Kapan Lagi?

Times fly so fast. Tak terasa enam tahun berlalu sejak aku menulis catatan itu di sebuah blog. Catatan, atau lebih tepatnya goresan ...



Times fly so fast. Tak terasa enam tahun berlalu sejak aku menulis catatan itu di sebuah blog. Catatan, atau lebih tepatnya goresan kerisauanku saat berusia 26, yang seringkali ditanya ‘kapan menikah’. Rupanya banyak tamu yang singgah di blog berbendera Wordpress tersebut. Ramai yang menyukai dan memberi komentar. Ada yang bertanya tentang bagaimana progres kehidupan percintaanku sekarang, ada beberapa orang ikut memberi nasehat, saran dan semangat, adapula yang curhat tentang masalah yang sama, yaitu jomblo, single, belum menikah.

What I’ve to say guys? Hal pertama adalah, terhitung sejak diluncurkannya postingan 27 Februari 2011 yang berjudul ‘Saya Dinna, umur 26 tahun, belum menikah, so why?’, hingga sekarang aku masih sendiri di usia ini, ke-32. Kedua, aku belum memiliki seseorang yang bisa kupanggil sayang, beib, atau honey. Dengan kata lain aku belum memiliki calon teman hidup, atau pacar, istilah anak gaul zaman sekarang. Ketiga, aku menemukan fakta bahwa artikel tentang cinta atau hubungan lawan jenis (termasuk sesama jenis) merupakan ‘menu’ paling laris. Terakhir, sepanjang perjalanan hidupku, aku benar-benar tidak bisa memahami mengapa kesendirian memiliki tenggat waktu.

Sometimes people’s reaction make me realize... Dari empat hal yang baru saja kubeberkan, masih perlukah kita membicarakan perkara cinta beserta software dan hardware-nya? Aku yakin kalian akan menjawab ‘perlu’ dengan serentak dan seirama layaknya paduan suara. Karena cerita cinta, betapapun getir dan pahitnya, tak mengenal tanggal kadaluarsa. Selalu asik dibahas, dikenang, bahkan diceritakan kembali. Lagipula bumi yang kita tinggali masih dalam keadaan aman dan terkendali untuk kita sering-sering membicarakan topik percintaan. Sebab kalau perang sudah terjadi, siapa yang akan tertarik dengan kisah cinta?

_ _  _


Di suatu pesta pernikahan, persis saat usiaku ke-26, itu kali pertama seseorang melontarkan pertanyaan ‘kenapa masih sendiri’ padaku. Jujur saja aku membisu. Aku tidak tahu apa jawabannya. Dan, kenapa aku harus menjawabnya? Wajahku memerah kala itu. Rasa kesal menjalar dari kepala hingga kaki. Aku ingin marah, tapi tak memiliki alasan kenapa aku harus marah. Aku juga ingin menangis, tapi tak menemukan alasan kenapa aku harus menangis. Akhirnya aku memilih tindakan paling arif: senyum. Seperti senyum yang diberikan orang berpuasa ketika berhadapan dengan segerombolan anak kecil yang mengacung-acungkan jajanan.

Pertanyaan macam apa itu? Gumamku di tengah bising lagu yang didendangkan biduan serta gelak tawa para undangan. Tiba-tiba saja aku merasa risih, sementara kengerian mulai menyergapku dari segala penjuru. Aku menghardiknya, mengomelinya. Tentu saja semua itu kulakukan dalam hati. Bukan karena tak punya nyali, tapi aku tak ingin tindakannya memengaruhi sikapku yang mungkin berakibat runtuhnya harga diri. Bagaimanapun harga diri, kehormatan, martabat, atau nama baik, bagi sedikit orang lebih penting dari uang. Aku adalah satu dari yang sedikit itu.

Selain itu aku juga mempertimbangkan banyak hal seperti, atas nama agama yang kuanut, demi Tuhan yang kupercayai, atas kerudung yang kupakai, atas nama titel yang kusandang, maka emosi tak boleh bersinar terang. Setidaknya aku harus mengontrolnya agar tak meluap di permukaan. Namun bila suatu waktu aku harus bereaksi, itu karena seseorang layak mendapatkannya. Ada kalanya orang harus diberi shock teraphy sebagai efek jera, agar mereka tak melakukan hal sama pada orang lainnya.

Kuputuskan meninggalkan tempat itu –sebuah meja bulat di mana aku dan perempuan tersebut duduk berseberangan, dan mencari kerumunan lain agar aku bisa berdamai dengan amarahku, kesedihanku, dan segala emosi yang tak perlu. Bercakap-cakap dengan tamu lain meski tak satupun topik yang mereka bicarakan menarik perhatianku. Dalam sedetik aku sempat merasa beruntung karena telah hidup di tengah masyarakat yang gemar berpura-pura ini. Aku tertawa, mengangguk, tersenyum, dan mengerutkan dahi. Semuanya kulakukan dengan kepura-puraan.

Begitulah caraku mengendalikan emosi. Kadang berakhir dengan sukses namun lebih sering memalukan. Ya. Bahkan orang jenius terbaik pun tak selalu bisa mengendalikan emosi mereka.

