Kode atau isarat (anak zaman sekarang lebih suka menyebutnya ‘sinyal’), selalu menimbulkan banyak pengertian yang membuat sebagian orang...
Kode atau isarat (anak zaman sekarang lebih suka menyebutnya ‘sinyal’), selalu menimbulkan banyak pengertian yang membuat sebagian orang kepayahan memahaminya. Ia multi tafsir, penuh dugaan, penuh prediksi, penuh presumsi dan penuh rekaan. Kadang-kadang bisa dimengerti dengan tepat, tapi amat kerap keliru hingga maksudnya melenceng dari tujuan. Karena sifatnya yang mengandung spekulasi, maka kode atau isarat atau sinyal semestinya ikut lenyap bersama keruntuhan fasisme. Seharusnya sudah bangkrut ditelan zaman yang sedang berkembang ke arah dimana yang cepat memakan yang lambat. Semestinya sudah musnah sejak dunia modern dengan kekuatan teknologinya yang maha memukau itu memunculkan microblogging seperti Line, Whatsapp, Facebook, Instagram dan berbagai jenis aplikasi yang berhasil mengubah hal intim dan privat menjadi sesuatu yang kolosal dan terbuka.
Dalam urusan cinta misalnya, tak perlu lagi ada berlembar-lembar kata pengantar ketika akan mengekspresikan perasaan pada seseorang yang dikagumi. Cukup sekali isyarat, lalu utarakan dengan baik, bersahaja dan tepat sasaran. Tidak perlu ada kode satu, dua, tiga hingga kode dengan ratusan episode yang hanya mampu menghasilkan sedikit pijar dan kemudian akan padam dengan sekali kibasan angin. Tak perlu sinyal-sinyal tambahan namun efeknya sangat lemah yang pada akhirnya tak membawa pengaruh apa-apa. Juga tidak perlu bermacam-macam isarat yang acap bermakna ambigu sehingga orang tercermat sekalipun tak kan bisa memahaminya. Sekarang kita telah berada di ujung waktu, sebab itu tak zamannya lagi merpati malu-malu.
Berbagai temuan aplikasi dapat digunakan untuk memperlancar proses itu. Tinggal mengetik satu dua baris kalimat, bubuhkan emoticon yang mendukung, kemudian kirimkan pada nomor yang dituju. Hanya dalam hitungan detik si pemilik nomor akan mengetahui isi hatimu. Setelah itu tentu ia akan flashback ke saat-saat dimana kau bertingkah konyol atau mendadak gagu, ia pasti mengingat-ingat sinyal yang kau kirimkan lewat sekeping coklat, bunga atau buku. Lalu ia akan mencari-cari pesona dalam dirimu yang dapat membangkitkan ketertarikannya.
Mohon bersabar menunggu jawaban, karena menjatuhkan pilihan serta memantapkan keyakinan pada ‘sosok baru’ tak semudah prasangkamu. Ia perlu jeda untuk memikirkan keseriusanmu. Ia juga perlu bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah kau sosok yang ia cari selama ini, yang ia tunggu, yang ia butuhkan. Karena pada umumnya perempuan selalu mencari stabilitas dan kesetiaan.
Jika kau orangnya, well congratulation. Artinya usahamu menemui wujudnya dalam bentuk paling sempurna. Namun jika tidak, aku harus memberikan dua jempol sambil mengatakan bahwa kau merupakan sedikit dari orang-orang keren yang berani jatuh cinta pada ketidakpastian. Adakalanya kisah cinta seseorang tak berjalan dengan mulus. Adakalanya juga ia harus mengalami patah hati agar ia tahu makna mencintai.
Pada tahap ini kau butuh hiburan karena seseorang yang kehilangan cinta bagaikan tubuh
kehilangan darah. Bersiaplah menikmati hiburan itu sendirian sembari berseru-seru gembira
sebelum kau siap membuka hati dan menentukan target berikutnya.
Sebenarnya kau bisa saja mengurung diri di kamar dan mengkhotbahi dirimu bahwa kau orang paling malang di dunia. Atau kau mengalah pada penolakan dan menganggapnya sebagai suratan tangan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Selama dunia terus berputar, selagi di bumi ini berlangsung proses kelahiran dan kematian, maka selama itu pula kau masih memiliki peluang. Itu berarti kau bebas memilih takdirmu.
Akan tetapi itu bukan cara yang kupilih (kendati menggunakan alat teknologi paling canggih sekalipun) untuk membuat seseorang tahu tentang perasaanku padanya. Tidak, jika dia merupakan orang yang aku inginkan jadi pasangan hidupku. Bagiku ungkapan perasaan menempati posisi paling penting dalam perjalanan hidup, tidak main-main, bukan dagelan. Segala aspek yang bisa kulihat –sebelum mengutarakan perasaanku, telah aku pikirkan masak-masak kemudian aku pertimbangkan betul-betul agar tidak menyesalinya. Makanya aku memilih melakukannya dengan serius dan hikmat.
Aku belum dan bahkan tidak pernah membayangkan akan mengucapkan ‘aku suka kamu’ dari sosial media atau via telepon seluler. Kalaupun pernah terjadi, bisa kupastikan ucapan itu tidak berdasarkan akal sehatku maupun atas kesadaran paling prima.
Maksudku, aku pernah mengatakannya pada beberapa orang semata-mata karena aku menyukai hobi dan aktivitas mereka seperti membaca buku-buku ilmiah yang paling rumit dipahami, memelihara kucing dan menjadikan mereka sahabat alih-alih sekedar binatang peliharaan; menjadi traveller karena mencari pengalaman yang berkesan bukan hanya mengikuti tren, mencari tempat indah atau bingung menghabiskan weekend; berkutat dalam organisasi massa atau partai politik karena benar-benar bergairah akan pengetahuan dan kekuasaan bukan sekedar ikut-ikutan apalagi demi penampilan.
Kupikir setiap orang yang menjalani hidup dengan keseriusan dan penuh perjuangan –bukan dibawah pengaruh tren, patut memperoleh rasa hormat dan layak mendapatkan apresiasi seperti rasa suka maupun decak kagum. Sebab itulah aku mengatakan ‘I like you’ atau ‘I adore you’ pada mereka. Bahkan pernah pula aku mengucapkan kalimat paling ekstrim ‘I love you’ ketika mereka sukses dalam bidang yang digeluti. Ya, aku tahu itu salah karena aku mengatakannya tanpa lebih dulu memikirkan konsekwensinya. Aku juga tahu itu dapat memicu kesalahpahaman yang bergegas. Untungnya yang kutakutkan tak pernah terjadi.
Memang tak banyak orang yang berani mengungkapkan perasaan tanpa mengetahui jawabannya. Tapi tak ada salahnya menunjukkan ketertarikan sedikit lebih jelas pada sosok yang kau sukai, terlebih pada orang yang ingin kau jadikan masa depan. Apalagi jika orang tersebut senantiasa jadi
pusat perhatian, memiliki magnet atau daya tarik yang besar bagi banyak orang.
Sependek pengamatanku, aku menemukan fakta bahwa menyembunyikan perasaan juga bisa merugikan. Jika seseorang menutupi rasa sukanya pada seseorang, dia mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya. Bisa jadi orang yang disukai itu telah pergi untuk beberapa urusan. Melanjutkan studi, misalnya. Atau barangkali karena mutasi kerja yang mengharuskannya melintasi tempat yang jauh.
Namun lebih ngenes ketika orang yang kau sukai ternyata telah dilamar orang lain. Jika itu yang terjadi mungkin kau akan berusaha meneguhkan jiwamu sambil menggumamkan kalimat lawas: ‘gak jodoh’. Tapi percayalah bahwa dunia yang kau anggap lugu dan baik ini bisa menjadi ruang konser paduan suara yang akan mendendangkan lagu dengan keseluruhan liriknya berisi “PENGECUT”.
Berusahalah memperoleh sesuatu yang paling kau inginkan. Lakukan dengan sepenuh hati bukan berdasarkan isyarat, sinyal maupun kode-kodean. Karena kita terlalu tua (bahasa lain dari memalukan, menggelikan) untuk terus menerus memberikan kode-kode atau sinyal-sinyal lemah di zaman secanggih dan semodern ini. Meski tak ada yang salah dengan kode atau memberi pertanda, tapi akan lebih afdhol jika disertai dengan lisan dan pembuktian kata-kata.
Jika kau sungguh-sungguh menyukainya, maka usahamu tak bisa hanya dengan memberinya coklat
karena yang akan dia ketahui hanyalah betapa dermawannya dirimu. Tak bisa hanya dengan
menghadiahinya buku-buku paling bagus karena yang akan dia tangkap hanyalah betapa cerdas
dan dalamnya pengetahuanmu. Tak bisa hanya dengan mengajaknya makan malam karena yang
akan dia mengerti hanyalah bagaimana selera makanmu. Tak bisa pula hanya dengan
mengomentari setiap postingan yang dia unggah di sosial media atau membombardirnya dengan
pesan-pesan berantai, karena yang akan dia pahami dari caramu adalah ‘BETAPA KAU ORANG
YANG PALING TIDAK PUNYA PESONA DI DUNIA INI, YANG SEBENARNYA SUDAH DIA CURIGAI SEJAK LAMA, TAPI SEKARANG DIA YAKIN’.
Tag: kode, isyarat, sinyal, love, hubungan, pasangan, perasaan

COMMENTS