Tahap pelaksanaan episode kedua (pendaftaran dan penetapan pasangan calon) Pemilukada DKI Jakarta telah selesai, dan menghasilkan tiga pa...
Tahap pelaksanaan episode kedua (pendaftaran dan penetapan pasangan calon) Pemilukada DKI Jakarta telah selesai, dan menghasilkan tiga pasangan calon yaitu Agus Harimurti Yudhoyono mendapat nomor urut 1, berpasangan dengan Sylviana Murni. Begitupun dengan Ahok-Djarrot yang mengisi nomor urut 2, selanjutnya pasangan Anies-Sandi Uno mendapat nomor bontot yaitu nomor 3.
Namun di edisi pemilukada kali ini ada yang cukup membetot perhatian. Yaitu kealpaan pasangan AHY-Sylvi di setiap acara debat yang diadakan dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi swasta, serta ditonton beramai-ramai oleh rakyat Indonesia khususnya warga DKI Jakarta.
Meski program debat atau diskusi publik bukan merupakan instrumen penentuan perolehan suara, akan tetapi debat adalah salah satu sarana efektif untuk meraih simpati dan perhatian publik. Dengan kata lain, debat, dialog maupun diskusi publik merupakan tolok ukur kesungguhan AHY-Sylvi dalam pencalonannya sebagai Gubernur DKI jakarta periode 2017 - 2022.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa untuk dapat mengikuti pemilihan pada kontestasi Kepala Daerah DKI Jakarta, AHY mengundurkan diri dari karir militer yang lebih dulu membesarkan namanya. Ini bukan perkara main-main. Sebab memilih mundur saat posisi sedang bertengger di puncak merupakan tindakan berani sekaligus nekat. Di antara seribu, hanya sedikit orang yang mampu bertindak demikian. Dan melihat keputusan AHY tersebut, kiranya dapat menjadi bukti bahwa ia memiliki keseriusan dan tekad pengabdian untuk menyediakan dirinya mewakili rakyat.
Hanya yang menjadi masalah adalah, mengapa purnawirawan muda ini memilih absen dari acara pemaparan visi misi serta tanya jawab tersebut? Bukankah dengan mengikuti debat di ruang terbuka dan disaksikan orang banyak dapat membedakan satu informasi yang tadinya samar menjadi terang benderang? Bukankah debat juga berfungsi untuk membongkar mindset sebagian masyarakat yang hanya bisa memberi stigma 'anak bawang'? Bukankah mengambil kesempatan tersebut dapat menunjukkan kepada mereka yang mempunyai hak pilih, bahwa seorang AHY bukanlah kandidat kelas kacangan? Jadi, mengapa tidak ia selesaikan saja perjalanan yang sudah dimulai?
"Debat atau diskusi publik yang disiarkan langsung oleh media merupakan alat paling jitu untuk mencapai pemilih dalam perlombaan memenangkan suara..." tulis John S. Saloma dalam 'The Real Opportunity for Effective Citizen Politics. Perkara bully, kritik dan gunjingan, itu bagian yang selalu menyertai kesuksesan semua orang. Kita hanya perlu membiasakan diri menghadapinya, dan tak perlu terlalu dipikirkan.
Meski visi misi kampanye di mana saja dan kapan saja tidak banyak bedanya, akan tetapi siapa yang menyampaikannya lah yang sangat ditunggu masyarakat. Meski tidak ada teks pidato kampanye yang jelek, semuanya bagus-bagus belaka, namun masyarakat ingin melihat sejauh mana pidato kampanye tersebut diuji dan diperdebatkan di ruang publik. Meski program yang dipaparkan hanya sebatas wacana alias promise-promise paradise, akan tetapi masyarakat wajib mengetahui seperti apa mutu dan kualitas pasangan calon yang dihadirkan Jakarta. Untuk itu debat publik yang disiarkan media (baca: televisi) merupakan alat yang secara tidak langsung dapat mengantarkan sang calon memasuki rumah-rumah para pemilihnya.
Lebih lanjut hal ini dijelaskan oleh Arnold Steinberg dalam 'Kampanye Politik Dalam Praktek' antara lain:
- Aktivitas politik yang disiarkan media televisi menyelinap masuk ke ruang duduk penonton yang paling tak acuh sekalipun
- Televisi memiliki pengaruh terpadu dari tontonan, suara dan gerak
- Televisi dapat menjangkau pemilih yang kebanyakan dari mereka memperoleh informasi dari televisi, atau yang mengandalkan televisi sebagai satu-satunya sumber informasi
- Televisi mencapai penonton yang 'dengan cara lain apapun' tidak dapat dijangkau dalam waktu sangat cepat dan singkat
- Siaran televisi lebih cepat meresap di benak
- Televisi menceritakan kepada penonton tentang calon dalam 'bentuk yang dapat dilihat', sehingga mampu membangkitkan gairah dan menggugah minat untuk menontonnya.
Namun sangat disayangkan sekali, mereka yang diberi panggung gratis tapi tidak memanfaatkannya, sama seperti orang yang memiliki ambisi namun tak memiliki tekad untuk mewujudkannya, atau orang yang diberi kelebihan namun enggan menggunakannya.
Pihak Agus tidak bisa dengan gegabah mengklaim bahwa rakyat bersama mereka. Karena pernyataan ini bukan lagi sebuah overconfident akan tetapi oversimplifikasi. Sebab menjadi kontestan pemilu namun memilih berdiam diri, itu berarti sebuah pertaruhan nyawa yang gila. Seperti halnya berjalan menuju samudera yang dalam tapi tidak berenang.
Benar bahwa majunya AHY pada kontestasi 2017 dapat dijadikan hidangan pembuka alias tes market, tes elektabilitas, atau tes popularitas. Namun mengulang-ulang pernyataan itu, tampak seperti berupaya menegaskan dalih dan pembenaran yang biasa dilakukan orang-orang yang khawatir dan senantiasa prihatin.
Karena jika kontestan tidak bisa memanfaatkan momen hari ini, bagaimana ia meraih kesempatan di masa depan? Dunia politisi tidak berputar di masa lalu maupun di masa depan, tapi hari ini, sekarang, dan hari esok yang dekat. Panggung gratis semestinya benar-benar dimanfaatkan karena masa tidak bisa menunggu bagi seseorang yang telah menceburkan dirinya di dunia politisi. Waktu terus bergulir, keberanian menasbihkan diri di kancah politik semestinya dibarengi keberanian untuk tampil di depan khalayak, apapun resikonya.
Jika blok cikeas terus-terusan mengumandangkan dalih 'batu loncatan menuju 2019', maka saya harus mengutip ucapan Cicero 'orang yang berambisi besar dan berotak keledai, merupakan dua sifat yang sering muncul dalam politik'.
AHY baru saja meninggalkan karir kemiliteran, dan saat ini ia sedang bergumul dalam aktivitas politik praktis. Jika ia benar-benar ingin bertarung, maka sekarang lah saatnya. Sementara itu perkara popularitas dan elektabilats mengikuti dibelakangnya.
Dinna F. Norris
Tag: agus yudhoyono, pemilukada dki jakarta, pemilukada 2017, politik, pasangan calon, cicero, kampanye politik, debat publik, panggung gratis, arnold steinberg

COMMENTS