KPK Bukan Wanita Cantik, Genit Dan Menggoda

Pada 3 Oktober 2017 kemarin, sebuah televisi swasta yang cukup populer (Indonesia Lawyer Club) di kalangan masyarakat Indonesia menaya...


Pada 3 Oktober 2017 kemarin, sebuah televisi swasta yang cukup populer (Indonesia Lawyer Club) di kalangan masyarakat Indonesia menayangkan acara debat publik yang mengangkat tema anyar mengenai dikabulkannya permohonan Pra Peradilan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto. Adapun nara sumber yang  diundang diantaranya juru bicara KPK, pakar hukum pidana, mantan hakim, politisi Partai Golkar dan beberapa tokoh lainnya. Kesemuanya diberi kesempatan menyampaikan argumen maupun pandangan atas perkara tersebut.

Namun yang menarik ketika seorang politisi Partai Golkar Maman Abdurrahman menyampaikan pandangannya tentang Komisi Anti Rasuah tersebut. Di tengah testimoni panjang dan berapi-api itu Maman menghadiahi KPK sebuah analogi bahwa lembaga yang berdiri di akhir tahun 2002 ini tak ubahnya perempuan cantik nan seksi, tapi sangat genit. Masih menurut beliau, KPK dengan modal kecantikan dan keseksiannya itu senantiasa menggoda siapapun untuk menarik perhatian.

Berbicara mengenai analogi, bentuk kiasan ini sudah dikenal luas dan banyak dipergunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau tidak, masyarakat acap menyelipkan sebuah analogi ketika mereka berkomunikasi dengan tujuan untuk lebih memudahkan lawan bicara memahami apa yang dimaksudkannya. Namun saya tidak mengetahui pasti apakah analogi yang dilontarkan MB merupakan efek dari kegeramannya atas diusiknya Ketua Umum PG (seperti jamak kita ketahui KPK menetapkan SN sebagai tersangka tanggal 17 Juli 2017 berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: Sprin.Dik56/01/07/2017), atau karena keterbatasan bahasa membuat beliau tak menemukan analogi lain untuk mendeskripsikan KPK.

Bila merujuk beberapa penjelasan dari para ahli seperti Abdul Chaer dan Poespoprodjo, analogi tidak dapat dibuat secara sembarangan karena analogi memerlukan alat ukur untuk menilai kesahihan dan ketepatan analogi itu sendiri.

Tadinya saya sudah mencoba membuat kerangka penulisan serta menyiapkan beberapa referensi untuk menjabarkan perkara analogi. Akhirnya saya urungkan karena saya tahu analogi berada pada wilayah bahasa dan sastra Indonesia yang mana hal tersebut bukan spesialisasi saya. Saya tak ingin memaksakan diri dan tak pandai mencampuri wilayah orang lain. Saya hanya mengetahui sedikit, hanya di permukaan. Namun yang sedikit itu tak cukup membuat saya berani menjabarkan perihal analogi layaknya pengamat linguistik atau pakar bahasa dan logika semantik.

Menulis adalah suatu pekerjaan dimana seseorang dapat menyampaikan ide, gagasan, pemikiran maupun cara pandangnya kepada para pembaca. Namun menulis tidak melulu perkara hits, berburu popularitas, atau berlomba cepat update dari orang lain. Akan tetapi menulis merupakan sebuah tanggung jawab dunia akhirat yang harus diingat dan dipegang erat-erat. Sehingga segala tulisan yang diunggah ke ruang publik harus lebih dulu melalui sensor tegas seperti: dilengkapi data dan sumber yang valid, tidak plagiat, berdasarkan fakta konkrit bukan mengada-ada, sehingga tulisan tidak bermuatan falasi yang dapat menyebabkan kekeliruan, memutar balik fakta, serta pembodohan publik.

Lagipula saya bukan generalis –tahu banyak hal tapi hanya memahami sedikit-sedikit sehingga praktis sebetulnya tidak ada cabang ilmu yang dikuasai secara lebih mendalam dan memadai, maupun paralogis –pelaku sesat pikir yang tidak menyadari akan sesat pikir yang dilakukan. Jadi, biar kita tunggu respon dan opini para ahli untuk menjelaskan perkara analogi ini berdasarkan ilmu dan spesifikasi mereka. Dan mengenai MB, untuk membantah analogi yang ia sampaikan kemarin saya hanya akan mengacu pada isu gender dan sisi politisnya.

Simon De Beauvoir dalam The Second Sex mengatakan "dan memang tak ada seorang pun yang lebih arogan, lebih agresif atau lebih menghina perempuan kecuali laki-laki yang merasa cemas akan kejantanannya". Pernyataan ini cukup tepat jika ditujukan pada analogi MB karena telah membuat analogi yang sangat tidak tepat dan tidak relevan untuk menggambarkan sebuah lembaga anti korupsi.

