Pernah membayangkan bagaimana suatu penemuan mampu membuat orang-orang dari berbagai belahan penjuru bumi yang tadinya tak saling meng...
Pernah membayangkan bagaimana suatu
penemuan mampu membuat orang-orang dari berbagai belahan penjuru bumi yang
tadinya tak saling mengenal, bisa dengan akrab berkomunikasi seolah-olah sudah
berteman selama berbilang tahun? Seakan tak ada sekat di antara mereka meski wilayah
yang mereka diami terpisah oleh ribuan kilo jarak. Saking pesatnya, segala
jenis microblogging tumbuh subur dan
digandrungi masyarakat khususnya generasi millenial. Ber-chit chating via facebook, whats app, path, line dan segala
aplikasi lainnya. Terlibat diskusi seru atau debat berjam-jam, saling
mendoakan, kopi darat dan mulai menjalin silaturahmi, atau making friend yang
lama kelamaan bertemu di pelaminan.
Itu beberapa sisi baik dari
perkembangan dunia informasi saat ini. Namun aku tak hendak mengkaji perkara
negatif yang ditimbulkannya. Sebab sosial media bukan makhluk yang bisa
bergerak sendiri tanpa ada jari jemari dibelakangnya. Artinya, sosial media
hanya akan berfungsi jika manusia mulai menekan tombol register, log in, kemudian berselancar ke berbagai situs hanya
untuk melontarkan hate speech maupun
pernyataan yang bernada provokatif. Bayangkan, betapa mengerikannya wajah dunia
ketika satu makhluk yang bernama manusia mulai membuat kerusakan. Seakan-akan
mereka dilahirkan hanya untuk mengacau, merusak, dan menciptakan keonaran. Lalu
bagaimana jika seperempat penghuni bumi melakukan itu? Jawabannya, Indonesia
akan berjalan menuju gerbang keruntuhan, perlahan-lahan menjadi puing, kemudian
tinggal sejarah.
Lalu kenapa tidak kita gunakan
saja waktu yang tersisa ini untuk saling menebar manfaat, menyematkan kebahagiaan
dalam hati banyak orang sekalipun mereka tidak pernah memintanya, dan membuat
orang-orang di sekitar kita merasa berharga sampai-sampai mereka memiliki
keinginan untuk hidup lebih lama.
Pada Sepetember lalu, persis di
bulan Haji, tak sengaja aku melihat Instagram temanku. Seorang teman yang kukenal
lewat dunia maya. Rupanya ia sedang berada di Masjidil Haram, mesjid kebanggaan
seluruh umat Islam, untuk melaksanakan rukun Islam kelima. Gambar itu membawaku
ke-17 tahun lalu, pada tahun 2000. Aku ingat benar saat aku dan keluarga
melaksanakan thawaf wada’, thawaf perpisahan karena kami akan meninggalkan
Mekkah untuk terakhir kalinya. Berat rasanya mengucapkan selamat tinggal pada
kenangan selama 42hari berada di sana. Berat melepas kemelekatan kendati semua
rukun dan wajib haji telah sempurna dilaksanakan. Tapi peraturan mewajibkan demikian, maka kami harus pulang ke
tanah air. Mataku gerimis, bahuku berguncang karena tak kuasa menahan isak
tangis.
Setelah melalui seluruh proses
kepulangan, kami diantar menuju bandara King Abdul Aziz. Sesampainya di sana,
aku memperhatikan ke sekeliling. Wajah-wajah para jamaah yang telah resmi
menjadi Haji dan Hajjah terlihat sumringah, pesawat-pesawat yang take off dan
landing, para petugas ibadah haji yang menjalankan tugas mereka hilir mudik
kesana kemari, koper-koper dari ukuran kecil hingga paling besar disusun berjajar
di dekat pesawat kargo, deregen air zamzam dan berbagai kesibukan lainnya
terjadi di siang hari, di bawah langit Jeddatul Mukarromah yang berawan.
Sebelum memasuki pesawat, aku memutuskan
berjalan ke tempat yang tidak terlalu ramai dan menjauhi keramaian. Aku ingin
mengenang perjalanan ini dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Aku ingin
mengingat semua yang bisa kuingat agar kisah ini tetap membekas hingga ke ujung
usia.
Aku merapal doa, memejam mata. Kurasakan
semilir angin tanah suci membelai pipi. Udara sedikit hangat, tapi mampu meredakan
gemuruh di dadaku. Suara-suara orang-orang yang bertegur sapa, saling bertangisan,
gelak tawa, deru laju roda pesawat, sirine yang berasal dari mobil-mobil
polisi, masuk silih berganti ke telingaku. Aku
akan merindukan semua ini. Gumamku dalam hati. Perasaan ini, kebersamaan ini, suasana ini, pertemanan yang singkat
ini, tanah haram ini, bersediakah Tuhan membawaku kembali? Aku akan pulang
ke tanah air, meninggalkan seluruh cerita, meninggalkan Makkah dan Madinah. Dan
dalam hitungan jam akan sampai ke Indonesia. Meski demikian separuh hatiku akan
tinggal bersamanya, selamanya.
Iseng aku memberikan komentar
pada gambar kota Makkah di Instagram temanku tersebut. Permintaan sederhana,
seperti yang dilakukan mereka ketika mendapati orang-orang terdekatnya akan
berangkat ke tanah suci. Temanku itu tidak menanggapi komentarku barang satu
kalimat pun. Tapi aku juga tidak berharap ia melakukannya. Ia pasti sibuk
menjalankan seluruh ritual penting mulai rukun haji hingga ziarah ke makam
Rasul, keluarga, sahabat, dan para suhada. Tapi aku yakin ia akan mewujudkan
permintaan sederhana itu, ia akan mendoakanku di depan Ka’bah.
Waktu bergulir begitu cepat. Ia
seolah berlari meninggalkan harapan yang kandas, mimpi yang tak teraih, doa
yang tak terjawab, janji yang tak ditepati, persoalan yang kusut dan ekonomi
yang senantiasa butut. Ia kembali merentangkan tangannya pada rencana
berikutnya, pada agenda yang disusun ulang, pada harapan-harapan baru, pada
mimpi-mimpi yang ditulis kembali. Dan tentu saja kecepatan kaki waktu pula yang
berperan membuat ku lupa pada permintaan sederhana itu.
Di satu senggang yang lengang
pada 11 september 2017, malam datang sekonyong-konyong karena mendung
menyembunyikan senja di langit barat. Log
in ke facebook yang cukup lama diabaikan merupakan sebuah aktvitas yang
yang cukup mampu mengusir rasa bosan. Di sana, ramai pesan masuk yang
menanyakan keberadaanku: kenapa menghilang, kenapa tidak ada postingan baru,
kemana saja, ada yang sekedar say hello
dan menanyakan kenapa aku tidak menulis lagi. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada
salah satu pesan masuk yang berisi teks dan gambar.
‘dari sudut
hajar aswad dan multazam, mendoakan Dinna, supaya selalu sehat, lancar rejeki,
dan selalu dalam lindungan Allah.. dikabulkan doa-doa baiknya.. mendapatkan
pasangan hidup yang baik tepat pada waktunya sesuai takdir Allah.. dan
dilimpahi berkah dan rahmat dari Allah dalam setiap langkahnya…’
Lagi, aku menatap layar ponsel
dan membaca pesan itu lamat-lamat. Serangkaian doa dan sebuah gambar dimana
namaku ia tulis di atas secarik kertas dan ia snap dengan Ka’bah sebagai latarnya. Seketika malam yang tadinya
berselimut mendung berubah syahdu, bosan yang tadinya asik bergelayut pada
saraf lenyap dalam sekejap.
Kadang, kebahagiaan tidak terjadi
lewat perkara gegap gempita, melainkan dengan kejutan-kejutan kecil namun
bermakna. Ternyata masih ada yang mau
merepotkan dirinya demi menyenangkan orang lain. Aku tak mengira ia bisa
melakukan itu di tengah konsentrasinya sebagai jamaah.
Malam itu tanpa bintang. Hanya
petir yang sesekali menggelepar agak keras hingga kilatnya menampar semesta. Aku
berdoa seperti halnya ia di sana. Semoga ia diberi kesehatan oleh Tuhan, dipanjangkan
usia, dikelilingi orang-orang baik dan hebat, senantiasa dlimpahi berkah dan
kebahagiaan, dihilangkan kekhawatiran dan kegalauan dari hati dan pikirannya,
diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan selalu dianugerahi
kekuatan dan kesabaran dalam menapaki perjalanan berikutnya.
Dear BNP… Meski tidak diminta,
tapi aku tetap menuliskan cerita ini, (sempatnya hari ini...). Terimakasih
karena telah melakukannya untukku di tengah repot dan padatnya kegiatan
menjalani aktivitas sebagai jamaah.
Tag: jamaah haji, september 2017,
doa, ka’bah, tanah suci, mabrur

COMMENTS