Saya adalah pengguna moda transportasi publik ini sejak tahun 2002. Ketika itu, dari Kota Tanjungbalai saya akan berangkat menuju Kota...
Saya adalah pengguna moda
transportasi publik ini sejak tahun 2002. Ketika itu, dari Kota Tanjungbalai
saya akan berangkat menuju Kota Medan untuk melengkapi berkas administrasi
sebagai sarat dan ketentuan karena diterima di sebuah universitas ber-flat
merah. Selain Kereta Api, jasa transportasi yang tersedia kala itu adalah Bus
dan Taxi. Hanya saja jika memutuskan menaiki kenderaan ini, penumpang harus
siap ngos-ngosan dan berdebar-debar sepanjang jalan. Terutama Bus yang terkenal
dengan keganasan para driver di balik
kemudi. Agaknya mereka tak mengenal prinsip keamanan dan kenyamanan sehingga
salip menyalip kenderaan merupakan sebuah keharusan sekaligus kepuasan karena
menantang adrenalin. “Gas
teruuuuussss…!!” begitu pekik para driver
setiap kali muncung kenderaan
mereka berpapasan. Jika seorang presiden menjadi penguasa pada suatu negara,
sementara driver Bus adalah penguasa
di jalan raya.
Pada dasarnya lokasi maupun tempat
yang dituju juga bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti
sepeda motor atau mobil. Tentu saja menggunakan dua kuda besi ini cukup
menguntungkan dari segi waktu dan kecepatan. Penumpang bisa mengatur arloji kapan
akan berangkat, dan bisa pula menyesuaikan kecepatan pada jarum penunjuk
berwarna merah pada speedometer. Nah,
sedangkan kekurangannya terletak pada: rasa letih dan penat karena selama
beberapa jam harus berada di jalan lintas maupun jalan besar, menghadapi cuaca
dan bersaing dengan kenderaan lainnya.
Apapun daya tarik dari semua
jenis transportasi tersebut, kereta api senantiasa menjadi pilihan. Alasannya
sederhana: ekonomis. Namun, alasan ekonomis itu pulalah yang membuat penumpang berada
dalam dilema. Kondisi kereta yang ditumpangi kala itu sangat memprihatinkan. Bahkan
sebelum berada dalam kompartemen, setiap orang harus lebih dulu berdiri bersama
calon penumpang lain di jalur antrian tiket. Jangan coba-coba membayangkan
kerapian atau keteraturan. Sebab kedua kata ajaib tersebut hanya bisa ditemukan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dan di sana, di dalam stasiun
penumpang segera berbaris. Bukan, bukan berbaris. Lebih tepatnya saling berjejalan,
berhimpitan, dan saling berteriak demi mendapatkan tiket sebesar bungkus
permen. Kalau perlu saling berlomba berbuat curang dengan memotong jalur
antrian. Penumpang tak ubahnya pengungsi berstatus stateless yang menderita kelaparan karena sudah dua hari tidak
makan. Kepulan asap rokok, rengek tangis anak kecil, serta tubuh ringkih namun
penuh harap menambah pedih dan kegetiran di tengah cuaca yang tak bersahabat.
Rupanya kisah muram tak berhenti
di situ. Tiba-tiba dari belakang muncul sejumlah laki-laki berbadan besar yang
membelah kerumunan calon penumpang. Orang-orang menyebutnya calo. Mereka memaksa
masuk dan dengan cepat sudah berdiri tepat di depan meja tiket. Dan hebatnya, dalam
waktu lima menit beberapa tiket sudah di tangan. Sementara calon penumpang yang
sejak tadi menunggu giliran untuk sampai di loket merasa geram dan berang. Namun
apa daya perbuatan semena-mena ala premanisme membuat semua orang di stasiun tak
berani mengambil tindakan. Gambaran ini semakin meneguhkan betapa minimnya
kepedulian pemerintah terhadap rakyat.
Setelah segala drama yang terjadi
di depan loket, penumpang masih harus dihadapkan dengan drama berikutnya seakan-akan
kesemerawutan adalah nama depan Kereta Api Indonesia. Penumpang yang sudah
memperoleh tiket menghambur masuk ke dalam kereta tanpa pendingin, kotor serta
dipenuhi sampah dan bergegas mencari tempat duduk. Mereka mencocokkan nomor
gerbong dan bangku yang tertera pada sekeping tiket. Tentu sangat mengherankan
kenapa penumpang yang sudah mengantongi tiket resmi sampai harus masuk berebutan?
Semestinya mereka bisa sedikit bernafas lega sebab perjuangan melelahkan di
jalur antrian telah selesai. Tapi keheranan tersebut tak bertahan lama saat
melihat realita bahwa: penumpang hanya membeli tiket masuk, bukan tiket duduk
sekalipun di sana tertera nomor gerbong dan bangku. Penumpang dengan tiket
tanpa nomor bangku mudah saja menyerobot bangku penumpang lain yang tiketnya
tertera nomor bangku. Dan penumpang yang tiketnya tertera nomor bangku, tanpa
malu-malu menyerobot bangku penumpang lainnya. Begitu seterusnya. Karena di
sini berlaku pepatah ‘siapa cepat dia dapat’. Maka dimulailah aksi saling
serobot tempat duduk sehingga acap kali terjadi keributan. Barangkali, karena
alasan inilah mengapa setiap petugas yang memeriksa tiket selalu ditemani
Pamong Praja.
