Terhitung dua hari lagi seluruh umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan. Selain disambut dengan sukur dan gembira, itu berarti lagi-lagi...
Terhitung dua hari lagi seluruh umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan. Selain disambut dengan sukur dan gembira, itu berarti lagi-lagi kita dihadapkan pada persoalan yang itu-itu juga. Perkara yang tak kunjung selesai, senantiasa diperdebatkan, dan berujung pada polemik yang tak pernah sudah, barangkali hingga tahun-tahun berikutnya. Yaitu tentang penetapan hilal alias tanggal berpuasa bagi umat Islam.
Ada sebagian masyarakat lebih dahulu melaksanakan ibadah puasa, sementara sebagian lagi berpuasa keesokan harinya. Perbedaan mengenai tanggal berpuasa telah lama terjadi, namun anehnya perbedaan ini senantiasa menciptakan polemik di kalangan umat islam sendiri. Masing-masing aliran saling serang argumen, saling adu pendapat. Ramai-ramai mengklaim sebagai pengikut terdekat Nabi Muhammad, oleh karena itu merasa paling layak menentukan kapan berpuasa dan kekeuh agar seluruh umat mengikuti aturannya. Semua ingin disebut lebih islam, namun lupa bahwa esensi ber-islam adalah akhlak, menjaga perdamaian, dan mempererat silaturahmi.
Suatu kali Rumi pernah berkata, kebenaran adalah cermin di tangan Tuhan, jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran.
Rumi tak keliru. Sebab begitulah realita yang kita temukan belakangan ini. Suatu suku merasa superior dari suku lain, suatu budaya merasa lebih bermoral dari budaya lain, suatu aliran bertikai dengan aliran yang lain, suatu paham meneriaki paham yang lain, suatu agama menyalahkan agama yang lain. Kita menghendaki keseragaman namun kita lupa bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk sejak proses terbentuknya. Kita terlalu asing dengan perbedaan, sehingga kebenaran kita usung sebagai agenda utama untuk menyingkirkan siapapun dan apapun yang berbeda.
Kita mengadopsi sejarah masalalu yang kelam, di mana perbedaan aliran, agama, pemikiran, bahkan perbedaan pilihan adalah tabu. ‘Di mana perbedaan aliran harus diakhiri dengan pengusiran, ketika perbedaan pandangan mesti disudahi dengan eksekusi, saat ada golongan yang puas ketika yang di luar golongannya ditindas, dan kala kekuasaan dimanfaatkan dan mendukung itu semua’ tulis Juman Rofarif. Akhirnya, masing-masing kita merasa berhak menciptakan teror terhadap golongan yang berlainan prinsip dan pemikiran.
Kemudian, kita terlalu sibuk dengan kebenaran yang telah kita klaim sebagai hal paling hakiki di bumi, sehingga kesibukan tadi semakin menjauhkan kita dari tujuan sebenarnya yaitu persatuan dan kesatuan bangsa. Akibatnya kekerasan mulai tumbuh dan menjalar di tengah-tengah masyarakat. Lambat laun, kita bisa melihat dunia ini menjadi letih, ringkih dan nyaris sekarat. Seperti sifat dasarnya, kekerasan akan menciptakan kebencian di antara umat manusia, menghadirkan teror dan kengerian antar makhluk. Maka bukan tidak mungkin negara ini akan berjalan menuju kehancuran jika klaim kebenaran dibiarkan.
Memang, tidak ada kawasan di dunia ini yang terbebas dari momok kekerasan. Akan tetapi sampai bila kita ribut dan berseteru jika segala persoalan diselesaikan dengan kebencian, kekerasan dan sikap memandang diri paling benar? Negara ini berjalan dengan aturan hukum meski kita sebgai rakyatnya masih hidup prihatin. Oleh sebab itu segala perkara pelik yang memerlukan penyelesaian lebih serius, hendaknya diserahkan pada intisusi atau lembaga atau wadah yang cukup kredibel dan ahli menanganinya.
Lagipula suatu bangsa yang berada di bawah payung yang sama yaitu Indonesia, semestinya meyakini bahwa perbedaan adalah warna untuk memperkaya khazanah bangsa. Sebab, setelah Indonesia lahir sebagai sebuah negara, ia tak lagi milik golongan, aliran apalagi individu, tapi Indonesia adalah sebuah negara kesatuan, negara berdaulat, yang berasaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang di dalamnya terhimpun kekayaan suku, budaya, adat istiadat, dan agama. Dengan demikian, klaim kebenaran dan paham pengkultusan tidak diperlukan di atas negara yang bebas dan merdeka.
Di sinilah peran penting generasi muda untuk bersatu dan bersama-sama menjaga keutuhan negara. Sebab kita adalah generasi yang beradab, bangsa yang berketuhanan, di pundak kita terletak tanggung jawab untuk memelihara kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, agar tak terperangkap pada kesalahan yang telah sudah. Karena masalalu sudah jauh meninggalkan kita, jangan sampai kita mewarisi kebodohannya.
Maka dari itu, melalui momentum bulan suci Ramadhan, mari kita jadikan wajah Indonesia lebih hidup dengan segala perbedaan yang ada padanya. Kita jaga lisan dari perkataan yang tak pantas, kita jaga bahasa dari ucapan yang menyakitkan hati, kita kondisikan jari dari menulis stetmen yang hanya akan memperkeruh masalah, kita belajar mengendalikan emosi demi masyarakat yang baik untuk dunia yang lebih baik. Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia, bukan karena kita lebih utama. Akan tetapi karena perbedaan tersebut adalah pilihan, dan kita telah memilih untuk bersama keutuhan dan persatuan.
Tag: ramadhan, puasa, perbedaan, hilal, kebenaran, indonesia, persatuan, islam

COMMENTS