Ketika ayah berujar "Ketua kami melarang demonstrasi dengan mengenakan atribut dan simbol-simbol", aku langsung tahu ke mana a...
Ketika ayah berujar "Ketua kami melarang demonstrasi dengan mengenakan atribut dan simbol-simbol", aku langsung tahu ke mana arahnya. Tentu yang ia maksud pastilah Said Aqil Siradz, ketua PBNU.
Dalam darah ayahku mengalir NU. Meski tidak sekental ayahnya, atau atokku.
Dan siang tadi, aku melihat Said Aqil Siradz di Metro TV. Ia menegaskan kembali alasan terbentuknya NU. "Bahwa NU didirikan para Kyai dan ulama bukan untuk demonstrasi, bukan untuk anarki. Tapi concern pada pendidikan, perdamaian, kebudayaan, keagamaan."
Begitulah seharusnya posisi para Kyai dan Ulama. Mereka hadir di tengah-tengah bangsa tak lain adalah untuk menjadi penyuluh sebuah gulita. Mereka datang untuk merekatkan keberagaman bukan malah mencerai beraikan. Mereka tumbuh untuk mendamaikan bukan malah memporak-porandakan. Mereka di sini bukan untuk memprovokasi melainkan berdiplomasi. Mereka menyeru kepada kebaikan, bukan kekerasan.
Akhir-akhir ini, di tengah hiruk pikuk Pemilukada Jakarta, kita sangat mudah tersulut emosi. Kita yang hidup di era sosial media, yang katanya berperadaban rupanya tengah mengalami kemunduran. Kita rela dipolitisasi. Kita terbiasa dengan fitnah dan adu domba. Kita telan bulat-bulat informasi yang entah berasal dari mana. Kita serap kabar berita lewat sosial media yang tak jelas tuannya. Kita kobarkan amarah. Kita hidupkan kebencian. Kita seret rakyat yang tak tahu apa-apa ke dalam pusaran konflik. Akhirnya kerukunan yang kita cita-citakan hanyalah sebuah kata usang yang nasibnya luruh pada selembar kertas.
Sebenarnya apa yang kita tuju? Apa yang kita bela? Apa kita mengharapkan berpolitik adalah penguasa yang bertindak baik-baik saja?
Tidaklah realistis ketika kita mengandaikan bahwa penguasa harus baik. Adakalanya mereka harus tidak baik. Berkaca pada fatwa Machiavelli, bahwa kebutuhan-kebutuhan akan kehidupan politik seringkali mengharuskan terjadinya pelanggaran hukum moral.
Dalam hal ini bukan berarti kita memaklumi setiap pelanggaran yang dilakukan penguasa. Akan tetapi di NKRI, kita hidup di bawah payung hukum, kita memiliki hukum yang berfungsi dengan cukup baik, yang dapat menjangkau siapapun.
Jadi menuju 4 November nanti, saya sangat mengharapkan peran para Kyai dan Ulama agar bersatu padu mengawal demonstrasi ke arah yang tepat bukan menggiringnya ke arah yang sesat. Agar aksi menghasilkan solusi bukan malah melahirkan petaka dan hanya kesia-siaan belaka.
Di akhir tulisan ini, izinkan saya mengutip kalimat seorang tokoh besar ketika ia menyampaikan ceramahnya di pertemuan Indonesia-Pakistan Cultural Association, 9 Desember 1953. Seorang lelaki yang digelari Soekarno sebagai The Grand Old Man, seorang yang memiliki nama Masjhudul Haq, dan beliau adalah H. Agus Salim
"Tuhan tidak pernah meminta kepada manusia untuk membantuNya memerangi kebatilan. Tapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk berdoa memohon bantuan Tuhan dalam memerangi kebatilan"

COMMENTS