Perempuan dalam peranannya di dunia yang amat lekat dengan sistem patriarkal ini memang memiliki ruang gerak terbatas. Bahkan sejarah juga berperan menjadikan perempuan makhluk kelas dua dan tidak diperhitungkan. Sehingga stereotif yang muncul dan berkembang adalah bahwa keahlian mereka hanya berputar pada sumur, kasur, dapur atau berprofesi sebagai tukang masak, mengerjakan urusan rumah tangga, dan sebagai kawan berasyik masyuk di tempat tidur (untuk tidak mengatakan pelacur). Sayangnya di era modernitas, pandangan purba mengenai perempuan tak hendak lekang seolah ditempel menggunakan perekat. Sehingga muncullah analogi (kiasan) seperti yang disebutkan MB tadi.

Memang benar bahwa masih ada perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai wanita penggoda. Juga fakta bahwa ada perempuan yang menjadikan tubuhnya sebagai komoditas untuk menarik perhatian lelaki yang tak mampu mengendalikan syahwat. Namun perempuan tak dapat serta merta dijadikan objek untuk menggambarkan sesuatu dengan tujuan agar lebih mudah dipahami. Terlebih penggambaran tersebut berasal dari laki-laki. Karena “apa saja yang pernah ditulis dan dikatakan laki-laki mengenai perempuan harus dicermati sebab laki-laki berperan sebagai hakim sekaligus penuntutnya.” ujar Poulain de la Bare, feminis abad-17.

Saya tidak menyarankan saudara MB mengganti analogi ‘perempuan cantik tapi menggoda’ dengan analogi ‘laki-laki gagah tapi hidung belang’ kendati di negara ini kita juga sering menemukan lelaki berperangai demikian. Akan tetapi pembahasan mengenai perempuan dan laki-laki tidak beranjak pada wacana superior dan inferior atau perkara kesetaraan. Keduanya tak layak dan tak elok ditempatkan sebagai proyek komparasi.

Jika MB sangat geram dan jengkel terhadap sepak terjang KPK, alangkah tepatnya jika MB menganalogikan KPK sebagai ‘bangunan megah dan mewah tapi di dalamnya berisi kesemerawutan penuh jelaga dan kekacauan’.  Tiga kata terakhir ini mengacu pada keterangan Direktur Penyidik KPK, Aris Budiman saat beliau memaparkan ‘skandal’ internal KPK pada Rapat Dengar Pendapat di DPR baru-baru ini. Atau analogi lain yang juga cukup relevan ‘KPK sebagai suatu tubuh yang sehat secara fisik namun memiliki jiwa yang rapuh dan sakit’. Analogi ini akan terasa sesuai mengingat KPK persis bangunan megah dan mewah yang membuat orang terkagum-kagum atau suatu tubuh menawan yang memiliki daya pikat namun ternyata didalamnya tersimpan bakteri dan kuman.

Adapun sisi politis dari pernyataan yang disertai analogi tersebut, dapat digunakan sebagai alat propaganda –mengingat sifat analogi (kiasan) yang ringkas, sederhana dan mudah dicerna- sehingga efektif untuk mempengaruhi masyarakat menggunakan analogi serampangan tersebut dan menabalkannya pada KPK.

Tapi kalau dipikir baik-baik, jika saudara MB merasa tidak ada penyimpangan atau perkara lancung pada diri SN, ya sebaiknya tak perlu risau bila digoda wanita cantik, tak perlu bernafsu ketika dihadapkan akan kemolekan tubuhnya.



Tag: KPK, komisi anti korupsi, Maman Abdurrahman, analogi, ILC, perempuan, Simon De Beauvoir, The Second Sex, gender, politik, setya novanto, bahasa

COMMENTS

Name

asian games 2018 , 1 , asiangameskita , 1 , ayah , 1 , ayam geprek , 1 , ayam geprek kota medan , 1 , BPOM , 1 , cerpen , 1 , energiasia , 1 , event , 4 , Headline , 25 , I am geprek bensu , 1 , kateter , 1 , KISAH , 14 , perspektif , 33 , prostat , 1 , review , 3 , sakit , 1 ,
ltr
item
Perspektif: KPK Bukan Wanita Cantik, Genit Dan Menggoda
KPK Bukan Wanita Cantik, Genit Dan Menggoda
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge74Q-bCcAVgh9JMbPgzdhk6XuAR-3N5pQRM-tdGiTiKnj3roIWzceyIpXfHWA1yKflhbwg_o3GN6n9DMpsHNBP40kL34tUvmFfh5G3FoBL2eZAp0lTYOjtapx16VabMmK83BUdkEvRbw/s640/KPK.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge74Q-bCcAVgh9JMbPgzdhk6XuAR-3N5pQRM-tdGiTiKnj3roIWzceyIpXfHWA1yKflhbwg_o3GN6n9DMpsHNBP40kL34tUvmFfh5G3FoBL2eZAp0lTYOjtapx16VabMmK83BUdkEvRbw/s72-c/KPK.jpg
Perspektif
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/10/kpk-bukan-wanita-cantik-genit-dan.html
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/
https://dinnafnorris.blogspot.com/2017/10/kpk-bukan-wanita-cantik-genit-dan.html
true
2888535187332573494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy