Seringkali pernyataanku disalah mengerti sebagian besar orang. Mereka katakan aku ini terlalu serius ketika menanggapi sesuatu. Saya...
Seringkali pernyataanku disalah mengerti sebagian besar orang. Mereka katakan aku ini terlalu serius ketika menanggapi sesuatu.
Sayangnya tuduhan seperti ‘jangan terlalu serius’ atau ‘serius banget sih komentarnya’ atau ‘ini cuma joking jadi gak perlu diseriusin begitu’ atau ‘kamu ini serius betul deh’ dan kalimat senada lainnya selalu disematkan padaku seolah-olah aku terlahir dengan kerut vertikal di tengah alis: kaku dan tidak memiliki sense of humor. Belum lagi saat orang-orang ini melihat rupaku lekat-lekat. Sontak mereka berujar penuh gaya ‘Yolo! Enjoy this world’ atau ‘Keras banget mukanya’.
Sebenarnya aku tidak terganggu dengan tuduhan-tuduhan tersebut karena aku juga mengakui bahwa aku ini perempuan serius dengan wajah ketat dan jarang sekali dihiasi senyum. Jauh dari kesan lembut dan teduh seperti ibuku. Dan setelah kupikir-pikir, Tuhan memang sengaja membuat copy-paste wajah ayah untukku. Meski demikian bukan berarti aku tak mampu menikmati meluncur di atas perosotan penuh air yang berhujung ke kolam besar atau bermain-main di istana lego. Bukan berarti aku tidak memiliki waktu bercanda dan saling melontarkan kalimat-kalimat lucu dan menggelikan. Im really kind of stupid at home but more serious in public.
Masalahnya tuduhan-tuduhan bergegas dan salah alamat tersebut membuatku risih karena aku sama sekali tidak bermaksud bicara serius pada orang-orang itu. Aku hanya menanggapi dan memberi pernyataan sesuai porsinya. Meluruskan apa yang harus diluruskan. Mengomentari apa yang perlu dikomentari dengan bahasa yang benar-benar telah kupikirkan sebelum aku melontarkan pernyataan.
Aku selalu berusaha menempatkan diri ketika berbicara dan berargumen dengan siapapun. Kalau lawan bicaraku bertipe serampangan, aku segera menghindar dan pergi menjauh. Karena orang macam ini selalu memiliki argumen paling benar. Jika orangnya humoris, aku bisa meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan kisah-kisah konyolnya. Jika orang di depanku berjenis serius dan terkesan arogan, aku jadi merasa menemukan diriku dalam bentuk lain. Dan jika lawan bicaraku gemar sekali bercanda, aku akan memasang tampang tertarik kemudian meilipir pelan-pelan karena aku acap tak betah dengan guyonan.
Beberapa hari lalu, aku mengomentari postingan seorang teman facebook. Di laman pribadinya ia bercerita tentang pengalaman bertemu seorang perempuan yang menuntun anjing peliharaannya berjalan-jalan. Lantas teman facebook itu berujar ‘ibu memang cantik tapi anjing yang ibu bawa lebih cantik dari ibu’. Kemudian ia tuliskan kalimat berikutnya ‘apakah salah kalau saya bicara jujur dan apa adanya?’ Sebagian temannya memberikan jawaban yang mendukung prilakunya, tertawa-tawa serta membubuhkan emoticon LOL dan ROTFL di kolom komentarnya.
Sementara itu di depan layar ponsel aku terpaku dan merasa aneh. Aku langsung berkomentar “Tidak salah. Tapi sopan santun mengajarkan kita seberapa kenyangnya isi perut tidak diperkenankan mengungkapkannya di muka umum. Alias bersendawa sekeras-kerasnya. Sopan santun juga mengajarkan kita seberapa benarnya fakta namun tak diperkenankan mengatakannya sesuka hati. Artinya, ada norma-norma yang membatasi kita untuk bisa mengerem laju kata-kata agar tak melukai perasaan orang lain. Lazimnya berterus terang itu memang bagus tapi tidak dalam semua perkara kita harus berterus terang”.
Kemudian teman facebook itu membalas dengan tuduhan seperti yang aku tuliskan di atas: ‘jangan serius banget’. Terang saja komentar tersebut membuatku heran dan bertanya-tanya dalam hati. Apa komentarku berada di tempat yang tidak seharusnya? Apa iya komentarku terlalu serius? Aku serba salah dan bingung harus menjawab apa. Jadi kutulis saja di sana: “oh, iya ya. Tapi komenku juga bercanda kok” lalu menutupnya dengan emoticon senyum.
Aku benci berpura-pura, tapi tuduhannya itu membuatku malu sehingga tak menemukan kata-kata lain untuk me-replynya. Namun perkara dan tuduhan yang sama kerap terjadi ketika aku menanggapi sesuatu. Lagi-lagi aku hanya memberikan jawaban datar: ‘iya, aku memang serius orangnya’ atau ‘masa’ sih komentarku itu serius?’ Kemudian aku segera sign out dari jagad maya, lalu menghenyakkan diri ke kursi dan mulai tafakkur:
Apakah aku yang kehilangan selera humor atau mereka yang tak memiliki batasan dalam berkata-kata? Apakah orang-orang ini terbiasa bercanda penuh olokan dan bernada slapstick? Atau bercanda memang demikian, harus menggunakan kata-kata kasar dan mengandung hinaan?
Contohnya ketika penyanyi dangdut Cita citata sambil bercanda mengatakan dirinya sudah cantik ketimbang orang Papua. Atau contoh lain ketika dalam satu program komedi artis Raffi Ahmad membuat lawakan yang melecehkan profesi wartawan?
Hal yang sama berlaku untuk kasus ‘body shamming’, dimana orang-orang terbiasa melontarkan kalimat yang mengoreksi tubuh orang lain, membingkai tubuh orang lain dengan cara pandangnya, membahasakan tubuh orang lain sesuai keinginannya sekalipun fakta. Seperti, ‘kamu gendut banget ya. Makannya berlebihan ya?’ atau ‘kurus sekali sih, banyakin makan yang bergizi biar gak ringan’ dan kalimat-kalimat serupa lainnya.
Entah postingan-postingan tersebut kisah nyata atau karangannya semata, tapi tidakkah mereka mengerti bahwa sesuatu yang dianggap bercanda di satu tempat bisa menjadi serius di tempat lain? Tidakkah mereka menyadari bahwa komentar atau postingan yang mereka sebut bercanda bisa menjadi legitimasi untuk menghalalkan tindakan bullying?
Adikku pernah mengatakan bahwa ‘teman akan datang dan pergi sesuai resonansi’. Ketika kita bertipikal serius bahkan dalam bercanda sekalipun, maka orang-orang serius akan mengisi hari-hari kita. Ketika kita memosisikan diri sebagai orang yang menyukai candaan, guyonan dan sangat santai dalam pembicaraan, maka orang-orang sejenis akan menyelinap dan masuk dalam ruang gerak kita. Circle akan terbentuk sendiri sesuai dengan karakter yang kita ciptakan, sesuai dengan yang kita inginkan.
Faktanya aku memang serius. Bahkan mungkin terlalu serius bagi sebagian besar orang di dunia ini. Tapi tak apa. Itu membuatku tahu dimana aku berada, sekaligus memaksaku lebih selektif dan jeli ketika hendak memutuskan dengan siapa aku berkomunikasi.
Mungkin ini saatnya merampingkan bobot pertemanan. Saatnya untuk lebih tegas menyeleksi siapa yang layak atau tidak layak berada dalam ruang gerak. Saatnya membentuk personal branding kemudian memilih: siapa saja yang ingin kita masukkan dalam circle kita, demi kehidupan yang lebih baik.
Nantinya setelah melalui proses seleksi, teman yang tadinya sedikit akan semakin menysut. Tapi pertemanan bukan dihitung atas jumlah kontak dalam ponsel kita, juga tidak dilihat dari banyaknya orang dalam friendlist kita (meski angka acap menaikkan gengsi), tapi sejauhmana kualitasnya. ‘Karena sejatinya pertemanan itu memiliki sesuatu yang menyentuh di dalamnya’ kata Milan Kundera.
Tag: teman, serius, seleksi, lingkar pertemanan, bullying, body shamming, circle, milan kundera, serious person
COMMENTS