Munculnya nama Agus Harimurti Yudhoyono di kancah politik praktis sontak memicu keprihatinan dari para 'pemerhati politik'. Mung...
Munculnya nama Agus Harimurti Yudhoyono di kancah politik praktis sontak memicu keprihatinan dari para 'pemerhati politik'. Mungkin bisa disebut berlebihan atau bahkan cukup berisik. Sebab desas-desus yang bersliweran di luar sana, di samping berupa opini juga sindiran yang berbau sarkartis. Ada yang menyebut bahwa sosok Agus terlalu dini untuk menjadi politisi apalagi memimpin suatu wilayah, anak 'mami' yang dipaksakan memegang tongkat estafet kekuasaan, anak ingusan yang belum berpengalaman, sampai komentar yang menilai Susilo Bambang Yudhoyono yang notabene ayah sekaligus pengusung ide mencalonkan AHY sebagai politisi yang telah gelap mata hingga salah langkah dan strategi.
Perlu diketahui apa yang berlaku di dunia politik bukanlah sesuatu yang harus berada pada pakemnya. Sebab itu munculnya nama AHY di medan laga politik bukan sebuah kemustahilan hingga tak perlu dipersoalkan. Lagipula kita telah sering melihat para politisi yang acap kali mempertontonkan hal-hal yang mencengangkan. Seperti penegak hukum yang mempermainkan hukum, narapidana percobaan terdaftar sebagai kontestan pikada, pejabat pajak menjadi penjahat pajak dan sebagainya. Berkaca dari peristiwa di atas, keheranan rakyat terhadap aktivitas politik semestinya sudah lama tergerus.
Lalu ketika SBY mengantarkan anaknya sendiri ke tengah publik, sebagai warga DKI Jakarta yang memiliki hak memilih, selayaknya turut gembira karena disodorkan bintang baru di tengah lapangan. Tak perlu masygul. Hanya saja persoalannya adalah bagaimana menentukan calon terbaik dari deretan nama itu.
Sekedar catatan, AHY bukanlah jenis tentara yang minim prestasi. Sebagai sosok terdidik dan berintelektual tinggi, ditambah pengalaman di bidang militer dan organisasi, rasanya tak berlebihan jika menyebutnya pantas diperhitungkan.
Karena itu saya tidak melihat adanya sikap gegabah atau salah langkah dalam diri SBY. Sebagai seorang yang pernah memegang tongkat komando, pernah menduduki posisi menteri, sangat lama berkecimpung di dunia politik praktis, dan pernah pula menjabat presiden selama dua periode, tentu beliau sudah memperhitungkan segala untung rugi yang akan ia ambil nantinya.
Mengutip Samuel Huntington dalam The Soldier and The State: 'politisi sipil (termasuk purnawirawan) sering tidak dapat menahan godaan untuk memasukkan militer ke dalam arena politik domestik, baik itu untuk mendukung kelompok politiknya dalam persaingan dengan rivalnya maupun memastikan agar kelompok mereka dapat mengontrol militer'. Dan SBY cukup jeli memanfaatkan momen pemilukada DKI Jakarta sebagai hidangan pembuka bagi seorang AHY. Dengan mengandalkan siara dari simpatisan, kadder dan 'keluarga militer', target yang ia bidik jelas, yakni menjadi pemenang. Akan tetapi laksana ayam petarung, mengasah taji adalah suatu esensi. Sebuah hakikat. Pun demikian dengan pencalonan AHY. Debut pertamanya di jalur politik praktis dapat dijadikan momen tes popularitas sekaligus mengukur kemampuan.
Adapun suara-suara yang mengatakan AHY tak layak diusung karena belum berpengalaman, bukankah tampilnya beliau sebagai balon pemilukada merupakan tonggak untuk menorehkan pengalaman?
Sejatinya, politik bukan catwalk, bukan panggung yang asik untuk berhilir mudik. Namun seperti kata Machiavelli, 'politik adalah seni sari segala kemungkinan. Dan dunia politik sama tidak pastinya seperti alam semesta yang berisi dewa-dewa Yunani sinting'. Maka berdasarkan pemikiran Machiavelli tersebut, dengan segala kemungkinan yang akan muncul atau segala kemungkinan yang diciptakan, AHY bisa saja keluar sebagai jawara, namun ia juga bisa KO dalam pertarungan pertama.
Meski demikian jikalau ia tak tepilih nantinya, setidaknya AHY telah mencatat sejarah sebagai prajurit yang berani sekaligus nekat, keluar dari 'barak' militer demi menenggelamkan kedua kaki di rawa berlumpur yang senantiasa diselimuti kengerian, demi menapak di jalan terjal yang penuh dengan ketidakpastian.
Untuk itu ada yang harus dikorbankan demi sebuah tujuan, ada yang harus digelontorkan demi 'biaya pergaulan'.
*Ditulis pada tanggal 24 Sepetember 2016, sehari setelah nama AHY diumumkan ke publik sebagai kontestan pemilukada DKI Jakarta
Tag: putera mahkota, prince, politik, analisa, militer, pemilukada, agus yudhoyono, calon, bakal calon, jakarta

COMMENTS