Logika akan membawamu memahami 1+1=2, tapi politik akan membuatmu bersensasi ibarat menyantap banteng rasa sapi, atau seperti melihat ka...
Logika akan membawamu memahami 1+1=2, tapi politik akan membuatmu bersensasi ibarat menyantap banteng rasa sapi, atau seperti melihat kapas di dahan beringin atau laksana menatap bintang di terik cahaya matahari biru. Berpolitik tetap memakai etika, tapi meminjam istilah Sutan Sahrir 'ini bukan politik para nabi' di mana para penguasa, para politisi diwajibkan menjalankan rule kesopanan
.
Dalam bukunya Analisa Politik, David E Apter menyebutkan bahwa politisi memiliki 2 kaidah dalam wilayah kerjanya yakni: kaidah pertama politisi adalah memperoleh kekuasaan, maka kaidah kedua baginya adalah mempertahankan kekuasaan. Dengan demikian tidak mengherankan apabila politisi bertindak gegabah saking bernafsunya, pun terkadang melakukan hal-hal mengerikan di luar konteks dan aturan.
Salah satu contoh sangat jelas yang belakangan ini teramat sering kita saksikan adalah ketika Ahok berpidato berapi-api dan bernafsu di hadapan warga kepulauan seribu. Ia berujar keras "jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51", kira-kira seperti itu.
Reflek saya menganga seraya menggelengkan kepala. 'Ini sudah di luar kendali' gumam saya kala itu. Dan benar saja, gara-gara terlepas kontrol berbahasa, seluruh barisan umat dan pihak-pihak yang dari awal sudah tak senang dengan style beliau, akhirnya bereaksi. Ada reaksi standar, datar, dan berlebihan.
Saya yakin, Ahok tak pernah menduga reaksi umat akan sehebat demikian. Ia yang tadinya merasa nyaman dengan kebebasan yang merupakan produk reformasi, harus limbung dan tergagap-gagap di sudut ruangan. Al-Maidah 51 diseret-seret, tuduhan penistaan agama dijatuhkan, hingga seorang Ahok gelagapan.
Jadi inilah realitanya. Ketika birokrasi mulai tumbuh, namun demokrasi yang kita cita-citakan malah kedodoran. Tapi, seperti tulis Goenawan Mohamad dalam salah satu capingnya
"Demokrasi juga akhirnya punya tuntutan teaternya sendiri. Di zaman modern, gerakan massa merupakan bagian kehidupan politik yang tak terbendung. Pawai, suara, semboyan, nyanyian, perjuangan, poster, kata-kata bergelora, dan kostum yang spesial tampil di jalan, di lapangan, dan di tribun-tribun."
Mereka, pihak-pihak di balik pemicu kisruh itu, butuh panggung. Seperti mana disebut oleh Walter Benjamin sebagai 'nilai pameran'. Jadinya politik dan agama bersimpul erat, dan kebhinekaan yang diutamakan itu semakin jauh dari tujuan semula.
Ya, mereka menginginkan pameran. Seperti Pompeius yang dilukiskan Robert K Harris dalam Imperium, yang tak sengaja mendapatkan panggungnya di kerajaan Romawi setelah mempecundangi Cicero. Mereka sedang ingin menertawakan sandiwara yang mereka ciptakan secara tak sengaja. Mereka membutuhkan tempat untuk pamer kekuatan, mereka hendak menunjukkan siapa penguasa sebenarnya. Mereka pandai memanfaatkan momen, hingga kemudian menemukan tempatnya pada 4 November 2016, bersama sekumpulan orang yang saat ini mereka akui sebagai rakyat, melakukan demonstrasi yang mereka sebut sebagai perjuangan.

COMMENTS