Ejekan atau olokan bukan merupakan hal baru bagi setiap orang. Generasi zaman sekarang menyebutnya bully . Betapa menyebalkannya ketika ...
Ejekan atau olokan bukan merupakan hal baru bagi setiap orang. Generasi zaman sekarang menyebutnya bully. Betapa menyebalkannya ketika kau diperlakukan buruk oleh orang lain, siapapun itu. Seolah-olah kau adalah makhluk tidak berguna dan paling menyedihkan di dunia. Hampir semua orang pernah mengalaminya, termasuk aku.
Namaku Suhana. Aku sudah mengalami kejahatan bully sejak mengenyam pendidikan sekolah dasar. Beberapa teman sekolah menggelariku si kaki kudisan. Ya, mereka memang benar. Karena semasa menempuh pendidikan di sekolah dasar aku terserang luka dan kudis parah di kedua telapak kaki. Aku mengalaminya selama 4 tahun. Entah bagaimana mulanya penyakit tersebut menghampiriku. Tapi dokter mendiagnosa bahwa aku terkena penyakit kulit sekaligus menambahkan catatan kalau kakiku sangat sensitif terhadap semen kasar dan pasir. Jika penyakitku kambuh, aku sampai harus digendong masuk ke kelas. Kadang-kadang pergerakanku harus dibantu kursi roda atau dipapah oleh sedikit teman dekat. Dan itu jelas sangat memalukan.
Akan tetapi karena kami hidup pada fase kanak-kanak, ejekan hanya bertahan sehari dua hari. Keesokannya aku dan si pembully itu berteman seperti sedia kala. Kami masih berjalan beriringan, tertawa bersama, mulai melupakan pertengkaran kemarin dan menganggapnya tak pernah terjadi. Kami juga berjanji untuk tidak lagi saling melontarkan ejekan maupun olokan. Meski minggu berikutnya janji tersebut kami langgar. Begitulah. Tak ada janji yang ditepati selain terbitnya matahari esok pagi. Terlebih janji tersebut dibuat oleh anak-anak berusia tujuh atau delapan.
Tapi roda bumi terus berputar. Detik berganti hari. Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Di usia 14, persis saat aku bersekolah di Tsanawiyah (setingkat SMP), aku tumbuh menjadi perempuan yang dipaksa mandiri oleh keadaan karena Ibu dipeluk kematian. Sepeninggal Ibu, aku harus menjadi sosok yang tegar dan tangguh, demi ke lima adik-adikku. “jangan menangis, tak boleh menunjukkan kelemahan” begitu pesan Ayah. Selama dua tahun lebih ayahku yang sangat pemarah itu menjadi orang tua tunggal dalam kehidupan keluarga kami.
Ayah tidak seperti ibu yang memiliki persediaan kesabaran yang tak berbilang jumlahnya. Ayah tidak seperti ibu yang memiliki simpanan kata-kata untuk menasihati anak-anaknya. Ayah tak seperti ibu yang membuka pagi sekaligus menutup malam dengan senyum dan pelukan, tak peduli seburuk apapun situasi hatinya. Ayah hanya punya amarah. Ia menyelesaikan hampir seluruh pekerjaannya dengan komposisi 70 persen emosi dan sisanya dplomasi. Sehingga aku dan adik-adikku tak terbiasa bercerita dengannya. Kami tak pernah membicarakan apapun dengan ayah. Itu sebabnya ketika ibu pergi, kami merasa sangat kehilangan. Kami tak punya tempat untuk mencurahkan perasaan. Kami gamang dan kehilangan pegangan. Terutama ketika aku menerima perlakuan tidak menyenangkan di usia 16, dan kusebut itu sebagai bully pertamaku.
