Ada kata-kata yang lebih baik untuk tidak didengar maupun dibaca. Tapi di sosial media, bagaimana kita bisa mengendalikan jari dan rasa ...
Ada kata-kata yang lebih baik untuk tidak didengar maupun dibaca. Tapi di sosial media, bagaimana kita bisa mengendalikan jari dan rasa penasaran untuk tidak membuka notifikasi? Ketika kita menuliskan sesuatu atau melempar wacana, maka argumen demi argumen mulai bermunculan. Ada yang inspiratif, menambah pengetahuan, menyenangkan, dan ada yang, ah begitulah, sangat menjengkelkan. Untuk argumen menjengkelkan: buruk dan menertawai kekurangan, mungkin tidak bisa kita hindari. Tapi kita bisa memilih; memaafkan kemudian melupakan. Lalu belajar memahami serta memaklumi bahwa keahliannya di dunia ini adalah tidak memiliki bahasa yang baik untuk diucapkan.
Aku pikir dia cukup cerdas. Ya, barangkali dia cukup cerdas. Tapi aku bisa saja salah. Bisa saja asumsi tersebut bergegas. Kenapa? Karena akan tidak adil bila sosial media dijadikan satu-satunya cara untuk mengulik pribadi sekaligus menilai seseorang. Lagipula tergantung bagaimana kau mengartikan kata cerdas. Jika tolak ukurnya adalah tulisannya, wawasannya dan analisisnya, mungkin ia bisa dikatakan cukup cerdas. Tapi bagaimana dengan caranya berargumen? Bahasanya ketika berkomunikasi? Untuk yang terakhir, dari skala 1 sampai 10, dia berada di nomor 4. Poor!
Oh, barangkali dia merasa populer dengan segala yang akhir-akhir ini berlaku padanya (tulisannya disukai dan dishare banyak orang), sampai-sampai popularitas dini itu membuatnya harus menulis warning: maklumat pertemanan. Jika populer ia definisikan demikian, seorang Anwar Sadat, melalui kebijakan 'kerjasama'nya dengan Israel, bahkan lebih populer. Tapi apa yang terjadi? Ia rebah di hantam peluru. Kemudian Moammar Khadafi, pemimpin Libya yang kelewat kesohor dengan fashion style dan caranya memerintah, akhirnya wafat di ujung senjata seorang rakyat yang ia pimpin. Lalu Ahok. Kurang populer apalagi lelaki Tionghua itu? Namun hanya karena 'slip tounge' di Pulau Pramuka, ia diberondong kemarahan, aksi demi aksi, serta luapan kebencian.
Untuk menciptakan popularitas kadang butuh waktu lama. Namun untuk menghancurkannya hanya seketika. Karena itu, semestinya popularitas tak lantas membuat siapapun bersikap serampangan atau tinggi hati, tanpa kecuali. Jauh-jauh hari, pada era Sebelum Masehi, hal ini telah diingatkan oleh Euripides dalam bukunya 'Perempuan Yang Memohon' bahwa keserampangan dapat menyebabkan kegagalan. Tapi bagaimana dengan dia? Mungkin popularitas tersebut kali pertama dicecapnya. Atau mungkin sifat tinggi hati merupakan noktah kecil yang diselipkan pada saat poses penciptaannya masih berwujud sperma?
Tapi tidak mungkin seperti itu. Sebab terlepas dari segala keburukan di dunia ini, manusia pada dasarnya baik. Masalahnya ada pada pengendalian diri dan pilihan. Dan menurutku, ia belum cukup mampu mengendalikan dirinya dari godaan popularitas itu. Sampai di sini, kuharap aku salah.
Bagaimanapun aku tetap menyukai tulisannya, cara pandangnya dan gaya bahasanya. Tapi kupikir itu yang terakhir, dan aku memilih untuk quit, untuk berhenti. It might be my last, and the last one in my life. Aku tahu sikapku tak mengubah apapun, tak berpengaruh apa-apa terhadapnya. Karena akan selalu ada yang menyukainya, dan mungkin akan bertambah banyak lagi. Tapi setidaknya aku telah memilih, telah membuat keputusan.
Dia, bukanlah sebuah kesalahan. Tapi melalui dia aku bisa memetik pelajaran: bukankah manusia itu kerap demikian lemah sehingga tidak bisa mengendalikan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi, yang tak kekal, yang tak abadi?
Tapi sudahlah. Kita hidup di sini sekarang. Apa yang telah berlaku adalah masalalu, dan kebanyakan terlupakan. Dan cerita ini juga akan dilupakan. Begitu juga dengan tokoh di dalamnya. Maka bila suatu hari ia membaca tulisan ini, aku harap ia tahu bahwa popularitas tak selamanya berkilauan, tapi ia juga punya batasan hingga dapat menjadikan seseorang merayap dalam kegelapan.
Ah, rasanya tulisan ini cukup panjang. Tapi aku telah menuliskan apa yang ingin kutuliskan. Dan seperti biasa, seperti pada tulisan-tulisanku sebelumnya, kali ini aku juga telah menuliskannya dengan penuh pesona.
Well, semoga sampai pada pencapaianmu ya.
Dinna F Norris
*
Tag: surat, sosial media, facebook, argumen, seseorang, diskusi, serampangan, sikap, popularitas, dialog

COMMENTS