Akhirnya buku-buku yang saya beli di beberapa online shop di Facebook, sudah mendarat cantik di markas. Rasanya haru. Seperti bertemu ke...
Akhirnya buku-buku yang saya beli di beberapa online shop di Facebook, sudah mendarat cantik di markas. Rasanya haru. Seperti bertemu kekasih yang telah pergi seabad, dan secara mengejutkan ia muncul di depan pintu disertai hadiah senyuman dan sedan Audi terbaru. Bahagia bukan main! Kiranya saya tak berlebihan. Karena menantikan kedatangan sesuatu yang amat berharga itu merupakan sebuah kebahagiaan, meski sesekali dirasuki was-was dan cemas selama masa penantian.
Perlahan plastik yang menyelimutinya saya buka, saya periksa satu persatu. Ternyata ada dua buku yang tak sesuai perkiraan: cacat pada bagian cover depan, persis di pojok kiri atas. Dan buku berikutnya, dicetak dengan kertas hvs (atau jangan-jangan potokopian?). Tapi kemarin, sewaktu saya pesan, penjualnya tidak memberikan keterangan apapun mengenai buku-buku tadi.
Salah saya juga sebenarnya. Kenapa tidak bertanya, kenapa tergesa-gesa, kenapa tidak teliti membeli, kenapa langsung percaya. Padahal sejak berabad-abad lalu, kejujuran merupakan barang langka. Harganya lebih mahal dari batuan purba, atau guci yang penuh legenda, atau burung beo yang tak hanya bisa menuruti kata-kata pemiliknya, tapi juga bisa menangis dan memahami perasaan.
Suatu ketika Bung Hatta, salah seorang Founding Fathers Indonesia pernah berkata, ‘kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki’. Jika demikian, dapat kita pahami betapa mahalnya sebuah kejujuran di dunia ini.
‘Don’t judge a book by its cover’, kata ahli marketing yang, seperti biasa: terlalu bijak. Padahal dari sedikit kebiasaan saya, salah satunya acap memesan buku karena tertarik pada isinya atau penulisnya, bukan covernya. Sebab itu di antara koleksi saya, masih bisa ditemukan buku-buku yang terkelupas sampulnya, covernya pudar, lembarnya kekuning-kuningan, bahkan ada juga buku potokopian. Untuk yang terakhir, saya tidak memesan buku yang dipotokopi, melainkan karena sangat membutuhkan isinya sementara buku yang tersedia di rak penyimpanan toko tersebut memang potokopian.
Lagipula, di toko buku online langganan saya sebelumnya, mereka selalu memberi keterangan di bawah gambar. Seperti apa kondisi buku, mulai dari sampul, lembar, harga, stok, ketebalan halaman, hingga kertasnya. Jika gambar tidak disertai keterangan, mereka pasti memaparkan sedetil-detilnya saat buku tersebut akan saya pesan, meski tanpa saya tanyakan.
Meski demikian saya tak pernah menanyakan bagus tidaknya isi sebuah buku. Alasan pertama; para penjual buku barangkali tidak membaca buku-buku yang dijual sehingga membuatnya terjebak dan kesulitan menjawab saat ditanya apakah buku tersebut enak, hebat, atau keren. Pernah melihat reaksi seseorang kala terjebak, tersudut? Tentu panik. Selanjutnya ia akan berbohong untuk menutupi ketidaktahuan, dan atau mengaburkan fakta.
Kedua, saya memahami dengan baik bahwa orang-orang tidak memiliki selera yang sama. Saya menggemari buku politik, tokoh, filsafat dan hukum, mungkin penjual menyukai buku-buku yang menceritakan tanaman budidaya, atau buku-buku islami. Saya menikmati novel-novel terjemahan, novel sejarah, kerajaan, kekuasaan atau kisah berlatar belakang era aufklarung, mungkin si penjual asik dengan fiksi teenlit, novel hasil karya penulis Indonesia, novel bergenre islami atau novel yang dari bab pertama hingga akhirnya hanya berputar-putar soal cinta, merebut cinta dan mempertahankan cinta. Sudah tentu benang merahnya tak akan ketemu.
Tapi ketika pesanan telah saya bayar sesuai label harga sementara barang yang saya terima terdapat kerusakan tanpa saya ketahui kondisinya sebelumnya, bukankah pantas saya kecewa? Ibarat membeli kucing dalam karung, saya menerima barang yang keadaannya berkebalikan seperti yang telah dijanjikan.
Saya tahu bahwa pemilik toko online shop tersebut tidak berbohong. Tetapi sebagai penjual, sebagai pelaku niaga, orang tersebut tidak jujur menjelaskan perihal ‘wajah’ buku-bukunya. Ah, lagi-lagi saya terpaksa percaya pada perkataan ayah ‘jadi pedagang, harus ada sedikit tipu-tipunya. Kalau tidak begitu, gak akan cepat kaya’. Sewaktu saya bertanya apakah mereka tidak takut dosa, ayah bilang, bahwa bagi sebagian orang, dosa itu abstrak. Tak berwujud. Tak bisa dilihat, diraba, dihidu, apalagi dipegang.
Bukan sekali ini, tapi beberapa kali saya juga selalu dikecewakan (pilihan kata paling sopan untuk tidak menyebut ditipu) penjual. Seperti ikan yang ditimbang dengan kondisi sangat beku, timbangan diisi air agar jumlah barang berkurang tapi volumenya bertambah, beli ikan yang katanya segar tak tahunya ikan busuk, beli tas katanya berbahan kulit sintetis ternyata kanvas dan kejadian paling sering, berat barang tidak pas saat ditimbang di rumah.
Ngomong-ngomong, tipis bedanya antara ditipu dan dikecawakan. Tapi sudahlah. Akan saya kenang kejadian ini sebagai pelajaran jika nanti bertransaksi lagi. Akan saya ingat betul-betul jika berbelanja di dunia maya maupun di dunia nyata, rambu utamanya adalah mesti hati-hati, harus lebih cerewet. Di sisi lain, saya tidak akan membeberkan nama-nama akun facebook toko buku online tersebut. Bukan maksud agar pembeli berikutnya merasakan kecewa yang sama. Tapi karena saya tidak ingin menjadi penghalang rezeki orang. Kewajiban saya hanya memperingatkan agar lebih hati-hati.
Semoga mereka diberikan umur panjang lagi berkah, dihilangkan segala kerisauan dan kegelisahan, serta diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena terkadang orang-orang bisa kehilangan keseimbangan ketika berurusan dengan uang.
Lantas, setelah mengalami kejadian di atas, apakah saya masih demen berbelanja di toko online? Big Yes! Meski belanja langsung ke tokonya mempunyai kenikmatan tersendiri bagi saya. Untuk itu bagi kalian yang masih tertarik belanja di toko online, saya rekomendasikan berbelanja di toko buku online langganan saya. Silakan melipir ke facebook lalu search nama Ari Naicker dan Rak Buku Langka. Selain daftar bukunya banyak, fast respons, dan harga buku yang masuk akal, sampai saat ini, keduanya benar-benar bisa saya percaya. Jujur dan amanah.
Tag: buku, toko buku online, cacat, rusak, hvs, belanja, online shop, toko facebook, jujur

COMMENTS