Dear folks... Kita bertemu di sini, di rumah baru saya. Kepindahan yang untuk ke berkian kalinya. Meski saya pun terasa jengah, akan tet...
Dear folks...
Kita bertemu di sini, di rumah baru saya. Kepindahan yang untuk ke berkian kalinya. Meski saya pun terasa jengah, akan tetapi hal ini merupakan sebuah keharusan.
Jadi, setelah berasik masuk di multiply, tak berapa lama kemudian saya bermukim ke wordpress. Di sana saya menetap lumayan lama. Meluahkan kisah yang dialami, melukiskan cerita yang saya lihat, menorehkan puisi, dan menuliskan pemikiran mengenai hal-hal yang saya temukan.
Kemudian atas anjuran beberapa rekan saya membuka laman pribadi yang beralamat nama sendiri. Katanya biar lebih mudah dikenal dan ditandai. Sungguh argumen yang tak bisa dijadikan alasan. Namun setelah dipikir-pikir, saya tertarik dengan gagasan 'blog beralamat nama sendiri' tersebut. Alasannya sederhana yakni saya sangat mengapresiasi kepemilikan. Saya menginginkan hal-hal atas nama sendiri. Rasanya seperti ketika kali pertama kau memperoleh kebebasan. Mutlak. Langka. Selesa.
Maka atas nama alasan tersebut, lahirlah dinnafnorris.com. Tadinya saya berharap laman khusus ini ditumbuh kembangkan dari blog lama yang telah saya rintis beberapa tahun silam: dinnafitriananoris.wordpress.com. Dengan begitu saya tak perlu pindah rumah lagi, tulisan-tulisan tetap berada pada tempatnya, dan yang lebih penting para pembaca bisa dengan mudah memantau serta mengakses hal-hal berkembang dari setiap ide saya.
Akan tetapi, adik saya yang membidani kelahiran blog ini menyarankan menggunakan perangkat blogspot. Saya tak tahu apa fungsi dan manfaatnya. Yang jelas, pembuatan page baru ini saya serahkan sepenuhnya pada beliau, sebab saya hanya akan merasa aman jika bekerja sama dengan ahlinya.
Akhirnya seperti yang sekarang terlihat, rumah baru saya masih berada pada tahap maintenance alias pengerjaan. Banyak ruang yang mesti ditata agar tak beralih fungsi menjadi gudang penyimpanan memori-memori usang. Selain itu saya masih harus menyaring kisah mana yang layak diunggah, dan mana yang sebaiknya saya usap agar tak tergoda untuk berkeluh kesah.
Saya menyadari aktivitas pindah-pindah rumah ini akan terasa mengganggu. Maka atas segala ketidaknyamanan, dengan tulus saya haturkan sepuluh jari, mohon kiranya dimaafkan.
___________
Dinna F. Norris

COMMENTS