Pada saat itulah, saat aku duduk di bangku SMA, bully menemukan klimaksnya. Seorang teman sekelas acap kali menyebutku pendek dan berbibir tebal. Namanya Husni. Ia lelaki bertubuh tegap, tinggi, berambut keriting dan berkulit hitam. “Halo anak kecil berbibir Titi DJ” begitu katanya setiap kali kami bertemu. Di depanku, ia berjalan seperti jalan orang yang terlahir dengan kretinisme, (yaitu orang yang terkena penyakit hipotiroidisme bawaan yang dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan) sembari meneriakkan “pendek”. Ia juga sering memegang bibirnya kemudian menariknya ke atas dan ke bawah sambil menjeritkan “Bibir Titi DJ” padaku. Tadinya aku tak tahu apa maksudnya. Tapi aku mendapat jawaban mengejutkan dari tanteku “penyanyi hebat asal Indonesia yang juga terkenal dengan bibir sensualnya. Sensual itu berbibir tebal dan penuh tapi seksi, jadi terkesan sedikit menggoda”, ujarnya panjang lebar. Perlu diketahui pada masa itu perempuan berbibir tipis menjadi primadona.
Lantas, apa yang salah dengan ukuran 147cm (tinggi tubuhku saat SMA)? Apa yang aneh dengan bibir tebal? Tanyaku pada diri sendiri. Aku berpikir keras menemukan jawabannya namun usahaku membentur dinding. Sebab, aku nyaris tak menemukan kesalahan dalam ciptaan Tuhan. Ibu selalu mengajariku, mengajari kami untuk bersyukur pada apa-apa yang Tuhan berikan. “Karena di dunia ini, tak ada yang terjadi dengan kebetulan.” begitu kata Ibu 17 tahun lalu.
Semakin lama kelakuan Husni dan gengnya semakin menjadi-jadi. Mereka acap menggangguku dengan ejekan-ejekan yang menyakitkan hati. Pernah terlintas di benakku ingin menabraknya dengan sepeda motor agar ia menghilang dari sekolah. Setidaknya aku tak perlu melihatnya beberapa minggu. Namun niat itu kuurungkan sebab aku tidak dilahirkan untuk menyelesaikan masalah dengan cara murahan. Lalu bagaimana denganku? Aku lelah. Sementara itu tak mungkin aku mengadukan segalanya pada ayah.
Teman baikku Utami memintaku melaporkan sikap Husni ke Kepala Sekolah. Tapi aku merasa belum waktunya untuk bertindak secepat itu. “lalu sampai kapan kamu akan menahan sedih dan sakit hati karena ejekan anak berandalan itu, Suha?” Aku menatap Utami kemudian menggeleng pelan. Aku belum menemukan cara untuk menyelesaikannya. Entahlah. Aku juga bosan diledek terus-terusan. Tapi Utami benar. Sampai kapan aku harus bertahan dengan ejekan Husni? Kalau aku hanya diam, berarti aku terima diperlakukan buruk. Atau, aku takut memperjuangkan martabatku?
Bully tersebut berlangsung terus menerus, setiap hari, setiap minggu, dan sudah memasuki bulan berikutnya. Hal ini membuat jiwaku memberontaktidak boleh diam dan menganggap perlakuannya sebagai hal sepele atau sekedar bercanda. Aku bukan lagi perempuan yang hidup di masa kanak-kanak yang mana pikirannya belum sempurna untuk mencerna ejekan. Aku bukan lagi anak kecil yang gagal membedakan olokan atau guyonan. Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui hal-hal yang bisa kuterima dan tak bisa kuterima. Aku bisa membuat batasan-batasanku serta menentukan batas mana yang boleh dan tidak boleh dilewati orang lain. Dan untuk itu aku harus bertindak. Demi martabatku, demi kebaikan masa depanku, demi hidupku.
Setiap bel istirahat berbunyi, seperti biasa Husni dan gengnya selalu berlari menuju kantin sekolah. Aku melihatnya bersama gengnya memasuki kantin yang berada di dekat pos satpam. Aku mengumpulkan segenap keberanian, kemudian segera menyusulnya. Di dalam kantin, di depan pemilik dan karyawan, juga di hadapan teman-teman sekolah, aku mengambil posisi berdiri tepat di depan Husni and the gank yang sedang mengunyah nasi goreng, dan mulai berbicara:
“Hei, Husni! Ada masalah apa kau denganku makanya kau sering mengejekku? Aku langsung membentaknya tanpa salam pembuka hingga membuatnya mendungakkan kepala. “Selama ini aku diam, bukan karena aku takut. Aku bisa saja menyuruh ayahku meninjumu, atau bahkan melenyapkanmu. Kau tahu kan siapa ayahku? Tapi kupikir ayahku gak perlu turun tangan hanya untuk membereskan orang sepertimu. Cukup aku, hanya aku!” Kataku menunjuk diri sendiri. Aku masih sangat ingat ketika itu aku seperti bukan berbicara padanya, melainkan berteriak. Berteriak dengan tegas dan cepat.
“Aku juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Mengejekmu hitam gosong, keriting busuk, dan banyak lagi yang bisa kukatakan tentang kekurangan-kekuranganmu. Tapi aku gak sepertimu. Aku diajarkan akhlak. Aku dididik dengan ilmu!” tukasku sembari mengarahkan telunjuk kiri ke pelipis kiri. Sementara Husni and the genk memilih acuh dan angkuh.
“Lebih dari sebulan kau dan gengmu selalu mengejekku pendek dan berbibir Titi DJ. Apa yang salah dengan itu? Aku pendek? Ya, memang benar aku pendek. Tapi aku gak peduli karena bagiku, gak ada yang salah dengan pendek badan asal bukan pendek akal. Akalku masih berfungsi dengan baik. Dan bibirku tebal kayak Titi DJ? Oh ya! Betul! Tapi tak apa. Aku gak bermasalah dengan bibir tebal selama yang keluar dari bibirku ini kata-kata baik, berguna, dan bermanfaat, bukan sampah!!!”
“Kau ingat ya” sergahku sambil menunjuk wajahnya “kalau setelah ini kau masih mengejekku pendek dan berbibir tebal, aku akan mengadukanmu pada kelapa sekolah supaya kau diskorsing atau dikeluarkan dari sini!” Husni masih diam tapi wajahnya membiaskan keangkuhan. Kepalanya tegak, tubuhnya tegang dan ia menatapku tajam. Itu bagus. Berarti ia mendengar dan memperhatikan setiap kalimatku. Aku senang, aku lega. Sampai di sini aku merasa sudah menyampaikan semua kekesalanku dan bergegas pergi. Tapi aku teringat satu hal lagi. Satu hal yang paling penting, satu hal yang telah kurencanakan akan kukatakan sewaktu akan menghadapnya:
“Kalau kupikir-pikir, di sekolah ini banyak yang lebih pendek dari aku. Banyak juga yang berbibir tebal. Tapi kenapa harus aku yang selalu kau ejek? Atau jangan-jangan kau suka sama aku ya? Hmmm??” Tanyaku dengan gaya menantang dan sambil berkecak pinggang. Tiba-tiba tubuh yang tadinya tegang, kepala yang tadinya tegak, wajah yang tadinya angkuh itu mendadak luruh. Husni menjelma seperti kerupuk yang disiram air dingin.
“Kenapa? Kau malu?” Kali ini aku menurunkan intonasi suara. “Kau sudah dewasa kan? Kalau kau suka pada seseorang, lakukan secara dewasa. Katakan terus terang, ucapkan baik-baik. Jadi laki-laki jangan pengecut!”
Husni meremas aqua cup keras-keras hingga isinya muncrat ke meja. “aku bukan pengecut!!” ujarnya dengan suara pelan seperti desis. Nyaris tak terdengar. Tapi telingaku cukup baik untuk menangkap suaranya, bahkan desisnya.
“Oh, kau memang pengecut!!” kataku geram. “Pengecut hanya bisa mengejek, menghina, mencaci maki, dan merendahkan orang lain. Seperti yang sering kau lakukan!!!”
Aku berbalik membelakangi Husni dan seluruh penghuni kantin sekolah. Sulit bagiku mengendalikan emosi karena itu aku harus bicara keras-keras bahkan sedikit berteriak agar tubuhku tetap stabil. Kenyataannya aku gemetaran dan merasa sedikit takut, tapi aku baik-baik saja. Sebelum aku benar-benar meninggalkan kantin, aku sempat menoleh padanya,
“minggu depan akan diadakan program sunat massal di puskemas dekat rumahku”, kali ini aku menurunkan intonasi. “Barangkali kau mau datang dan mendaftarkan diri.” ujarku sambil berlalu dengan senyum kemenangan.
Tag: bullying, sekolah, pendek, ejek

COMMENTS