Sejak kecil saya dibiasakan berargumen, berdiskusi, berdebat dan mempertahankan pendapat oleh ayah dan ibu. Beruntungnya, beberapa pen...
Sejak kecil saya dibiasakan
berargumen, berdiskusi, berdebat dan mempertahankan pendapat oleh ayah dan ibu.
Beruntungnya, beberapa pengajar di tempat saya pernah menimba ilmu mendukung
kebiasaan itu meski SMP merupakan pengecualian.
Lebih sering dalam diskusi saya
dan lawan bicara berada pada posisi berseberangan. Kami saling melempar wacana,
berargumen dengan sangat keras, kekeuh
mempertahankan pendapat masing-masing. Tapi di luar itu kami bisa menghabiskan
waktu bermain lompat tali, bercerita mengenai film-film yang berhasil kami
tonton dengan tuntas atau mengeluhkan film yang tak selesai disaksikan karena remote control terlanjur diakusisi,
merencanakan tempat mana lagi yang akan kami kunjungi jika kegiatan belajar berakhir,
atau membuat jadwal ngopi bersama
sembari membahas topik yang akan kami diskusikan berikutnya.
Tapi baru kali ini, hanya
gara-gara perbedaan pandangan atau selisih paham, saya dikata pelacur, disebut
lont*, bahkan diancam oleh orang yang tidak saya kenal sama sekali, beberapa
bulan lalu. “nyawamu singkat. Kau lihat
nanti, cuma sebentar kau nikmati dunia ini”, tulis lelaki itu di beberapa
postingan facebook saya. “kau sudah
kutandai ya. Aku tahu kota tempat kau tinggal. Dengan bantuan teknologi mudah
kau ditemukan”, orang itu semakin meradang karena komentar-komentar yang ia
lontarkan berikutnya sama sekali tidak saya hiraukan. Lewat akun facebook baru
ia meneror saya dengan serangkaian pesan. Akun yang baru saja ia daftarkan demi
memuaskan nafsu kejahatannya, hanya karena akun sebelumnya sudah saya block.
“orang gila macam apa kau ini” ujar
saya seketika. Dalam sepersekian detik saya sempat merasa kaget dan cemas. Saya
segera mengingat-ingat Tuhan yang namaNya jarang saya tasbihkan. Saya tak
tenang, panik dan sedikit gugup. Tapi kemudian saya berhasil menguasai perasaan
itu dan mengendalikan situasi. ‘Hal-hal
buruk akan terjadi jika kau terus-terusan memikirkannya’ ujar saya menyugesti
diri sendiri. Ketakutan itu sirna, ia tak sepenuhnya berhasil.
Ada pertanyaan yang cukup penting
serta menarik, dan bila dijawab dapat menghasilkan ide atau gagasan baru. Adapula
pertanyaan yang layak diabaikan karena tidak memenuhi unsur urgensi atau
substansi, tidak perlu dijawab karena berada di luar konteks, tidak harus
dipedulikan karena nyinyir. Maka saya hanya membalas komentar yang saya rasa
logis, rasional, dan objektif, bukan mengada-ada atau fiksi belaka. Namun ada
banyak pertanyaan yang lebih baik dijawab dengan diam. Bukan karena
ketidaktahuan melainkan karena lawan bicara tak layak menerimanya.
Lagipula saya mudah kehilangan
gairah bila berinteraksi dengan orang yang mengeluarkan pernyataan yang
dibikin-bikin, dikarang-karang tanpa proses penalaran. Mengurusi orang macam
ini, yang berdebat tanpa referensi sangat melelahkan dan membuang waktu. Sebab
mereka terlalu berisik menjeritkan argumen-argumen kosong –yang hakikatnya
lebih tepat disebut kemarahan ketimbang retorika, tanpa berpayah-payah
memikirkannya lebih dulu.
Meski demikian yang orang itu
katakan tentang ‘nyawa yang singkat’ ada benarnya. Sebab hidup saya dan juga
seluruh penghuni semesta amat terbatas. Kita tak pernah mampu menghitung sisa
usia, tak tahu closing date menghela
nafas dan tak mampu menerka bagaimana maut akan menjemput. Apakah tewas
dihantam senjata, tergeletak tak berdaya di meja operasi, meregang nyawa di
hotel bersama obat-obatan dan perempuan, atau kematian memeluk kita saat sujud
panjang di sepertiga malam.
Namun alangkah menjijikkan ketika
seseorang yang tak kau kenal berusaha mengintimidasimu, hanya perkara perbedaan
cara pandang. Betapa menggelikan ketika orang asing menakut nakuti dan
mengancammu seolah ancaman merupakan senjata paling efektif untuk melumpuhkan
keberanian.
Saya telah hidup, melewati
perjalanan panjang dan berliku untuk sampai di tahun serba canggih dan modren
ini. Tapi saya tak pernah menyangka orang-orang bermental pengecut masih
mendapat tempat di muka bumi. Orang-orang purba yang semestinya sudah mati dan
menjadi fosil sejarah. Orang-orang jahiliyah yang seharusnya sudah tenggelam
bersama rombongan fir’aun ketika Musa membelah laut dengan mengetukkan
tongkatnya.
Rupanya pikiran saya terlalu lugu
memahami semesta dan isinya. Padahal dunia yang kita tinggali sekarang ini
masih dikelilingi ‘orang-orang sakit’ yang bebas berkeliaran. Mereka bisa
berprofesi apa saja, berpakaian apa saja, berbicara mengenai banyak hal,
bersikap seperti orang normal pada umumnya. Namun diam-diam mereka merancang
kejahatan, menebar teror lalu melakukan aksi-aksi beringas dan brutal. Zaman
boleh berganti, era boleh bertukar, tapi manusia bermental pengecut tak
terlindas roda waktu. Mereka tersembunyi di sela-sela lumut dan alga sehingga
tangan-tangan fajar tak sampai untuk meremuknya.
Andai Om Jin memberi satu
permintaan, saya lebih memilih kepunahan melumat para pengecut ini ketimbang populasi
Dinosaurus dan kawan-kawannya.
Tag : pengecut, kekerasan, kejahatan, ancaman, sosial media,
facebook, orang gila, semesta, teror

COMMENTS