Saat persoalan rebut merebut belum
beres, penumpang lain meringsek masuk. Mereka mengisi setiap sudut, setiap
celah agar dapat duduk. Ada yang berdiri di aile,
ada yang duduk di depan pintu masuk, namun tak sedikit pula yang jongkok di
depan WC. Walhasil, gerbong yang seharusnya bermuatan 106 penumpang jadi sesak
karena over kapasitas.
Setelah beberapa jam bergulat
dengan kesemerawutan, Kereta Api pun menggeliat kemudian bergerak maju. Itupun
molor satu jam dari jadwal yang keberangkatan.Tapi drama belum berakahir. Di
setiap stasiun pemberhentian, kereta yang sarat penumpang dan barang bawaan
masih harus menerima penumpang kelas khusus yakni: pengamen, pedagang asongan,
pengemis, dan peminta sumbangan.
Dengan segala kesemerawutan yang
melekat padanya, Kereta Api berhasil menciptakan nuansa horor.: sesak, sumpek,
suram, kotor, bau, tanpa pendingin, tidak tepat waktu, bising, dan penuh asap
rokok.
Setelah 13 tahun berkutat dengan
kesemerawutan tersebut, kini wajah Kereta Api Indonesia semakin membaik. Seiring
perkembangan zaman dan tingginya kebutuhan akan transportasi yang ramah,
efektif dan efisian, perlahan salah satu transportasi publik ini mulai berbenah
dalam segala bidang. Seperti stasiun yang semakin apik, antrian yang disiplin
dan tertib, tersedianya area khusus merokok serta ruang ibu dan anak. Gerbong
dan kompartemen juga semakin bersih, nyaman dan menyegarkan. Ada pendingin, ada
colokan listrik untuk menambah daya baterai gadget,
dan lebih penting lagi adanya peraturan tegas ‘Dilarang Merokok’. WC
berfungsi sebagai mestinya dengan air yang selalu mengalir lancar. Sementara
kereta api menggelinding terus, ada petugas menyapu lantai dan lorong. Potongan
kertas, bungkus makanan ringan, serpih tisu dan kulit kacang disapunya nyaris
tak bersisa. Seakan gerbong-gerbong kereta api berdandan menyongsong stasiun
akhir tempat tujuan.
Tiket bisa dibeli langsung ke
stasiun, bisa pula dibeli di beberapa outlet yang bekerja sama dengan PT KAI seperti
alfamart, indomart. Bahkan bisa dibeli secara online. Penumpang juga bisa memilih tempat duduk yang mereka
inginkan. Di samping itu keberangkatan tak pernah berada diluar jadwal.
Demi kenyamanan dan keamanan
penumpang, Kereta Api juga memperketat sistem ticketing. Calon penumpang yang memesan tiket harus mempergunakan
surat keterangan yang berlaku seperti KTP, SIM, Kartu Keluarga atau Paspor. Satu
penumpang akan memperoleh satu nomor tempat duduk. Penumpang yang kedapatan
tidak memiliki tiket akan diturunkan di stasiun berikutnya. Jadi tidak ada lagi
saling menyerobot atau rebutan. Selain itu jika penumpang urung berangkat, tiket
yang sudah dipesan boleh dibatalkan dan dibolehkan pula menukar jadwal.
Karena pedagang sudah tidak
diizinkan masuk ke dalam stasiun maupun kereta, maka pihak Kereta Api Indonesia
sudah mengantisipasi hal ini dengan menyediakan kantin berjalan. Penumpang bisa
memesan segala macam minuman dan makanan. Seperti kopi, teh, air mineral, nasi
goreng, nasi lemak (nasi uduk), juga mie instan dalam kemasan cup.
Namun ada yang mendesak dilakukan
seperti beberapa pendingin di dalam kereta sering bocor sehingga airnya
merembes ke tempat duduk penumpang. Selain itu, untuk Kota Tanjungbalai, stasiun
hanya menyediakan satu loket. Sehingga penumpang harus berada di antrian yang
sama ketika membeli dan memesan tiket. Hal ini sangat mengganggu dan
memperlambat kelancaran proses transaksi.
Yang jelas, Kereta Api terus berproses
ke arah lebih baik dan salah satunya dibuktikan dengan tanggap menerima
masukan. Yakni ketika beberapa tahun lalu saya pernah menulis opini di Surat Kabar skala nasional mengenai tata bahasa yang tertera dalam tiket. Pihak Kereta Api
segera memperbaiki kesalahan yang terletak pada penulisan tersebut.
Orang bijak berkata, Roma tidak
dibangun dalam semalam. Begitu pula dengan Kereta Api Indonesia. Melihat
perkembangannya sekarang ini, tampaknya saya bisa mengatakan bahwa kereta api
merupakan transportasi paling aman, relatif murah, efektif, dan layak dijadikan
pilihan terbaik untuk berpergian. Mulai dari kebersihan gerbong-gerbong dan
stasiun, kedisiplinan jadwal keberangkatan, semakin tertatanya infrastruktur,
mengutamakan kenyamanan, hingga lenyapnya calo yang biasa menyambut penumpang saat
menjejakkan kaki di mulut stasiun.
Semoga Kereta Api dapat
mempertahankan citra ini dan terus berbenah demi pelayanannya terhadap bangsa
dan negara. Sehingga mampu bersaing dan bertransformasi sebagai moda transportasi
terbaik, serta menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.
Pada momen Hari Jadi ini, saya ucapkan
Selamat Tinggal Kereta Api Horor, Selamat Datang Kereta Api Berkelas dan
Bermartabat, Jayalah Kereta Api Indonesia.
*
Tulisan ini dibuat sebagai prasyarat
mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh PT Kereta Api Indonesia.

COMMENTS