Antara Eksploitasi dan Bully

Mungkin bagi sebagian orang seekor kucing yang sudah tidak bernyawa lalu dibuang begitu saja ke sungai, bukanlah hal menarik untuk d...


Mungkin bagi sebagian orang seekor kucing yang sudah tidak bernyawa lalu dibuang begitu saja ke sungai, bukanlah hal menarik untuk dikisahkan. Atau bunyi bising dari mesin pemotong pohon milik tetangga tak layak diangkat dalam sebuah cerita. Atau seperti kasus yang menimpa artis Luna Maya barusan, mungkin sebagian orang merasa bahwa hal tersebut tak perlu dibesar-besarkan apalagi dituliskan. Tapi sependek yang saya pahami bahwa tolak ukur ‘penting atau tidak penting’ bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Saya menduga (meski dugaan ini bergegas) jika mereka cukup berpengalaman menempatkan sesuatu yang bernilai prioritas maupun tidak prioritas.

Di sini muncul pertanyaan, bukankah sesuatu yang tadinya tidak penting atau dianggap perkara remeh temeh bisa menjadi penting setelah tersibak ke permukaan? Karena itu setelah melalui perdebatan panjang dalam pikiran, izinkan saya (apa perlu minta izin? Sebab meski diprotes saya tidak akan mengurungkan niat mempublish hal ini) menuliskannya dan membiarkan pembaca terbelah dalam dua sikap yakni: layak atau tidak layak, penting atau tidak penting, berskala prioritas atau tidak prioritas.

Suatu malam ketika sedang berselancar di Instagram, salah satu media sosial yang sekarang ini paling digandrungi penduduk bumi. Saya melihat gambar Orang Utan berdampingan dengan seorang perempuan. Rupanya gambar itu dibuat untuk sesi pemotretan majalah Bridal. Dan rupanya lagi, perempuan yang menjadi objek poto, yang bahunya disentuh oleh Otan adalah Luna Maya, artis populer Indonesia dan pernah menjadi duta WWF.  Saya tidak tahu persis apakah poto bersama Otan tersebut digunakan oleh tim creative majalah Bridal sebagai campaign terhadap kelangsungan hidup satwa liar, atau Otan (lagi-lagi) bernasib sial karena tak bisa menolak ketika dijadikan proyek komersil.

Seperti yang jamak kita ketahui bahwa Otan merupakan species dilindungi karena populasinya terancam punah akibat ulah predator terbesar (manusia) serta pembalakan hutan liar. Manusia, yang mendapat predikat sebagai makhluk mulia ini gemar berburu Otan, baik anak-anak maupun dewasa, baik jantan maupun betina, baik hidup maupun mati. Otan-otan tersebut diperjual belikan demi keuntungan kolektif atau pribadi. Sehingga populasi Otan yang memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96% dengan manusia ini tinggal 14.613 (berdasarkan hasil survey International Union for Conservation Nature orangutan 2016) dari 200.000 di tahun 1970-an. Data tersebut hanya untuk species Otan Sumatera. Karena itu tak mengherankan jika statusnya bergeser dari terancam ‘punah’ hingga ‘kritis’.

Selain itu pembalakan liar atau penebangan hutan baik legal maupun ilegal juga berperan besar bagi menyusutnya populasi Otan. Pembukaan hutan dan mengonversinya menjadi perkebunan kelapa sawit bukan suatu tindakan bijak karena dapat mengakibatkan semakin sempitnya kawasan hutan hujan yang menjadi habitat mereka.

Dihadapkan pada fakta di lapangan terang saja para pegiat perlindungan Otan dan para aktivis satwa liar yang selama ini berkecimpung dalam dunia Otan meradang, ketika perusahaan atau artis masih saja memanfaatkan hewan liar untuk kepentingan bisnis.

Sebab itu saya bisa memaklumi rasa marah dan geram dari seorang perempuan yang mengaku aktivis wild animal atau wild life. Lantas di akun pribadinya (@ayadndr) ia mem-posting gambar luna maya bersama Otan yang menjadi cover majalah Bridal. Pada gambar berwarna sephia tersebut ia coretkan kata ‘stupid’ dengan tinta merah besar-besar yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘bodoh’, serta ia bubuhkan caption panjang di bawahnya:

#orangutanbukanmainan #satwaliarbukanmaninan
Wajah cantik, body bagus, terkenal tapi ternyata tidak teredukasi dengan baik. Wawasan kurang dan tidak sadar photoshootnya bersama orangutan memiliki dampak luar biasa bagi pembodohan publik.
Public figure, STOP FOTO BERSAMA ORANGUTAN!
Buat team creative nya berikut fotografer atau siapapun yang membuat concept photoshoot ini. tolonglah jangan malu2in orang creative. Educate yourself first baru berkarya.
Mending buat collab tentang kampanye satwa liar dan satwa terancam yang benar sama saya.
Saya mewakili orang creative yang susah payah untuk mengedukasi masyarakat luas secara mandiri maupun dalam organisasi, merasakan betul bagaimana berjuang untuk membantu mencerdaskan bangsa lewat karya-karya dan edukasi yang benar melalui karya untuk menyelamatkan satwaliar.
Apalagi kerja keras LSM dan konservasi,mereka rekan2 orang lapangan yang mati-matian menyelamatkan, merehabilitasi, dan melepasliarkan orangutan ke alam MENJADI SIA SIA karena kebodohan anda.
Anda (public figure, creator) memiliki peran penting dalam mempromosikan segala sesuatu. Termasuk mempromosikan bahwa adalah baik-baik saja berfoto bersama orangutan yang diambil dari alam terlihat lucu melakukan hal-hal tidak wajar dan tidak natural, tidak seperti di habitatnya.
Oiya tambahan lagi orangutan punya DNA 90% sama seperti manusia. Penyakitnya pun sama seperti manusia. Penyakit zoonosis. Jadi kalo orangutan ini TBC, hepatitis, dll kamu bisa tertular. Begitupun sebaliknya. Kalau kamu flu ato punya virus apa, bisa nular ke orangutannya.
Termasuk virus kebodohan atau kekurang wawasan yang kamu derita juga bisa menularkan penderitaan bagi orangutan2 lain yang nantinya akan berakhir sama jadi objek foto seperti yang baru saja kalian PROMOSIKAN melalui project pemotretan ini.
Btw yang paling bingungin ini majalah Bridal kan ya? Mentang2 OU punya DNA 90% manusia jangan2 mau bikin konsep pernikahan orang denganorangutan gitu?
Aku Cuma bisa garuk2 kepala dan kerjain deadline tentang kampanye penyelamatan satwa.
Salam Lestari!


Ada Apa Dengan Poto?

Sejauh ini saya memahami dengan baik maksud dari caption bernada amarah tersebut. Sebab berkerja keras dan berjuang untuk kebaikan di masa depan tentu tidak mudah. Apatah lagi berkutat perihal satwa liar berikut upaya meluruskan pemahaman dan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan mereka.

Poto Luna Maya dan Otan yang terpampang pada sampul depan Majalah Bridal tersebut dapat menjadi ancaman bagi nasib Otan itu sendiri. Artinya, poto tersebut akan menjadi tiket masuk bagi para remaja yang belum mendapatkan wawasan yang cukup mengenai Otan dan bagi manusia-manusia yang belum teredukasi dengan baik untuk ikut-ikutan selfi dengan hewan yang dilindungi. Poto tersebut juga dapat menjadi lisensi bagi publik figur, tim creatif, atau perusahaan-perusahaan bisnis lainnya untuk melakukan hal serupa. Dan sayangnya lagi, poto tersebut juga dapat memoncerkan tujuan orang-orang yang berniat jahat untuk berani mengibarkan perburuan mereka terhadap satwa ini.

Tentunya kekhawatiran di atas tidak berlebihan mengingat sekarang ini kita hidup di tengah gempuran sosial media dimana satu hal saja, bisa dilihat, ditangkap, dan ditiru manusia seluruh dunia. Bayangkan bagaimana dampak yang dihasilkan dari selembar poto yang viral?

Saya berharap, Luna Maya serta para tim dan kru di balik projek pemotretan tersebut adalah orang terakhir yang mengeksploitasi Otan. Harapan saya juga berlaku bagi satwa-sawa liar dan dilindungi yang tersebar di Indonesia, atau di manapun populasinya. Semoga pekerjaan seceroboh ini tak pernah terulang lagi, baik oleh publik figur, pekerja entertain dan media, pengusaha, pejabat maupun rakyat pada umumnya.


Menata Emosi, Mengatur Bahasa, Merawat Kewarasan

Sejauh ini saya juga bisa mencerna kalimat-kalimat penuh emosi tersebut sebagai efek dari rasa kesal dan perih saat usaha atau kerja keras yang kita geluti sekian lama terancam sia-sia. Sungguh menyebalkan ketika bertahun-tahun kita teriak ‘NO ANIMAL ABUSE’ atau ‘STOP KOMERSIALISASI PADA HEWAN’ sementara di sisi lain ada laku (entah disengaja atau tidak) yang mementahkan kerasnya teriakan.

Sungguh, saya bisa merasakan emosi yang ditunjukkan pemilik akun bernama Aya Diandara, meski dalam konteks yang berbeda.

Misalnya, remaja perempuan yang sempat viral dan menjadi fenomena karena tulisan-tulisan yang ia posting di sosial media (facebook) kira-kira sembilan bulan lalu. Tulisan yang konon menggugah tersebut membuatnya didaulat jadi keynote speaker di singgasana akademik UGM, diberi kesempatan bertemu Presiden, diundang jadi nara sumber pada acara bertema pancasila, politik, negara dan kebangsaan, diberi tempat untuk nongkrong di televisi-televisi swasta, diangkat jadi juri pada event-event literasi, dan akhirnya dihadiahi beasiswa pula.

Namun setelah diteliti dan diselidiki rupanya sebagian tulisannya terbukti plagiarisme atau copy paste atau menjiplak. Pun dengan beberapa gambar yang ia unggah, petikan kata-kata mutiara, serta potongan-potongan puisi. Bukan hanya itu, bahkan ungkapan kekesalan yang ia buat dalam format video pun ternyata hasil menjiplak video harakiri Amanda Todd. Hingga kini video tersebut terkenal dengan tagline: ‘haw ken yu du det, pipel…’

Sontak netizen merasa berang dan segera mengeluarkan caci maki, sumpah serapah, dan memborbardirnya dengan kalimat-kalimat yang membuat jantung berhenti berdetak. Netizen yang kelewat emosi ini lalu membuat akun kloningan ‘@afinihalu’ di instagram. Isinya, tentu bisa ditebak. Dan akun kloning tersebut masih bertahan sampai sekarang. Selain itu, beberapa netizen juga mengunggah bukti-bukti bahwa remaja perempuan ini benar-benar melakukan praktek lancung di dunia literasi. Selengkapnya bisa dibaca pada artikel saya yang telah dimuat di Harian Analisa.

Netizen semakin bereaksi sangat keras ketika remaja perempuan tersebut bersikukuh tidak mengakui kalau ia melakukan plagiarisme. Ia ngotot mengatakan apa yang ia tulis selama ini merupakan buah pikirannya sendiri. Ia terus menciptakan dalih dan apologi yang ternyata sia-sia, karena dua cara tersebut malah membuatnya menambal kebohongan di atas kebohongan.

Saat dihadapkan dengan perkara menjijikkan itu, kemarahan saya memuncak seketika. Rasa geram dan kesal naik ke ubun-ubun. Saya berpikir, merenung dan berkata-kata dalam hati:

Aku berjuang di dunia literasi dalam waktu yang tidak singkat, dan perjuangan itu masih berlangsung hingga saat ini. Aku membaca dengan keras, menulis dengan keras agar tulisanku sarat makna dan berkualitas. Aku melatih diriku hingga melewati batas-batas yang aku ciptakan hanya untuk menapakkan kaki di dunia yang kusayangi ini. Tak pernah sekalipun aku berhenti belajar menulis bagus, menulis indah, menulis penuh gaya, menulis kritis, demi untuk menorehkan namaku dalam buku sejarah. Tak pernah sekalipun aku berniat mundur hanya karena tulisan-tulisanku belum menemui takdirnya.
Lantas, kenapa anak kemarin sore dengan bekal tulisan tambal sulam bisa semudah itu disodori panggung, mendulang simpati, menuai decak kagum dan pujian? Tidakkah semua itu terlalu berlebihan mengingat apa yang ia hasilkan berupa coretan yang diunggah di sosial media, itupun berasal dari produk plagiarisme? Seremeh itukah arti literasi bagi masyarakat kita? Serendah itukah akal manusia sehingga lekas terpesona dengan hal-hal yang belum terang kebenarannya, belum jelas asal usulnya? Ahh... Pantas saja manusia-manusia ini lekas percaya pada Aa’ Gatot, First Travel, dan Kanjeng Taat Pribadi. Pantas saja manusia-manusia ini lekas tergoda pada ISIS dan langsung tandatangan ketika disodori formulir keanggotaan.

Ingin rasanya memakinya, menghardiknya, mengatakan segala isi kebun binatang dan isi dalam celana, seperti yang dilakukan para netizen lainnya. Bahkan saya juga ingin meninjunya, melenyapkannya dari muka bumi untuk selama-lamanya agar namanya tak lagi menghiasi dunia literasi. Rasa kesal sudah berada pada ambang batas hingga membuat saya kelelahan.

Tapi apa yang saya lakukan kemudian? Saya memilih untuk berada dalam koridor etika dan kesopanan. Saya memilih untuk merawat nalar agar emosi tak tumpah ruah yang hanya akan mencederai martabat dan harga diri. Saya memilih mengawal diri agar tak tenggelam dalam emosi buruk dan berlebihan.

Dan hal lainnya, saya tak ingin memerangi kejahatan dengan kejahatan berikutnya. Karena ketika saya mulai melontarkan caci maki, sumpah serapah dan segala kata-kata sarkastis, maka di ketika itu juga saya telah membuka kran bully dan membuat diri saya menjadi bagian dari pelaku kejahatan yang tadinya sangat saya benci.

Saya memang geram pada perempuan 18 tahun itu. Teramat sangat! Tapi saya benci mendengar orang-orang saling mem-bully dan melontarkan bahasa-bahasa keji. Karena saya pernah berada pada posisi itu, pernah di-bully meski dalam perkara berbeda. Rasanya mengerikan. Seakan death eater telah mengepungmu dari segala penjuru dan siap-siap menjatuhkanmu ke Azkaban.

Akhirnya saya putuskan untuk mengangkat kisah itu melalui sebuah artikel yang kemudian dimuat di Harian Analisa. Saya tuliskan perkara plagiarisme dalam dunia literasi, memaparkan kejahatan dan efek yang ditimbulkannya. Dengan harapan agar para pembaca khususnya mereka yang bergelut di dunia ‘hard field’ ini bisa memahami bahwa butuh ekstra kerja keras dan proses yang panjang untuk menjadi terkenal. Karena itu kejahatan plagiarisme, apapun alasannya sangat haram dilakukan.

***

Kembali pada persoalan di atas. Meski saya belum tahu betul apa maksud di balik pemotretan untuk majalah Bridal tersebut, apakah sebagai campaigne berisi edukasi untuk melindungi Otan atau memang Otan dijadkan sarana komersialisasi, namun Luna Maya yang sempat menjadi duta WWF ini,  bersama orang-orang di balik projek tersebut memang benar telah melakukan kesalahan. Akan tetapi mengebiri mereka dengan pisau kata-kata sungguh tidak bisa dibenarkan.

Saya, anda, dan kita semua mengalami proses tumbuh dan berkembang. Kita bermetamorfosa dari bayi, balita, anak kecil, hingga se-dewasa ini. Itu artinya, kita pernah berada pada fase tidak mengetahui apa-apa, kurang wawasan, atau blank. Kita semua pernah ‘bodoh’, kalau hendak menggunakan istilah ‘bodoh’ bagi orang yang tidak/belum memahami sesuatu. Jadi, tak bisakah orang-orang yang mengaku pintar ini sedikit berempati pada mereka yang dianggap bodoh, bloon, stupid? Tak bisakah orang-orang yang mengaku pintar ini menjelaskan apa-apa yang perlu dijelaskan pada mereka yang bodoh?

Sayangnya kita terbiasa ‘menasehati’ dan ‘mengedukasi’ (meski sebenarnya dua kata ini sangat tidak tepat digunakan) dengan cara-cara jahiliyah. Jika seorang berbuat salah, langsung dimaki kalau memungkinkan ditampar. Kalau orang berbuat jahat, maka dia harus dikeroyok sampai mati. Kalau orang berbuat khilaf, maka dia pantas di-bully, dihardik, dilempar ke publik untuk dihakimi.

Sayangnya kita ini, terlalu angkuh untuk menegur baik-baik. Karena menegur dengan marah-marah di sosial media kita anggap sebagai alat yang pas untuk menciptakan efek jera. Kita sangat enggan melakukan tabayyun, karena meneriaki orang di keramaian kita anggap sebagai cara terbaik untuk mendidik.

Ah, barangkali begitulah selama ini. Manusia, bahkan dalam niatnya untuk berkorban dan berjuang, tak bisa luput dari telaah ala Freud yang menyidik: ketika melakukan itu, nafsu apa gerangan yang berkecamuk di bawah sadarnya? Atau pertanyaan Marxis yang menohok kepentingan apa sebenarnya yang hendak diperjuangkannya? Jangan-jangan kita hanya hendak menarik keuntungan di balik suatu kejadian?

Menegur serampangan di ruang terbuka seperti sosial media (instagram) dengan tujuan mendulang respon publik, meraih dukungan sekaligus ketenaran? Lalu, akun pribadi yang tadinya sunyi sepi dan hanya disukai ratusan atau puluhan user mendadak hits dengan like dan komentar mencapai ribuan. Kita semakin mengudara, sementara orang lain nelangsa, malu dan trauma.

Semoga dugaan saya salah. Karena saya tahu masih ada orang-orang yang berhati tulus memperjuangkan sesuatu tanpa embel-embel materi, demi hits dan attensi, atau bahkan popularitas. Masih ada orang-orang yang merasa tidak perlu membuktikan apapun pada siapapun (termasuk pada sosial media) bahwa selama ini ia lah yang bertugas menjaga jagad raya dan penghuninya. Kendati tak banyak.

Namun ada hal lain yang bisa dipelajari dari hal ini. Bahwa reaksi kemarahan yang bermuara ke dalam caption sarkasme di akun instagram tersebut menjadikan sikap dan fokus netizen ikut buyar. Yang concern pada eksploitasi Otan tiba-tiba menjelma ahli atau aktivis paling senior yang menjelaskan perkara hewan liar, satwa dilindungi, kehidupan hewan langka berikut undang-undangnya, dan menyerang Luna Maya beserta tim dengan bahasa sarkasme yang sama bahkan lebih ganas dari sebelumnya. Namun tak sedikit dari netizen yang protes terhadap caption yang membuka celah bully tersebut. Sehingga orang-orang yang tadinya diharap awas dan care pada Otan, secara tak sengaja me-high light tajamnya kata-kata.

Untuk dicatat dan dipahami baik-baik bahwa saya tidak berada di barisan penggemar Luna Maya. Meski saya memang memiliki kekaguman pada beberapa artis tertentu, namun untuk nge-fans saya merasa belum perlu. Kesimpulannya, tulisan ini murni memaparkan kejahatan eksploitasi terhadap hewan langka dan dilindungi dalam hal ini Otan, dan juga berusaha menunjukkan kejahatan yang tak kalah mengerikannya yaitu: caption ‘mengedukasi’ ala jahiliyah yang diunggah di sosial media hingga pada akhirnya menyuburkan sekaligus melegitimasi prilaku bully di dunia cyber.

Untuk orang pintar ini, saya ucapkan selamat karena berhasil menegaskan sanksi moral pada orang lain, dan itu masih berlangsung sampai sekarang, sekaligus membuatnya menanggung malu, trauma, dan segala dampak emosional yang akan menetap pada diri orang tersebut selama bertahun-tahun. Selamat karena telah berhasil ‘memberi wawasan’ mengenai Otan pada netizen sekaligus menjadi bagian dari mereka yang menganut paham ‘orang yang salah (orang bodoh) harus dibully dan dihakimi’.


Tag: Orangutan, satwa liar, satwa dilindungi, majalah bridal, luna maya, eksploitasi, komersialisasi, bully, sosial media, aya diandara, aktivis satwa liar, cyber, sarkasme, poto, instagram.

COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: Antara Eksploitasi dan Bully
Antara Eksploitasi dan Bully
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKhNgBSZXWZY39zCB0b8rZ1KMXK1QjOzeHJkku9bje42_kUdzxSP9Caw6PE1V0F9tFlKo0U-GfkvAqUVma_HQlgD3ozCQq5Qt5rTdKjJ0cO9kDHYJLJ0ONZDwcVgVzmLR_SGXCNVE53oM/s640/Lunamaya+dan+Orang+Utan.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKhNgBSZXWZY39zCB0b8rZ1KMXK1QjOzeHJkku9bje42_kUdzxSP9Caw6PE1V0F9tFlKo0U-GfkvAqUVma_HQlgD3ozCQq5Qt5rTdKjJ0cO9kDHYJLJ0ONZDwcVgVzmLR_SGXCNVE53oM/s72-c/Lunamaya+dan+Orang+Utan.jpg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/10/antara-eksploitasi-dan-bully.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/10/antara-eksploitasi-dan-bully.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy