Menyibak Kembali Tabir Sejarah Melalui Film G30S/PKI

Sejarah, seringkali mengandung kepahitan. Namun ada hal-hal yang bisa kita temukan kembali hanya dengan menggali berkas masa lalu beta...


Sejarah, seringkali mengandung kepahitan. Namun ada hal-hal yang bisa kita temukan kembali hanya dengan menggali berkas masa lalu betapapun kelamnya cerita yang dituliskan. Ada hal-hal yang bisa kita dapatkan hanya dengan melongok catatan sejarah sekalipun ia berisi kekejian, kebijakan yang culas, keserakahan, atau bahkan dendam yang tak pernah sudah. Bukan untuk menyoal siapa yang pantas disalahkan, tidak pula untuk mencari-cari pihak mana yang harus bertangung jawab atas tragedi yang telah pernah terjadi. Melainkan untuk memperoleh sesuatu yang baru pada sesuatu yang telah lampau. Sebab sebagai masyarakat berperadaban yang hidup di tengah kemajuan zaman, kita tak bisa melulu mengunyah-ngunyah informasi lama untuk menjelaskan kisah yang masih berselimut kabut. Itulah sebabnya mengapa pemutaran ulang film G30S/PKI menjadi penting.

Di sisi lain, pernyataan Presiden Joko Widodo beberapa pekan lalu mengenai pemutaran kembali film Pengkhianatan G30S/PKI sontak mengundang reaksi dari banyak pihak. Sebagian ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa film yang penuh kontroversi sejarah tersebut tak layak ditonton oleh sebab menyuguhkan ragam kengerian seperti penyiksaan, kekerasan, bertabur kata-kata kasar serta kebencian. Namun tak sedikit pula yang mengamini agar film ini ditonton ulang seperti yang pernah berlaku di era Rezim Orde Baru, dimana Presiden Soeharto mengintruksikan TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi Indonesia kala itu, untuk menayangkannya setiap tahun pada tanggal 30 September malam.

Awalnya gagasan ‘nonton bareng’ film dokudrama (dokumenter drama) propaganda ini datang dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Beliau menyarankan agar film G30S/PKI disaksikan oleh publik terutama para prajurit sekalipun tak dketahui apa motif dibalik gagasan itu. Adapun Presiden tak mengisyaratkan adanya penolakan meski beberapa politisi PDIP –perahu yang mengantarkan Jokowi meraih posisi kepala negara, mengambil sikap berseberangan. Presiden malah menambahkan agar film yang disutradai Arifin C Noor ini dapat diproduksi ulang tapi dalam versi yang lebih kekinian agar bisa diterima oleh generasi sekarang.

Saya masih sangat ingat ketika mengenyam pendidikan sekolah dasar, guru-guru meminta seluruh siswa agar menonton sebuah film yang mana tubuh kanak-kanak kami menyebutnya sebagai film pembantaian atau film PKI. Jam pelajaran dipersingkat sehingga siswa diperbolehkan pulang lebih cepat dari biasanya. Barangkali tujuannya demi membuat persiapan menonton di depan TV. Bahkan sempat juga digelar acara ‘nonton bareng’ di lapangan terbuka, ‘sebagai bahan ajar dan renungan sejarah’, begitu pesannya saat itu.

Adegan dibuka dengan shot dimana PKI menyerang sebuah sekolah Islam, merongrong masuk ke dalam mesjid, membuat kekacauan, melempar dan menginjak kitab suci. Kemudian sesuai ­genre-nya –yang bergaya dokumenter dari koran, acara radio dan acara televisi, penonton disajikan kepingan-kepingan pita film, kliping-kliping koran, serta rekaman suara dari siaran radio yang muncul silih berganti. Adegan selanjutnya menggambarkan kejadian pelik seperti kesemerawutan, kemiskinan, suasana rapat dan instruksi, pemukulan, caci maki, serta kepulan asap rokok.

Sayangnya banyak komentar negatif terhadap film ini, terlebih dalam hal penyajian yang katanya berlebih-lebihan. Namun ada yang tak dipahami sebagian orang bahwa sejatinya fiksi tak dapat dipaksa menjadi realita. Di atas pentas, di serangkaian panggung, di dalam film, fiksi memiliki ‘kebenarannya’ sendiri. kita tak boleh bicara akurat terhadap film fiksi” begitu kata Salim Said. Fiksi tak bisa ditekan untuk mengikuti teks. Malah sebaliknya ia tunduk pada aturan sutradara, ia patuh pada tuntutan skenario.

