Tidak mudah untuk mengatakan dengan pasti apakah sebenarnya demokrasi itu. Namun berdasarkan sejarah dan pengalaman, bisa dikatakan bahw...
Tidak mudah untuk mengatakan dengan pasti apakah sebenarnya demokrasi itu. Namun berdasarkan sejarah dan pengalaman, bisa dikatakan bahwa inti demokrasi adalah kesepakatan. Masyarakat bersepakat untuk memilih seorang pemimpin melalui sistem pemilihan, atau, masyarakat bersepakat untuk tidak sepakat ketika berhadapan dengan sebuah keputusan.
Pada dasarnya masyarakatlah menciptakan demokrasi. Tanpa disadari masyarakat mengadopsi model tentang cara berkelompok, bernegara, dan berkumpul untuk mengemukakan ide, argumen, pemikiran dan pandangan. Itu sebab demokrasi juga mengakomodir segala perbedaan. Seperti dua golongan yang saling 'bertarung' untuk mendefinisikan apa yang benar pada suatu sisi, dan apa yang salah pada sisi lainnya. Atau dua kelompok yang memiliki argumen masing-masing mengapa harus mendukung pemerintah serta mengapa harus mengkritisi dan berada di barisan oposisi
Dari perkembangan demokrasi ini, selanjutnya lahirlah apa yang dinamakan dengan kebebasan. "Tidak ada negara kecuali di mana rakyatnya memiliki kekuasaan tertinggi yang memberikan ruang bagi kebebasan" tulis Cicero dalam Republic. Dengan demikian setiap orang bebas memulai pencarian demi sebuah keyakinan yang menjadi pegangan hidupnya.
Seperti yang terjadi beberapa bulan belakangan di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama alias Ahok yang datang ke tempat tersebut dalam rangka kunjungan kerja, beliau berpidato di hadapan warga dengan mengucapkan kalimat yang memantik reaksi dari seluruh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat DKI Jakarta.
Berangkat dari pidato tersebut sebagian orang menuduhnya telah melakukan penistaan, akan tetapi saya ingin menyebutnya sebagai "slip tounge" alias keseleo lidah. Saya memberi penekanan atas dasar apa dan pada momen bagaimana Ahok berpidato demikian. Sehingga saya dapat membuat kesimpulan bahwa: seorang pria kristen beretnis Tiong hua, yang cukup selalu diserang dari segala penjuru gara-gara sepak terjangnya dalam merombak birokrasi Ibukota, yang memutuskan ikut serta sebagai satu-satunya kontestan China Kristen pada pemilukada, telah menciptakan 'riak besar' di Pulau Pramuka. Namun apa yang ia sampaikan merupakan sebuah kegamangan minoritas hingga melahirkan prakata yang bergegas.
Saya tidak sedang membela pemerintah atau mencoba mensejajarkan diri bersama para birokrat. Namun dalam kasus Ahok, yang saya cermati adalah aspek politis dalam perebutan kekuasaan, bukan perkara penistaan. Namun 'Slip tounge' tersebut menemukan muaranya pada episode pemilukada.
Meski demikian saya selalu memahami, orang-orang akan percaya apa yang ingin mereka percaya, mereka akan meyakini apa yang ingin mereka yakini. Seperti halnya saya yang meyakini bahwa tindakan Ahok merupakan 'slip tounge' semata, sementara kelompok lain datang dengan sebuah kepercayaan dan keyakinan bahwa pria temperamen tersebut telah melakukan penistaan terhadap kitab suci umat Islam yakni Al-Quran. Dan aksi damai yang populer dengan simbol 411 serta aksi lanjutan Super Damai 212 esok, adalah pengejawantahan dari sebuah kemarahan.
Pada akhirnya demokrasi juga punya tuntutan teaternya sendiri. Demokrasi di zaman modern ini, sebuah demonstrasi atau massa aksi merupakan bagian dari kehidupan politik yang tak terbendung. Yel-yel, pawai, kostum, nyanyian, peran, laku, kata-kata bergelora, pekik riuh, tumpah di jalan, di lapangan. Hanya saja saya berharap dari massa aksi yang tak berkesudahan tersebut, yang akan dilahirkan nantinya adalah sebuah nilai-nilai demokrasi atau sesuatu yang dicita-citakan, bukan sekedar pameran atau revolusi slogan.
Begitupun, atas nama demokrasi pula sebaiknya Presiden menanggapi massa aksi kali ini dengan tidak alpa atau menunjuk perwakilan. Sebab kealpaan hanya akan memperlihatkan dengan jelas ketidakmampuannya dalam menjalankan tanggung jawab dan mempercepat kejatuhan popularitasnya, bahkan lebih jauh lagi, dapat membuatnya kehilangan haknya untuk ditaati. Sementara itu kehadiran seorang Kepala Negara pada parade rakyat esok memberikan beberapa keuntungan di antaranya: menjadikan Presiden sebagai tuan rumah di sebuah panggung raksasa yang tak disengaja tanpa perlu baginya berpayah-payah mengerahkan massa; menjadi catatan sejarah yang dapat dikenang dengan penuh wibawa.
Seperti bunyi pepatah China, bahwa ebuah kapal akan tetap aman bila ia disandarkan di dermaga. Akan tetapi bukan atas tujuan itu ia dibuat. Dan seorang kepala negara akan terlihat gagah dan berwibawa di atas kursi kekuasaan, tapi bukan atas tujuan itu ia dipilih dan diperjuangkan. Ia yang berasal dari rakyat, harus siap menghadap rakyat dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, bukan malah menjauh dan berjarak dari rakyat.
Dinna F. Norris

COMMENTS