Di suatu pagi yang bergegas, saya menatap layar ponsel dan memeriksa segala pemberitahuan. Mulai dari email, sosial media, atau kotak pe...
Di suatu pagi yang bergegas, saya menatap layar ponsel dan memeriksa segala pemberitahuan. Mulai dari email, sosial media, atau kotak pesan. Barangkali salah satu kebiasaan yang acap melekat pada generasi milenial ketika fajar menjelang adalah memeriksa gadget. Saya pun tak luput dari kebiasaan tersebut hingga sekarang.
Setelah itu saya surfing ke facebook sembari mengepak berkas-berkas yang diperlukan dalam tugas. Scroll down timeline, perlahan membaca kicauan demi kicauan yang dipublis para pemilik akun. Rupanya sosial media yang dilahirkan Mark Zuckerburg tersebut masih berbau pemilukada DKI Jakarta, meski sesekali ditingkahi oleh ‘teriakan’ nama pemimpin paling beken se-Indonesia: Ridwan Kamil. Selain promo perniagaan, nasehat bijak, serta khutbah, sisanya masih berisi postingan huru-hara, hate-speech, adu domba, keluhan, serta unjuk kepemilikan.
Tampaknya dunia maya enggan beranjak dari ‘prestasi’ semacam itu. Membuat saya sebagai pengguna sosial media saya harus selektif memilih teman. Pelaku hate speech, tukang ngeluh, perempuan-perempuan manja, centil dan menggoda, para lelaki minus wawasan namun ahli merayu dan menggombal, kemudian yang paling ramai; para pengamat dadakan alias banyak cakap alias ngecap alias tukang kombur, selalu saya abaikan. Mereka, orang-orang itu tak perlu hadir menghiasi timeline.
Maka terpujilah Mark Zuckerburg yang tidak hanya mendirikan facebook sebagai ‘etalase portable’ dan ajang ‘fiksi mini’, tapi juga menyediakan tombol unfriend, hide, bahkan block sebagai perangkat-perangkat eligible yang memberi kemudahan bagi user untuk memfilter siapa-siapa yang perlu dilihat dan sembunyikan, siapa yang harus dimusnahkan serta siapa yang pantas dijaga dan dipertahankan dalam lingkar pertemanan.
Dunia ini, dunia yang sekarang kita tinggali, selain menyuguhkan keindahan juga menyediakan kengerian. Orang nyinyir dan banyak cakap semakin membludak, kriminalitas tumbuh pesat, korupsi yang melembaga, ketidak adilan di mana-mana. Lalu, kita harus dihadapkan lagi dengan kengerian di dunia maya?
Sungguh saya tak ingin mengusik ketenangan yang semakin langka ini. Sebab itu saya hanya ingin memandang apa-apa yang menyegarkan mata, menyejukkan hati, mencerdaskan pikiran, menyuplai pengetahuan, menambah syukur dan keimanan, dan dapat me-recharge ghirah dan semangat. Maka, saya harus memilih.
Dan dari pilihan-pilihan itu, dari filter dan seleksi yang sudah saya terapkan, tak sengaja mata saya menangkap account seseorang. Orang itu, baik sebelum menikah maupun setelah menikah memang jarang facebookan. Tapi di pagi yang bergegas itu ia membuat postingan baru. Tidak berkaitan dengan ‘fiksi mini’ atau ‘etalase portable’, juga bukan tentang nasehat atau kata-kata bijak. Hanya postingan sederhana: ucapan ulang tahun untuk suaminya.
Bukan iri karena benci, jahat, julid atau dengki. Bukan. Tapi ikut bangga melihat progres mereka jauh di atas saya. sangat jauh.
Dari caranya merayakan ulang tahun, membuat saya terkesima. Dari caranya mengungkapkan perasaan dan kebahagiaan, sungguh bikin melting. Dari caranya menunjukkan cinta dan mengunggah kebersamaan dengan suaminya, sungguh elegan. Dua orang itu, dia dan suaminya bisa membuat saya iri.
Cara mereka bertindak, cara mereka belajar, cara mereka mengarungi dunia, serta cara mereka percaya sekaligus menyerahkan hidup pada takdirNya dengan penuh totalitas, dan cara Tuhan membalas totalitas tersebut dengan karunia yang tak terhingga, tak berbatas, membuat saya kembali mengaca diri.
Sejak mengenal dua orang itu saya jadi cukup sering stalking. Dua orang yang masih sangat muda tapi berpendidikan tinggi, jauh dari glamour dan kemewahan, cerdas dan berprilaku baik. Betapa idealnya kehidupan yang diciptakan untuk mereka.
Kadang saya bisa menginginkan kehidupan yang dimiliki seseorang. Saya ingin duduk di posisi mereka. Lebih tepatnya, saya meyakinkan diri bahwa saya lah sosok yang layak berada di tempat mereka. Berangkat dari keinginan dan keyakinan tersebut, saya mulai mendesak Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Saya menggugat. Saya menuntut. Seolah-olah saya lebih berkuasa atasNya, atau merasa setara. Seolah-olah Ia buru-buru sewaktu menulis takdir untuk saya hingga menjadi rancu dan penuh keliru.
Salah?
Tidak.
Karena ayah bilang menyoal Tuhan merupakan kewajaran. Normal karena kita masih berwujud manusia, berstatus hamba. “Tapi lekas sadar. Banyak-banyak istighfar. Menengok ke atas itu perlu supaya ada rangsangan untuk maju, namun melihat ke bawah juga lebih perlu agar tidak buruk sangka pada Allah”, ujarnya.
Tapi dua orang itu, orang yang saya kagumi diam-diam, paling bisa bikin saya melow pagi-pagi. Barangkali tanpa mereka sadari, mereka telah mengajarkan saya arti kesederhanaan dalam sikap dan luar biasa dalam karya. Maka dari itu senantiasa saya letakkan mereka dalam lingkaran pertemanan agar selalu memotivasi, saya jaga tetap ada dalam sosial media untuk dicontoh dan dikagumi, meski sembunyi-sembunyi.
Doa tulus saya untuk pasangan muda itu, semoga jaya, full blessing, dan bahagia.
Tag : sosial media, facebook, filter, kehidupan, takdir

COMMENTS