Reaksi yang sama juga pernah ditunjukkan Ahenobarbus, penguasa Imperium Romawi, ketika ia diajukan pertanyaan spontan dan tiba-tiba. Nero merasa dibingungkan oleh pertanyaan langsung yang diajukan koleganya. Ia berjengit, marah, kemudian mengutus prajuritnya menyeret orang tersebut dan memerintahkan agar ia dimasukkan ke sel bawah tanah. Setidaknya aku lebih tenang daripada Nero, bukan?

Pertanyaan ‘kapan lagi, kapan menyusul, kenapa masih sendiri, kenapa belum merit juga, dan berbagai pertanyaan senada lainnya, bila ditanggapi pasti akan menghasilkan percakapan panjang yang tak ada habisnya. Mula-mula mereka menertawaimu, padahal sejatinya mereka menertawai Tuhan beserta Lauh Mahfud-Nya. Kemudian mereka menasihatimu, sementara faktanya, banyak orang yang memberi nasehat namun tak seorangpun yang mau bertanggung jawab. Mereka bicara banyak hal mengenai nikmatnya berdua, namun pada suatu waktu mereka mengeluhkan ketidakharmonisan. Mereka menyerukan indahnya pernikahan, namun di sisi lain mereka hidup dalam ketakutan akan poligami maupun perselingkuhan.

Pengalaman adalah guru terbaik. Ia mengajariku banyak hal. Salah satunya bagaimana menghadapi orang-orang yang senantiasa menyoal kesendirian, mempertanyakan kehidupan yang kualui, memiliki rasa ingin tahu paling besar akan teman hidupku atau siapa lelaki yang dekat denganku saat ini. Pengalaman, secara tak sengaja telah mendewasakanku untuk jeli menimbang emosi. Lalu apa di usia ini Dinna F Norris sudah mengurangi emosinya? Dengan bangga kukatakan pada kalian ‘aku, kini, seperti setenang gereja yang ditinggalkan jemaatnya’.

Jika kelak kalian disodorkan pertanyaan demikian oleh seseorang, siapapun dia, saran terbaik yang bisa kuberikan padamu yaitu: perbanyak sabar, kendalikan diri, tebarkan senyuman. Kemudian melipir pelan-pelan, menyusup ke kerumunan manusia lainnya, berpura-pura sibuk, sambil terus berpikir menemukan jalan keluar.

Memang tak mudah berdamai dengan ego. Tapi kuharap, pengalaman akan memberimu kekuatan dan kedewasaan, waktu akan menyembuhkanmu atas luka yang pernah ditorehkan melalui setiap perkataan. Jadi, inilah yang pernah kurasakan bahkan hingga saat ini. Maka inilah yang dapat kuberikan pada kalian.

Hanya yang membuatku sangat heran adalah mengapa pertanyaan ‘kapan lagi, kapan menyusul’  nyaris tak pernah terdengar saat kita berada di pemakaman? Jika pun seseorang pernah mengajukannya dengan bercanda, mengapa pula harus tersinggung? Tidakkah kekasih yang merindukan dan mencintai Kekasihnya sangat berharap bisa menghadapNya? Kekasih macam apa yang menolak bertemu Kekasihnya?

Lama aku berpikir dan merenungkan pertanyaan itu namun tak pernah benar-benar menemukan jawabannya. Tapi yang kutahu bahwa kematian merupakan hal mengerikan bagi setiap orang. Sekalipun kita percaya hidup berakhir dengan kematian, tapi tak ada yang cukup berani memikirkan atau membayangkan bahwa perjalanan ini memiliki tombol stop, kelak suatu hari sesuatu yang tak tampak namun sangat berkuasa akan menekan tombol tersebut dan mengakhiri seluruh kisah, seluruh cerita.

Maka begitu pula dengan catatan ini harus kuakhiri sampai di sini. Bagi kalian yang masih sendiri, selamat menikmati kesendirian yang pekat ini, hingga tiba giliran kita, walau entah bila.


Tag: single, menikah, 26, hidup, pasangan, sendiri, takdir, Tuhan, merit










COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: Kapan Lagi?
Kapan Lagi?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlzvEijUPT6jX75CdSffbGE032mtKP_r6e0mUN0wYSVOEH2unq9OAPfPdKxr_azfi7hX-zOfJ3uVE6UJDnk6xcCEYjn9yzDAeg2H5tdRI7VBHfu77vPPV_Q1HiXqWMR6TI6b937e1oxE8/s640/alone+hd+wallpaper.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlzvEijUPT6jX75CdSffbGE032mtKP_r6e0mUN0wYSVOEH2unq9OAPfPdKxr_azfi7hX-zOfJ3uVE6UJDnk6xcCEYjn9yzDAeg2H5tdRI7VBHfu77vPPV_Q1HiXqWMR6TI6b937e1oxE8/s72-c/alone+hd+wallpaper.jpg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/04/kapan-lagi.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/04/kapan-lagi.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy