Tak banyak yang bisa aku katakan tentang kriteria teman hidup. Meski perjalanan hidupku kerap bersinggungan dengan banyak orang yang ber...
Tak banyak yang bisa aku katakan tentang kriteria teman hidup. Meski perjalanan hidupku kerap bersinggungan dengan banyak orang yang berasal dari berbagai tipe dan profesi –dalam hal ini laki-laki, namun aku sedikit kesulitan saat diminta menyebutkan kriteria lelaki yang aku sukai. Lebih tepatnya, aku tak hendak takabur memaparkan laki-laki seperti apa yang layak mendapat tempat bagi separuh jiwaku nantinya. Bukankah kehidupan tak membuka jalan bagi sifat takabur? Jadi biarlah ia hadir dengan gagar berani, membawa cintanya yang kelak cukup bagi kehidupan kami.
Jika reaksiku itu disebut sebagai sikap pasrah, tak apa. Tapi begitulah adanya. Di samping itu juga aku khawatir apabila ketergesaan memaparkan list kriteria akan berefek buruk pada realita. Seperti kemarin. Seperti yang sudah-sudah. Saat aku benar-benar mengharapkan sesuatu, namun sesuatu itu tak datang untukku. Ketika aku telah sekuat tenaga berusaha mendapatkan segala, tapi ia luput dariku. Yang kuinginkan malah berjarak dariku, sejauh-jauhnya. Sedangkan yang tidak kusukai, tidak kuinginkan, tidak kuharapkan, hadir di depanku.
Tapi bukan berarti aku tak memiliki gambaran mengenai lelaki yang akan kunikahi. Kupikir perempuan manapun tentu akan menuliskan kriteria. Sebagian akan membicarakannya terang-terangan, sebagian lagi hanya menggoreskannya di dalam hati lalu meneriakkannya di ruang sepi: sebuah tempat di mana hanya ada mereka sendiri.
Bertemu dan berkawan akrab dengan laki-laki tak lantas membuatku berdebar-debar apalagi jatuh cinta. Karena aku, sebagai perempuan yang hatinya pernah terluka, butuh waktu lama untuk membangkitkan chemistry dari peristirahatannya. Kebalikan dari lagu yang dipopulerkan Candil Serius Band: aku tak terlatih patah hati.
Kadang aku heran sekaligus iri, begitu mudahnya beberapa perempuan mendapatkan pasangan baru. Begitu cepat mereka melupakan kenangan. Hari ini hubungan berakhir, tiba-tiba mereka menggandeng lengan lelaki yang lain minggu depan. Atau mungkin, bersegera menemukan pengganti merupakan cara untuk mengobati luka?
Atas nama keberanian, aku bisa mengikuti cara mereka. Tapi entah kenapa, bagiku proses melupakan tak seenteng itu. Aku juga kepayahan menyetujui ide Lou Salome –perempuan bebas gaya-baru yang mendedikasikan diri pada independensi- untuk ber-menage a trois platonik, seperti yang biasa ia lakukan dengan Paul Ree dan Nietzsche. Berasyik masyuk dengan rakus bersama dua lelaki sekaligus, tanpa memikirkan konsekuensinya, serta tidak mementingkan ikatan apalagi cinta. Meski aku bisa melakukannya, bukan berarti aku mau, bukan berarti aku harus.
Dari seluruh akibat yang diciptakan oleh patah hati, aku perlu jeda untuk menata perasaan yang telah pernah tercederai. Aku butuh tempat semacam halte pemberhentian, duduk tafakur sembari menekuri perjalanan yang telah aku lalui, merajut tirai semangat yang sempat koyak, mengurut puzzle-puzzle kisah yang sebelumnya aku abaikan, memupuk kembali taman hati yang sempat gersang, menghimpun kekuatan untuk menatap dan mengucapkan selamat datang pada cinta berikutnya.
Aku ingin ‘pulih’ sepenuhnya, karena itu aku butuh waktu cukup lama. Agar tak lagi menoleh ke belakang, mengetuk pintunya dan berharap mengulang cerita. Bagiku, ketika hubungan usai, maka tak ada jalan kembali. Tak ada yang perlu diulang. Mungkin aku akan berusaha menjaga silaturahmi tetap berjalan, tapi bukan berarti harus menjalin pertemanan. Aku juga tidak akan membencinya. Bagaimana seseorang bisa dikatakan pulih jika terbersit rasa benci di hatinya? Karena itu begitu hubungan benar-benar berakhir, aku mulai memblok jalan masuk menujunya. Aku menutup setiap celah yang dapat membuatku bertemu dengannnya, baik sengaja maupun tidak sengaja.
Seperti kata pepatah, ‘gara-gara ‘hai’ setitik rusak move on sebelanga’, jadi alasanku melakukan demikian karena tak ingin hati yang susah payah kusembuhkan ini terusik oleh sosoknya.
Begitupun sebaliknya, sekali aku mencintai, itu berarti selamanya. Aku akan menyayanginya sepenuh hatiku, berdiri di sampingnya, saling menggenggam, bersama merenda masa depan. Kendati cinta yang aku miliki tak seutuh sebelumnya, tapi aku akan menghormatinya. Karena hubungan tak selalu didasari oleh cinta, tapi juga rasa hormat.
Fakta bahwa aku tidak memiliki kriteria akurat mengenai teman hidup, tapi aku cukup tahu sosok seperti apa yang aku mau.
Dia, hendaknya selalu menjadi dirinya kala berada di depanku maupun saat berjarak dariku. Hanya karena aku sangat menaruh minat pada arena politik, sejarah, kondisi sosial, atau puisi, kopi serta menulis, bukan berarti dia harus menyesuaikan diri dengan semua hal itu. Dia tak harus pula belajar menyusun kata atau menciptakan paragraf-paragraf.
Dia tak perlu memaksakan diri menulis bila hal itu tak menarik perhatiannya sama sekali. Sebab aku tahu, kita semua tahu, bahwa bicara lebih mudah daripada menulis. Maka usaha-usaha yang menyiksa diri sebaiknya dihentikan saja. Jika misalnya dia menyukai segala hal berbau medis, maka jiwailah. Tetaplah di situ. Atau passionnya berkebun, mendidik, menyanyi, atau olah raga, maka dia mesti terlibat di dalamnya dengan sebaik-baiknya.
Dia haruslah seorang yang natural, bukan imitasi, seseorang yang fokus dengan dunianya, bukan latah dan meniru-niru. Seseorang yang memiliki keyakinan yang sama, sosok yang semangat, pribadi yang cerdas, pekerja keras, percaya pada mimpi-mimpiku dan memperjuangkan mimpi-mimpinya, teguh memegang prinsip, hingga membuatku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya, selamanya.
Tag: seseorang, teman hidup, heart, cinta

COMMENTS