Re-wacana Bentuk Bumi (?)

Sejatinya banyak hal-hal di bumi ini yang belum/tidak kita ketahui. Dan yang tidak atau belum diketahui tersebut senantiasa mengundang p...


Sejatinya banyak hal-hal di bumi ini yang belum/tidak kita ketahui. Dan yang tidak atau belum diketahui tersebut senantiasa mengundang perdebatan dari sebagian khalayak. Seperti apakah Hadjarul Aswad (batu hitam) yang menempel di sudut ka’bah itu diturunkan dari Sorga ataukah ia hanya kepingan meteor yang tiba-tiba jatuh menimpa bumi untuk kemudian diletakkan di sudut Ka’bah yang merupakan penanda kiblat umat Islam; mungkinkah Tuhan berjenis laki-laki sehingga karena hal tersebut menjadi legalitas bagi sistem patriarkal untuk lebih memperkuat cengkeramannya di beberapa wilayah di belahan dunia.

Meski bukan merupakan urgensi, namun bagi beberapa orang hal-hal yang tidak atau belum diketahui tersebut seringkali mengusik penasaran. Bahkan menjadi sebuah catatan untuk dibahas, dipertanyakan, diperbincangkan, hingga dinyinyiri. Boleh jadi mereka memiliki banyak waktu yang bisa dihamburkan begitu saja untuk sesuatu yang tidak mendesak, atau mungkin mereka merasa wacana tersebut layak dibawa ke meja diskusi, sekalipun perdebatan tersebut hanya membuat tegang urat saraf tanpa menghasilkan solusi, ide atau temuan-temuan baru.

Nah seperti yang akhir-akhir ini menghangat yaitu sebuah perdebatan usang, perdebatan yang telah pernah hadir di abad ke-3 sebelum masehi, namun dipertentangkan kembali: tentang bentuk bumi, bulat, lonjong, atau datar.

Sebuah wacana yang dicetuskan oleh Plato dan dibuktikan secara ilmiah oleh Erathostenes lewat pengamatan bayangan bumi saat gerhana bulan total. Sekali lagi, perdebatan alot tentang bentuk bumi tersebut dilakukan oleh para ahli sains, bukan oleh pemerhati yang prihatin, bukan pula pengamat dadakan.

Tapi dewasa ini, pada zaman di mana orang-orang berhak mengeluarkan opini dan mengutarakan pikiran, maka diam merupakan kesalahan besar yang harus segera diakhiri, sementara berbicara adalah niscaya. Perdebatan mengenai sesuatu dan dilakukan oleh mereka yang tidak berkecimpung di bidangnya, merupakan hal biasa. Para sastrawan, chef, sales, entrepreneur, politisi, ulama, sampai stylist dan designer bisa saja bersitegang urat leher membicarakan seperti apa bentuk bumi. Berbekal ilmu yang diperoleh ketika mengenyam pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah serta sedikit usaha googling, mereka berlomba menjadi yang terdepan agar digelar ilmuwan, intelek, up to date, atau manusia modern yang terbuka serta tanggap terhadap hal-hal baru. Kemudian menjadi menarik saat mereka mulai membuat analisa serta kesimpulan. Otomatically saya takjub dan merasa makin bodoh sekaligus terheran-heran.

Tak salah jika Mac Beath berkata bahwa dunia ini dipenuhi kisah dongeng, it is a tale, told by an idiot, full of sound and fury, signifying nothing; life is story told by an idiot, full of noise and emotional disturbance but devoid of meaning. Saya mengadaptasinya untuk sosial media, tempat di mana orang-orang bergegas melempar kata-kata, bersegera berbunyi, tapi tak ada signifikansi. Ia tak memiliki traffic light, tak mengenal rambu-rambu. Penggunanya bebas mengunggah kata-kata secepat peluru. Tak peduli pada efek yang ditimbulkan dari kata-kata yang disampaikan, yang diposting. Seolah-olah sosial media memiliki aturan ketat dan baku, namun tak tertulis: siapa lebih dulu, ia menang; siapa tahu lebih awal, maka ia modern.

Plato sudah berpulang, Galileo telah gugur, Copernicus telah wafat, Erathostenes telah mangkat. Namun perdebatan tersebut belum final. Bumi, yang tadinya kita ketahui berbentuk bulat ternyata tidak mutlak, tidak absolut. Wujudnya dibongkar ulang, dipertanyakan. Laksana jasad yang telah dikubur namun terpaksa ‘dibangunkan’ untuk keperluan otopsi. Seperti faraoh, raja-raja mesir, yang diidentifikasi helai-helai misai, jenggot, rambut maupun tulang belulangnya untuk diteliti.

Entah siapa yang memulai. Yang jelas selain Syiah-Sunni, Ahmadiyah-Aswaja, FPI-HTI, Sosialis-Komunis, bahkan PP-IPK, dunia ini juga menyediakan tempat bagi lahirnya beragam kelompok, golongan, komunitas, organisasi, perkumpulan atau sarikat. Mereka adalah Flat Earth Society (FES) dan Globe Earth Society (GES), komunitas bumi datar dan komunitas bumi bulat.

GES membuat hipotesa yang kemudian memunculkan sebuah teori. Lalu teori diuji dengan menampilkan banyak bukti, termasuk gambar bentuk bumi yang diambil oleh NASA ketika mendaratkan awaknya ke bulan. Berdasarkan hal tersebut maka lahirlah kesimpulan bahwa bumi berbentuk bulat.

Lalu setelah semua ini (bentuk bumi bulat), setelah sekian lama manusia hidup dengan keyakinan bahwa bumi berbentuk bulat, tiba-tiba FES membantah segala teori dan bukti yang ditunjukkan oleh GES. Tudingan bahwa GES berbohong terus dilancarkan. Pertanyaannya adalah, jika selama ini GES telah melakukan kebohongan publik, maka berapa besar biaya yang digelontorkan untuk itu? Sudah pasti tak sedikit. Lalu mengapa dan untuk apa?

Sebagaimana GES, FES pun melontarkan pendapat mereka. Sanggahan demi sanggahan terhadap bumi bulat segera ditulis, terus menerus diperbincangkan agar muncul ke permukaan. Sesaat kemudian menjadi trending topik di dunia. Namun sayangnya FES tidak (atau belum?) mengawal opini mereka dengan fakta. Amat mudah dilihat bahwa opini yang dilahirkan masih berupa asumsi. Hasil pemikiran yang ditujukan untuk mendobrak absolutisme, justru menuai cemooh dan bahan tertawaan.

Saya bukan tipe ortodoks yang enggan menerima kebenaran, sepertimana arogansi yang dilakukan pihak gereja ketika menentang pendapat dan hasil pemikiran Galileo tentang bentuk bumi. Hanya saja, sebuah kebenaran mustahil berdiri sendirian. Ia tentu dan pasti, didukung oleh hipotesa, fakta, bukti yang nyata, jelas, lengkap, dan dapat dipercaya. Kebenaran bertujuan untuk mendobrak tatanan baku dan usang, yang mengendap di dasar paling dalam dari kepalsuan, dari kebohongan.

Kebenaran tak bercita-cita mendulang sensasi atau popularitas. Ia tak hadir dalam bentuk pamer maupun pamor. Ketika ia ditemukan, ketika kebenaran muncul, maka goal yang ingin ia capai adalah kesadaran. Kemudian ketenaran akan menyertainya. Bukan sebaliknya. Kebenaran berusaha menyadarkan bukan malah menyesatkan. Kebenaran bertujuan memberikan solusi, pengetahuan dan jawaban, bukan menciptakan ilusi dan menambah kebohongan.

Mengenai wacana bumi datar, jika yang disampaikan tersebut merupakan kebenaran, sebaiknya segala fakta ilmiah dan bukti nyata segera dilampirkan. Bukan sekedar asumsi pribadi maupun beragam pernyataan yang minim referensi. Bukan pula sejenis cerita dongeng yang tujuannya demi sebuah euforia semata. Seperti euforia yang dirasakan (sekaligus dinikmati) para magician saat unjuk kebolehan: sulap ditampilkan di atas panggung, penonton terpukau dan berdecak kagum, tepuk tangan membahana disertai siul riuh saling bersahutan. Mereka hanya menciptakan trik/tipuan kecil, tapi namanya disebut dan senantiasa diulang. Omong-omong, siapa yang menolak saat dielu-elukan?

Dinna F Norris

Tag: bumi, Flat earther, globe earther, wacana, bentuk bumi, flat earth society, globe earth society, perdebatan, sebelum masehi, ahli sains, astronomi

COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: Re-wacana Bentuk Bumi (?)
Re-wacana Bentuk Bumi (?)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijCleNx1qeOhSfagnUgHsMrf7G4dNov3D4tgHvGIyF3h7keOePrTrBb7WGraqooSKy36hxE0smHnaQ3HT8dwyKz-a2M4l5tXPhJMBz7i4l6Gp6LLXgLFCAt9KXpG-AbTm0DtpzelcLod0/s640/Flat+Earth+dan+Globe+Earth%252C+Bumi+Bulat+dan+Bumi+Datar.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijCleNx1qeOhSfagnUgHsMrf7G4dNov3D4tgHvGIyF3h7keOePrTrBb7WGraqooSKy36hxE0smHnaQ3HT8dwyKz-a2M4l5tXPhJMBz7i4l6Gp6LLXgLFCAt9KXpG-AbTm0DtpzelcLod0/s72-c/Flat+Earth+dan+Globe+Earth%252C+Bumi+Bulat+dan+Bumi+Datar.jpg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/01/re-wacana-bentuk-bumi.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/01/re-wacana-bentuk-bumi.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy