tak ingin itu terjadi. Karena sebagai pemimpin, saya ingin bersahabat dengan segala etnis, segala agama, segala ras, dan segala golongan. 


Kita adalah bangsa yang berketuhanan, kita hidup di negara berdasarkan Pancasila, tumbuh dengan keberagaman suku, ras, agama dan budaya. Karena itu mari mengusung prinsip musyawarah dan mufakat untuk menyelesaikan masalah dan sengketa, bukan dengan egoisme dan kekerasan membabi buta. Mari membangun negara ini dengan dialog bukan dengan kemarahan yang tak ada habisnya. Karena negara ini, Indonesia ini akan menjadi tempat yang mengerikan bila egoisme dan kemarahan itu terus dkibarkan.


Sejatinya kemenangan ini mengandung kebahagiaan, bukan keangkuhan. Karena itu perlu diingat bahwa hasil perjuangan ini bukan milik saya sendiri, melainkan kepunyaan kita semua, tanpa terkecuali.  Saya tak akan berdiri di sini, tak akan hadir hari ini jika tanpa peran saudara. Karena itu, kemenangan ini bukan milik Dinna Norris dan pendukungnya, tapi milik seluruh warga Jakarta.”


Setelah itu saya menutup orasi dengan pekik ‘merdeka’ dan salam. Kemudian berjalan ke tengah-tengah warga, tersenyum, mengangguk-angguk serta berjabat tangan yang dierat-eratkan.

Begitulah kira-kira orasi yang akan saya lempar ke publik jika menjadi Gubernur Jakarta. Saya bukan Anies Baswedan karena itu orasi yang saya sampaikan tak perlu panjang dan bertele-tele, tak perlu pula bertabur quote dan falsafah. Saya merasa tidak perlu berakrobat kata-kata sekalipun saya memiliki pabrik aksara. Sebab itu bukan cara yang akan saya pilih untuk membuat orang tahu bahwa saya benar-benar serius menjadi Gubernur Jakarta.

Namun sesungguhnya saya tak hendak mencederai kebahagiaan konstituen dan simpatisan yang sedang mengalami euforia dengan menyuguhi mereka pidato panjang lagi membosankan. Karena saya tahu, orang-orang akan melupakan apa yang saya katakan, tapi mereka akan ingat bagaimana saya membangun perasaan mereka. Dan akan lebih baik jika saya berkonsentrasi pada yang terakhir.
Lagipula saat itu malam. Malam yang akan segera dilelehkan matahari pagi. Malam yang akan diisi orang-orang untuk merenggangkan otot setelah menjalani hari-hari sibuk dan melelahkan. Malam yang akan direguk untuk menumpahkan segala keluh kesah dalam pelukan guling dan bantal. Malam yang akan dicuri sebagian orang demi mengulang tanya: akankah pemimpin terpilih itu merealisasikan janjinya?

Tag    : anies baswedan, gubernur, dki jakarta, pidato, orasi, pemilu, pemimpin, simpatisan, pendukung, pemilih, perjuangan, kemenangan, kata-kata, politik, pemerintahan

COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: Andai Saya Gubernur DKI Jakarta
Andai Saya Gubernur DKI Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZjucfw0nUc6DljySgpYALkzwSL1w5wneo89d8x0PMKVF-FfWrmNGNpBfokO7TwfIfxdUk6qtcT-Ax7l5OPIinoLRAjqH_hzUuaRYX8OoGz3KC_sSusWYY5NmqkllhCwCqQWmooj89lls/s640/sdf.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZjucfw0nUc6DljySgpYALkzwSL1w5wneo89d8x0PMKVF-FfWrmNGNpBfokO7TwfIfxdUk6qtcT-Ax7l5OPIinoLRAjqH_hzUuaRYX8OoGz3KC_sSusWYY5NmqkllhCwCqQWmooj89lls/s72-c/sdf.jpeg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/10/andai-saya-gubernur-dki-jakarta.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/10/andai-saya-gubernur-dki-jakarta.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy