Jika Ahok adalah sumber kemarahan yang pada akhirnya terakumulasi pada 4 November, maka beberapa pihak menyerukan demonstrasi sebagai ja...
Jika Ahok adalah sumber kemarahan yang pada akhirnya terakumulasi pada 4 November, maka beberapa pihak menyerukan demonstrasi sebagai jalan terbaik saat ini. Tentu mereka punya maksud dan tujuan, serta meyakini apa yang mereka lakukan merupakan kebenaran.
Kepada para demonstran, aktivis dan siapapun yang turun ke jalan untuk berjuang atas nama Tuhan atau atas opini yang diyakini, saya doakan baik-baik di jalan, selamat pergi, selamat pulang.
Hanya saja, masing-masing kita telah memilih bagaimana cara kita melihat sesuatu atau memandang peristiwa atau memahami wacana. Tentang tuduhan penistaan agama, saya yakin sodara-sodara punya ketentuan dan batasan seperti apa penistaan agama. Begitupun, saya memiliki definisi tersendiri tentangnya.
Ketika artis kristiani memerankan tokoh perempuan soleha, berkerudung, dan sholat pula, yang demikian itu saya sebut penistaan agama. Ketika aktor kristiani memerankan tokoh pria muslim, berkopiah, dan ikut sholat, saya menyebutnya penistaan agama. Ketika sholat idul adha dan idul fitri yang dilaksanakan setahun sekali tapi masih saja ada yang meninggalkannya tanpa urgensi, saya menyebutnya penistaan agama. Ketika ada perempuan berjilbab, sehat jiwa raga, sempurna tubunya, namun mengemis di sepanjang jalan, saya menyebutnya penistaan agama. Ketika ramai perempuan yang berkerudung di bulan ramadhan kemudian melepasnya setelah ramadhan berakhir, saya menyebutnya penistaan agama. Ketika pertumbuhan mesjid semakin pesat sementara jamaahnya satu dua, itu saya sebut penistaan agama. Ketika golongan satu meributi cara sholat dan cador golongan lainnya, itu saya sebut penistaan agama. Ketika pengikut agama yang satu memprotes pengikut agama lain atau sebaliknya, dalam hal memperlakukan jenazah (perkara takjiyah), itu saya sebut penistaan agama. Ketika muslim yang satu mengoreksi muslim yang lain dalam hal celana cingkrangnya, itu saya sebut penistaan agama. Ketika muslim yang demonstrasi membully muslim yang memilih berdiam diri, itu saya sebut penistaan agama.
Lalu, mengapa tidak dipersoalkan? Setiap kita tentu memiliki banyak jawaban dari pertanyaan di atas. Setiap kita tentu memiliki ratusan argumen untuk mengomentarinya.
Saya tidak membenci siapapun, lebih tepatnya tidak ingin membenci siapapun. Pemikiran-pemikiran yang selama ini saya tuliskan, tidak untuk membela pihak-pihak yang sedang berseteru, tidak sedang mendiskreditkan para demonstran dan aktivis manapun. Tapi di sini, saya ingin menegaskan bahwa apa yang kita lihat dan dengar di televisi kadang tak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan acap kali, kita menentukan dan meyakini sesuatu hanya berdasarkan posisi 'kita menonton televisi', bukan dari posisi 'kita berpikir'.
Begitupun, aktivitas politik yang kita perhatikan di layar kaca, lebih sering berbeda saat ketika ia ada di level khusus, yakni di jajaran elit. Semua hal dimenej secara khusus, lalu diubah dan kemudian ditampilkan menjadi fakta-fakta berbeda berdasarkan keinginan pemerintah (penguasa).
Sekali lagi, semoga demonstrasi besok berlangsung damai dan aman. Hendaknya tidak hanya sebatas demostrasi, tapi setelah itu ada solusi yang menyertai.
Misalnya, demonstrasi tersebut dapat menyadarkan konstituen bahwa Ahok adalah seorang penista agama sehingga tak akan memilihnya dalam pemilu, atau mampu menggerakkan para pemilih untuk mengalihkan suara mereka pada calon-calon selain Ahok, atau gerakan massa tersebut mampu menghempas Ahok ke luas samudera, kemudian ramai-ramai rakyat menyokong Habieb Riziq sebagai calon kontestan berikutnya. Saya pikir beliau cukup layak, sebab ibarat oase di gurun sahara, beliau hadir untuk menertibkan, mendamaikan, dan menentramkan. Atau, rakyat mengusulkan beberapa nama ulama yang dipandang cukup arif, hanif, tidak rakus akan kekuasaan, mampu merekatkan perbedaan serta bijak memimpin masyarakat Indonesia yang multi etnis, agama, ras, dan antar golongan.

COMMENTS