Apapun itu, ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ benar-benar sebuah film yang mampu memicu emosi dan adrenalin. Sebuah film yang membangkitkan imajinasi tentang wajah kekuasaan yang mempesona sekaligus mencekam. Dan seperti kisah-kisah heroic pada umumnya, film G30S/PKI tentu saja tak luput dari akhir yang membahagiakan dimana kemenangan dan sorak sorai perjuangan membahana di udara.

Hanya saja soal menyoal perkara validitas film ini menyeruak dalam benak, sebenarnya cerita apa yang hendak disampaikan oleh penulis film tersebut? Kemenangan macam apa yang telah diraih? Siapa yang memperoleh kemenangan? Apa yang diperjuangkan? Siapa musuh negara sebenarnya? Apakah negara pernah mengalami kudeta? Kenapa estafet kepemimpinan berganti dalam waktu sedemikian singkat? Apakah DN. Aidit, si pengagum Mao Ze Dong yang dalam sejarah disebut sebagai rekan politik Soekarno merupakan jelmaan Zeus yang bisa menciptakan kekacauan bagi negara dalam sekejap mata? Apakah PKI yang pernah menjadi salah satu dari empat partai politik pemenang pemilu 1955, merasa telah memiliki kekuatan cukup besar sehingga percaya diri melancarkan serangan menghadapi ABRI? Lalu, bagaimana dengan dewan jenderal yang dibunuh hanya dalam waktu satu malam?

Selama kurang lebih 14 tahun film berbau intrik dan kekerasan yang berdurasi 271 menit ini terus diputar layaknya dongeng Cinderella dan Sepatu Kaca. Tak tanggung-tanggung, pemerintah melalui PPFN (Pusat Produksi Film Negara) yang pada waktu itu digawangi Brigjend Gufran Dwipayana, menggelontorkan dana sebesar 800 juta. Sungguh nominal yang cukup fantastis untuk biaya pembuatan film dokumenter di tengah depresiasi ekonomi. Film ini (dipaksa) masuk ke ruang-ruang kelas, mampir di rumah-rumah, tak ketinggalan ia juga hadir di setiap lembaga dan intansi. Maka tak perlu heran mengapa film ini menoreh gelar ‘film terlaris’ dan diganjar beberapa nominasi dan penghargaan, meski di samping itu para pengamat film dan sineas memberi ulasan positif mengenai penataan musik, penataan artistik, serta aspek visualnya.

Hingga di tahun 1998, empat bulan setelah jatuhnya rezim otoritarianisme birokrasi Orde Baru, film G30S/PKI dilarang beredar. Ia tidak lagi menjadi film yang masuk kategori wajib tonton karena dianggap memanipulasi sejarah serta tidak adanya akurasi antar cerita dan realitas. Menteri Penerangan, kala itu dijabat oleh Yunus Yospiah mengeluarkan keputusan agar pemutaran film ini dihentikan. Setelah itu film yang tadinya bertajuk Sejarah Orde Baru ini pun menggerus minat dan perhatian publik sehingga tak lagi diperbincangkan. Ia lenyap bersama gelak tawa pelaku serta jerit tangis para korban.

Hanya saja alasan pelarangan tersebut tak mampu menjawab sederet panjang tanda tanya yang tersisa dari ‘ketidaksempurnaan’ sejarah. Pemerintah tak menyediakan solusi atas segala laku yang telah dipraktekkan: membuat film, menjadikannya tontonan wajib selama belasan tahun, kemudian mengakhirinya begitu saja. Memang, penguasa berhak membuat keputusan dan kadang tidak perlu menjelaskan keputusannya pada siapapun. Akan tetapi jauh di balik itu semua, kenangan terhadap kejahilan pada diri manusia, kenangan terhadap keserakahan atas kekuasaan menjadi ingatan yang tak pernah lekang. Larangan hanya akan menghentikan perjalanan film, namun tak akan mampu meredam ketakutan, kecemasan, serta amarah sebagai efek yang ditimbulkannya.

Masyarakat khususnya dari kedua belah pihak yang pernah hidup di masa pergolakan 65’, baik itu korban keegoisan PKI maupun korban dari PKI itu sendiri akan menderita. Mereka akan mengalami trauma berkepanjangan, terluka karena dihimpit dendam masalalu, senantiasa dikepung teror dan rasa malu. Sementara generasi berikutnya, karena hegemoni kekuasaan ditambah referensi yang dibingkai berbagai analisis dari yang biasa hingga yang seram, serta percikan cerita dari para penggemar hoax, akan dibelah oleh prasangka dan kebencian. Maka atas dasar itulah publik berhak menengok kembali masa lalu yang terdiri atas kepingan-kepingan yang tak utuh, meski untuk itu kita harus sekali lagi mengalami pengelompokan-pengelompokan hasil dari pemikiran yang berlainan atau opini yang berbeda-beda.

Namun seperti pernyataan David Apter dalam bukunya Introduction to Political Analysis bahwa kadang-kadang konflik yang mendalam dapat dilepaskan dalam sebuah ledakan yang mempunyai akibat membersihkan. Mungkin sebagian konflik akan tetap bertahan, atau sebagian lain semakin membesar dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk kemudian menjadi surut. Namun hal demikian sangat wajar terjadi sebab beban sejarah yang begitu berat memang tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Berkaca dari sejarah Dinasti Joseon Korea pada abad ke-19 di bawah kepemimpinan Raja Sukjong (1674-1720) yang telah dirilis dalam bentuk drama. Terdapat dua versi kisah yang sangat bertolak belakang. Versi pertama menggambarkan Raja Sukjong hidup bahagia bersama selir Suk dari wangsa Choi yang memiliki budi pekerti halus, tulus dan penuh kesederhanaan sehingga Raja Sukjong segera menaikkan statusnya menjadi bangsawan. Sementara selir Hee dari wangsa Indong Jang dikenal sebagai perempuan ambisius, serakah, berkuasa dan merusak kehidupan Raja Sukjong. Kemudian versi kedua menceritakan sebaliknya, Raja Sukjong hidup damai bersama selir Hee yang ia angkat menjadi permaisuri (Dinasti Joseon yang dikepalai Raja Sukjong mencatat sejarah karena mengangkat selir sebagai permaisuri). Meski kebersamaan tersebut hanya beberapa saat karena selir Hee terpaksa mengakhiri hidupnya dengan meminum racun akibat fitnah dan adu domba dari selir Suk.

Entah mana dari kedua versi tersebut yang lebih mendekati sejarah. Namun faktanya pada tahun 1969, makam selir Hee dipindah ke Kota Goyang, sehingga makam Raja Sukjong, Ratu Inhyeon dan Jang Hee Bin berada di tempat dan lokasi yang sama. Adapun hal baiknya masyarakat Korea diberikan pilihan, kisah versi mana yang mereka jadikan pedoman.

Sejarah senantiasa ditulis kembali dengan berbagai persfektip. Karena hakikatnya sebuah kisah (sejarah) ibarat lingkaran yang memiliki banyak sudut pandang. Sudah tentu tak ada pendapat yang seragam. Sementara itu perspektif akan memengaruhi persepsi. Yang jelas tak ada yang salah ketika meyakini sesuatu sesuai dengan keinginan kita, sesuai dengan filter kita sendiri. Pun tak ada larangan mempercayai sesuatu yang sedikit berbeda dari versi sebelumnya.

Dalam hal ini saya sangat mengapresiasi Presiden Jokowi dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang telah membuka wacana ‘nonton bareng’ film ‘Pengkhianatan G30S/PKI. Ini merupakan keputusan politik yang berani meski bercampur sedikit ragu. Tapi mungkin begitulah sebaiknya. Sebab tak zaman lagi merpati malu-malu.


Tag: pengkhianatan, PKI, September 1965, G30S/PKI, sejarah, politis , Joko Widodo

COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: Menyibak Kembali Tabir Sejarah Melalui Film G30S/PKI
Menyibak Kembali Tabir Sejarah Melalui Film G30S/PKI
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGu8Wrfl5eArW66Ixwv1zgAypsW2LirKuWAPf0NzkE00jTEB6Zt1FCEmAMyX023DvdJAk0degXvomZVL7XqsUDASZHwHmXGxxEomLpdNob5qRuhyyWVg4TzoifFMfvi-vGLEXE8lXHSGg/s640/Menyibak+Kembali+Tabir+Sejarah+Melalui+Film+G30SPKI.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGu8Wrfl5eArW66Ixwv1zgAypsW2LirKuWAPf0NzkE00jTEB6Zt1FCEmAMyX023DvdJAk0degXvomZVL7XqsUDASZHwHmXGxxEomLpdNob5qRuhyyWVg4TzoifFMfvi-vGLEXE8lXHSGg/s72-c/Menyibak+Kembali+Tabir+Sejarah+Melalui+Film+G30SPKI.jpg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/09/menyibak-kembali-tabir-sejarah-melalui.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/09/menyibak-kembali-tabir-sejarah-melalui.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy