Banyak alasan yang bisa ditemukan mengapa seseorang ingin menulis. Diantaranya, ketika seseorang menuangkan seluruh pemikirannya ke da...
Banyak alasan yang bisa ditemukan
mengapa seseorang ingin menulis. Diantaranya, ketika seseorang menuangkan
seluruh pemikirannya ke dalam tulisan, ia akan berjibaku terhadap nilai dan
manfaat yang nantinya akan direguk pembaca. Adapula yang sekedar meluahkan
segala keluh kesah, karena menurutnya ketimbang melakukan operasi plastik, filler, atau botox, menulis merupakan terapi terbaik untuk pengencangan otot
wajah. Kemudian alasan lainnya, menulis dapat membuat mereka fly, merasa ringan, seakan-akan tak ada
lagi masalah yang membebani pikiran. Karena pada hakikatnya, menulis merupakan
suatu pekerjaan untuk berbagi kisah, informasi dan pengetahuan bukan memburu
ketenaran. Mengutip Milan Kundera, seseorang yang mengemukakan idenya beresiko
mengajak orang lain melihat dari sudut pandangnya, memengaruhi mereka dan
kemudian mengibarkan peran sebagai yang memberi inspirasi untuk mengubah dunia.
Meski suatu hari kelak tanpa disadari, tulisan itu menemui takdirnya. Ia dibaca
banyak orang, diperbincangkan, diperdebatkan.
Seperti Kartini, ketika perempuan
yang bergelar pendekar kaumnya itu menumpahkan kegalauannya lewat diary, ia tak pernah menyadari tulisannya
akan mejadi viral. Baginya ketenaran bukan tujuan, sebab mentransfer pemikiran
melalui kata-kata adalah obat untuk kehidupan, penawar luka akibat terbelenggu
kungkungan zaman. Kartini hanya menulis, berbagi apa yang bisa ia bagikan.
Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam buku Anak Manusia ‘dengan menulis,
suaramu tak kan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian
hari. Begitupun dengan Ahmad Wahib, Soe Hok Gie juga Sjahrir. Catatan harian
yang akhirnya dibukukan tersebut, mereka tuliskan karena sedang mengalami
pergolakan pemikiran, bukan untuk dikenal, bukan pula demi sebuah popularitas.
Dari banyak pilihan media yang
tersedia seorang bisa membahasakan pemikirannya lewat buku, atau diary. Namun seiring berjalannya waktu
dimana gempuran teknologi semakin merajalela, orang-orang beralih pada blog atau
jejaring sosial media seperti twitter, instagram, maupun facebook.
Jika tidak ada sosial media, mungkin
kita semua akan kewalahan mempromosikan gagasan. Jika tidak ada sosial media,
maka kita semua pasti berusaha ekstra keras untuk membuat segala hal menjadi
viral. Dikenal. Disebut-sebut seantero jagad. Jika tidak ada sosial media, maka
kita semua tentu akan berpayah-payah hanya untuk mempopulerkan sebuah ide atau
pemikiran. Sebuah puisi atau lagu. Sebuah kisah atau drama. Sebuah lukisan atau
sketsa.
Barangkali kita harus menempuh
jalan panjang dan berliku seperti yang dilakukan Socrates, Newton, Galileo,
Cicero, Pram, Tan Malaka dan para pendahulu yang hidup di zaman kertas dan pena,
atau lahir dan tumbuh di masa papyrus dan tinta, bukan di era teknologi
informasi. Era gadget kata anak muda zaman sekarang.
Namun orang-orang ini bergerak
bukan hendak menoreh medali, popularitas ataupun panggung, melainkan ingin
menghadirkan karya agar dapat dipelajari, direnungkan, dan dinikmati, agar
supaya menambah khazanah pengetahuan. Meski untuk penemuan tersebut mereka
harus melewati berbagai fase dan rintangan bahkan terkadang menciptakan polemik
sebab dianggap tabu dan menyesatkan.
Beruntunglah di zaman kejayaan
sosial media segala hal menjadi mudah. Semua karya kita (andaipun ia dapat disebut
karya), seperti kalimat-kalimat berisi kemarahan atau celoteh manja, keluhan
atau kegelisahan, hate speech atau
hasutan, berita fakta atau khayalan semata, kenyinyiran atau sumpah serapah, dapat
leluasa dilihat, dibaca serta dibagikan. Lambat laun postingan yang tadinya
sekedar ingin menumpahkan uneg-uneg atau
ingin berkongsi ide, menemui takdirnya. Ia mendadak viral dan penulisnya
diidolakan banyak orang. Populer!
Seperti halnya hukum popularitas,
tantangan terbesarnya adalah menjaga posisi badan agar tidak gamang, supaya tak
kehilangan keseimbangan ketika menghadapi euforia ketenaran. Sebab untuk
menciptakan popularitas kadang butuh waktu lama. Namun untuk menghancurkannya
hanya seketika. Karena itu semestinya popularitas tak lantas membuat siapapun bersikap
serampangan atau tinggi hati, tanpa terkecuali.
Akibat mabuk ketenaran, walhasil
tulisan yang diunggah ke sosial media sontak berubah haluan. Ia tak lagi berupa
tulisan yang berisi ide dan pemikiran orisinal melainkan kalimat-kalimat yang
rupanya hasil copy paste atau plagiat
seperti belakangan ini teramat kerap kita temukan. Sebagai contoh, kasus
plagiarisme yang menimpa siswi SMA Afi Nihaya Paradisa.
Terlepas dari segala keburukan di
dunia ini, manusia pada dasarnya baik. Masalahnya ada pada pengendalian diri
dan pilihan. Menurut saya, seorang Afi belum cukup mampu mengendalikan dirinya
dari godaan popularitas tersebut hingga ia terlampau bernafsu meraih puncak,
dan untuk itu membuatnya melakukan plagiat dari beberapa tulisan.
Dalam wilayah literasi
plagiarisme merupakan kecurangan yang sangat mengerikan. Sama halnya dengan
korupsi dalam ranah birokrasi. Untuk itu secara pribadi, saya kehilangan trust terhadap pelaku praktek lancung
tersebut. Saya tahu sikap ini tak kan mengubah apapun, tak berpengaruh apa-apa
terhadapnya. Karena akan selalu ada yang menyukainya, dan mungkin akan
bertambah banyak lagi. Banyak yang membelanya, menyanjungnya, dan tetap kekeuh
mengidolakan serta membagikan kicauan yang ia unggah pada akun facebook-nya.
Tapi setidaknya saya telah memilih dan telah membuat keputusan.
Bagaimanapun, saya pernah menyukai
tulisannya, cara pandangnya, dan gaya bahasanya. Sebagai perempuan 18 tahun ia
layak diapresiasi. Namun kita tak lantas berlindung dengan kalimat ‘masih anak kecil’, sebab frasa tersebut dapat
memberi celah legalitas terhadap plagiarisme. Selain itu frasa tersebut jelas
sangat tidak mendidik karena tanpa disadari kita telah mengajarkan dan
mendukung ‘anak kecil’ untuk abai terhadap kesalahannya, dimana sebagai orang
dewasa, selayaknya kita mengajaknya berpikir, membimbingnya pada keberanian
untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Di dunia ini orang bisa saja
terpeleset di jalan mulus, orang bisa saja khilaf. Sebab tak seorangpun bisa
lepas dari berbuat kesalahan. Tapi kesalahan adalah satu hal dan memafkan
adalah hal lainnya.
Perlu dicatat bahwa seorang Afi
bukanlah sebuah kesalahan. Tapi melaluinya, melalui ‘anak kecil’ kita bisa
memetik pelajaran: bukankah manusia itu kerap demikian lemah sehingga tak mampu
mengendalikan diri pada hal-hal duniawi seperti godaan ketenaran, pujian,
sanjungan, dielu-elukan, diviralkan?
Tapi sudahlah. Kita hidup di sini
sekarang. Apa yang telah berlaku adalah masalalu dan kebanyakan terlupakan. Dan
cerita ini juga akan dlupakan. Pun barangkali bagi sebagian besar publik, Afi
masih seorang bintang.
Maka bila suatu hari Afi membaca
tulisan ini, saya harap ia tahu bahwa ketenaran tak selamanya berkilauan, namun
ketenaran juga memiliki batasan hingga dapat menjadikan seseorang merayap dalam
kegelapan.
Tag: plagiator, plagiat,
plagiarisme, afi, ketenaran, viral, pemikiran, literasi

COMMENTS