Ketenaran ibarat teman yang berubah-ubah. Kadang bisa menggembirakan, kadang bisa menimbulkan penderitaan. Setali tiga uang dengan media...
Ketenaran ibarat teman yang berubah-ubah. Kadang bisa menggembirakan, kadang bisa menimbulkan penderitaan. Setali tiga uang dengan media (cetak, elektronik, sosial media). Sebentar bisa menjadi teman baik, sebentar kemudian bisa menjadi lawan yang mengerikan.
Ketenaran adalah efek atau hasil, sementara media merupakan sarana atau perantara. Namun pada hakikatnya ketenaran dan media seperti dua sisi mata uang. Satu bentuk, satu wujud, satu tubuh, namun memiliki sifat ganda, pribadi yang berbeda. Di satu sisi mampu melambungkan manusia ke puncak kejayaan, di sisi lain dapat menenggelamkan ke jurang kehancuran.
Manusia, sebagai makhluk akan hidup sebagai pelaku, sebagai pemeran utama yang mesti lihai mengendalikan dua hal tadi. Manusia dituntut cakap memenej mana yang akan ditunjukkan dan mana yang perlu disembunyikan. Cerita apa yang harus dibeberkan di ruang publik, kisah seperti apa yang harus disimpan di ruang privat, selamanya.
Tak banyak yang menyadari bahwa ketenaran dan media hanya akan menjadi bom waktu yang siap ‘meledakkan’ jantung kapan saja jika manusia kehilangan kontrol terhadapnya. Sebab mereka menyamar menjadi perangkap yang telah memoles penampilan dengan segala, hingga yang tampak hanyalah gemerlap dan kilaunya. Sedikit kecerobohan, alih-alih mendulang pujian dan tepuk tangan, malah ia akan dihujani sorakan cemoohan.
Benar adanya bahwa ketenaran dapat mengubah hidup. Karena itu sebagian orang berlomba-lomba memperolehnya. Motivasinya bisa bermacam-macam. Sebagai endorsement -orang yang diserahi tugas dan biasanya dibayar- untuk mempromosikan barang niaga, untuk kepentingan bisnis, agar menjadi pusat perhatian, bahkan sebagai panjat sosial atau menaikkan gengsi.
Urusan ketenaran ini tidak hanya diperhatikan orang-orang terkenal tapi juga semua orang. Namun saat ketenaran yang menjadi tujuan hidupnya tersebut tidak diperoleh, ia cukup puas dengan mewujudkannya melalui khayalan, atau setidaknya di alam mimpi.
Saya sepakat dengan Milan Kundera ketika ia menuliskan bahwa ketenaran dapat mengganyang kemerdekaan seseorang. Karena ketika seseorang mulai dikenal khalayak ramai, sejak itu pula gerak-geriknya diawasi, lakunya dipantau, bicaranya dicatat. Artinya, hidupnya tak lagi miliknya sendiri. Di tahap itu ia mulai merasa merasa bahwa ternyata ketenaran hanyalah sebuah kungkungan. Meski tidak memenjarakan pisik, tapi memasung jiwa, mengusik kenyamanan.
Mengenai seseorang yang menjadi ‘mangsa’ ketenaran, saya pernah membaca sebuah artikel yang menceritakan kehidupan Kurt Cobain, pentolan Nirvana, sebuah band yang paling berpengaruh di zamannya. Dalam surat yang ditemukan bersama kematiannya, ia mengatakan telah muak menjadi pusat perhatian. Kurt ditengarai depresi oleh ketenaran yang rupanya tak pernah ia inginkan. Beberapa kali ia mencoba mengakhiri hidup dengan mengonsumsi pil penenang hingga berujung pada peristiwa bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya. Kurt rebah dalam kegelapan, melanjutkan nyanyiannya dalam keheningan panjang
Korban semacam ini acap kali mengeluhkan popularitas yang sejatinya tidak pernah menjadi cita-cita dalam hidupnya. Mereka hanya ingin melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Berkarya sebaik-baiknya dengan tujuan: sebagai pelampiasan untuk mengalihkan rasa marah, berbagi, atau hobi. Sementara reward, award, honor, maupun popularitas hanyalah hasil akhir.
Tapi di sisi lain, memang ada yang benar-benar mendambakan ketenaran. Fokus hidupnya adalah mengejar popularitas, sementara karya bukan hal utama. Mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ketenaran, simpati, perhatian. Dan biasanya amat kerap berbau negatif. Seperti selfie esktrim, gimmick yang sering dipraktekkan para artis, berpose nude bahkan nyaris telanjang, memamerkan konten porno (kegiatan sedang berasik masyuk dengan pasangan), hingga mengunggah video caci maki dan berkelahi.
Orang jenis ini mulai ramai menghiasi layar kaca terlebih sosial media, sebuah aplikasi canggih hasil temuan anak manusia. Mereka beraksi tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan nantinya. Mereka senantiasa menggebrak lewat cara yang tak jarang membuat kita geleng-geleng kepala. Namun tanpa mereka sadari ketenaran yang instan itu akan mencengkeram mereka suatu hari.
Lantas apa yang terjadi kemudian?
Ketika mereka merasa stuck, down, limbung dan kehilangan pegangan, mereka mulai mencari dalih untuk meluapkan amarah, untuk melampiaskan kekesalan. Hater! Mereka memvonis bahwa hater –sekelompok orang yang membenci gaya hidup dan laku seseorang- telah merusak hari mereka. Hater tak berguna, hater pembawa petaka, hater is zero, hater yang hobi menzolimi, hater yang hanya pandai mencemooh.
Malangnya mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ketika seseorang telah jadi bagian ketenaran, maka ketika itu pula segala gerak-geriknya berada di bawah pengawasan. Mereka juga lupa bahwa sedikit banyak, hater turut berperan dalam usaha melejitkan namanya hingga disebut-sebut dan diteriakkan.
Padahal saat seseorang mulai berpijak di ruang publik, maka saat itu pula ia harus sadar dengan resiko di depannya. Hater merupakan pasangan akrab sebuah kesuksesan. Hater merupakan teman yang acap berdampingan dengan ketenaran. Dan faktanya, mereka yang tidak siaplah yang selalu mengeluhkan segala resiko dari sebuah ketenaran, terutama berteriak-teriak kepanasan menghadapi racauan para hater.
Pada akhirnya, karena gerah dengan ‘pemberitaan’ yang terus menerus, jenuh terhadap cibiran hater, ditambah lelah yang semakin menggunung dan menggelayuti pikiran, mereka tidak lagi menginginkan apa yang tadinya sangat mereka inginkan. Namun mereka terlalu enggan menjauh dari ketenaran. Tak ingin beranjak dari dunia yang membesarkan mereka kendati ketenangan hidup sebagai taruhannya. Maka untuk mengatasinya orang-orang tenar ini akan membiasakan diri hidup dalam kungkungan ketenaran sekalipun penuh tekanan. Sebisa mungkin mereka menari, terus bergerak hingga waktulah yang kelak akan mengakhiri.
Bercermin dari hal di atas, bukankah ketenaran seperti racun yang penuh godaan?
Tag: ketenaran, popularitas, candu, hater, media, populer.

COMMENTS